Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
ilustrasi jenang pepakan (vecteezy.com/Roy Anditya Kusworo)

Jenang menjadi salah satu sajian khas Jawa yang sering dijumpai dalam berbagai acara. Hidangan berbahan dasar tepung, beras, ketan, dan umbi-umbian ini punya banyak variasi dengan tekstur serta rasa yang berbeda.

Salah satu sajian yang menarik untuk dicoba adalah jenang pepakan, yaitu campuran beberapa jenis bubur dan jenang yang disajikan dalam satu wadah. Kalau ingin menikmati beberapa jajanan tradisional sekaligus dalam satu sajian, yuk coba resep jenang pepakan khas Jawa ini!

Bahan Jenang Pepakan Khas Jawa

ilustrasi bahan jenang pepakan (vecteezy.com/ast007392369)

Bahan bubur mutiara:

  1. 100 gram sagu mutiara

  2. 700 ml air

  3. 2 sdm gula pasir

  4. 1 lembar daun pandan

Bahan bubur ketan hitam:

  1. 100 gram beras ketan hitam

  2. 700 ml air

  3. 80 gram gula merah, sisir

  4. 2 sdm gula pasir

  5. 1 lembar daun pandan

  6. Sejumput garam

Bahan jenang telo:

  1. 250 gram ubi jalar, kupas dan potong

  2. 400 ml santan

  3. 3 sdm tepung tapioka

  4. 50 gram gula pasir

  5. 1 lembar daun pandan

  6. Sejumput garam

Bahan bubur sumsum:

  1. 75 gram tepung beras

  2. 600 ml santan

  3. 1 lembar daun pandan

  4. ½ sdt garam

Bahan jenang candil:

  1. 100 gram tepung ketan

  2. 80–100 ml air hangat

  3. Sejumput garam

  4. 500 ml air untuk merebus

  5. 100 gram gula merah, sisir

  6. 1 lembar daun pandan

  7. 1 sdm tepung tapioka, larutkan dengan 2 sdm air

Bahan kuah santan:

  1. 500 ml santan

  2. 1 lembar daun pandan

  3. ½ sdt garam

Cara Membuat Jenang Pepakan Khas Jawa

ilustrasi membuat jenang pepakan (vecteezy.com/Towfiqu ahamed barbhuiya)
  1. Masak bubur ketan hitam terlebih dahulu. Cuci beras ketan hitam sampai bersih, lalu rendam selama minimal 2 jam agar lebih cepat empuk. Rebus bersama air dan daun pandan menggunakan api kecil. Aduk sesekali supaya bagian bawah panci tidak lengket.

  2. Setelah ketan mulai lunak dan airnya menyusut, masukkan gula merah, gula pasir, serta sejumput garam. Aduk sampai gula larut dan tekstur bubur mengental. Angkat setelah ketan benar-benar empuk, lalu sisihkan.

  3. Siapkan bubur mutiara. Didihkan air bersama daun pandan, kemudian masukkan sagu mutiara. Masak sambil sesekali diaduk sampai butiran berubah bening dan tidak menyisakan bagian putih di tengahnya. Tambahkan juga gula pasir, aduk sampai larut, lalu segera matikan api.

  4. Buat jenang telo. Kukus atau rebus potongan ubi jalar sampai empuk, kemudian haluskan selagi masih hangat sampai teksturnya lembut. Sisihkan terlebih dahulu.

  5. Larutkan tepung tapioka dengan sebagian santan dingin, lalu aduk sampai tidak ada gumpalan. Masukkan ubi jalar yang sudah dihaluskan ke dalam panci bersama sisa santan, gula pasir, garam, dan daun pandan. Masak menggunakan api kecil sambil diaduk sampai seluruh bahan menyatu.

  6. Tuangkan larutan tepung tapioka sedikit demi sedikit ke dalam campuran ubi. Aduk terus sampai jenang mengental, terasa kenyal, dan tidak berbau tepung mentah. Angkat lalu sisihkan.

  7. Racik bubur sumsum. Larutkan tepung beras dengan sebagian santan sampai tidak ada gumpalan. Panaskan sisa santan bersama daun pandan dan garam, kemudian tuangkan larutan tepung secara perlahan sambil terus diaduk.

  8. Masak bubur sumsum dengan api kecil sampai teksturnya lembut dan mengental. Aduk secara konsisten agar bagian bawahnya tidak menggumpal atau gosong. Setelah matang, angkat dan biarkan sedikit hangat.

  9. Bentuk jenang candil. Masukkan tepung ketan dan garam ke dalam wadah. Tuangkan air hangat sedikit demi sedikit sambil diuleni sampai adonan bisa dipulung dan tidak mudah retak. Ambil sedikit adonan, lalu bulatkan dengan ukuran kecil hingga seluruh adonan habis.

  10. Didihkan air bersama gula merah dan daun pandan dalam panci. Masukkan bola-bola candil, kemudian masak sampai semuanya mengapung dan bagian dalamnya matang. Tuangkan larutan tepung tapioka sedikit demi sedikit sambil diaduk sampai kuah gula merah menjadi agak kental.

  11. Campurkan santan, daun pandan, dan garam dalam panci terpisah. Panaskan dengan api kecil sambil terus diaduk agar santan tidak pecah. Matikan api ketika santan sudah panas dan hampir mendidih, lalu biarkan suhunya turun.

  12. Tata semua jenang dalam satu wadah. Ambil bubur mutiara, ketan hitam, jenang telo, bubur sumsum, dan candil secukupnya. Letakkan secara berdampingan atau berkelompok di atas piring saji beralas daun pisang.

  13. Siram seluruh bagian jenang dengan kuah santan sesuai selera. Tambahkan sedikit kuah gula merah dari candil jika ingin rasa manis yang lebih kuat. Jenang pepakan siap disajikan.

Tips Membuat Jenang Pepakan khas Jawa

ilustrasi jenang pepakan (commons.wikimedia.org/Fhikri Latifi)
  1. Rendam ketan hitam sebelum direbus. Ketan hitam membutuhkan waktu cukup lama untuk menjadi empuk. Perendaman selama beberapa jam bisa membantu mempercepat proses memasak dan membuat teksturnya lebih merata.

  2. Jangan terlalu sering mengaduk sagu mutiara. Aduk secukupnya agar butiran tidak saling menempel, tetapi hindari mengaduk terlalu kuat karena sagu yang sudah lunak bisa hancur. Jika masih ada bagian putih di tengah, lanjutkan memasak sampai matang.

  3. Pilih ubi jalar yang rasanya manis alami. Ubi berwarna oranye atau kuning bisa digunakan untuk menghasilkan jenang telo dengan warna menarik. Sesuaikan jumlah gula setelah ubi dihaluskan karena tingkat kemanisan setiap jenis ubi bisa berbeda.

  4. Perhatikan takaran tepung tapioka untuk jenang telo. Larutkan tapioka dengan santan dingin sebelum dicampurkan ke ubi agar tidak menggumpal. Masukkan sedikit demi sedikit sambil melihat kekentalannya supaya jenang tidak terlalu padat atau kenyal.

  5. Saring larutan tepung untuk bubur sumsum. Jika masih ada gumpalan setelah tepung beras dicampur santan, saring terlebih dahulu sebelum dimasak. Cara ini membantu menghasilkan bubur sumsum yang lebih halus.

  6. Buat candil dengan ukuran seragam. Bola-bola yang ukurannya hampir sama akan matang dalam waktu berdekatan. Jangan membuatnya terlalu besar agar bagian tengah tidak masih mentah ketika bagian luarnya sudah mengapung.

  7. Atur kekentalan kuah santan. Santan yang terlalu kental bisa membuat rasa gurihnya mendominasi seluruh jenang. Jika ingin kuah lebih ringan, tambahkan sedikit air sebelum dipanaskan.

  8. Gunakan daun pisang sebagai alas penyajian. Daun pisang memberikan tampilan tradisional yang lebih menarik dan cocok dengan karakter jenang pepakan. Bersihkan daun terlebih dahulu, lalu layukan sebentar agar lebih lentur ketika digunakan.

  9. Sajikan kuah santan secara terpisah jika belum langsung dimakan. Setiap jenis bubur bisa disimpan dalam wadah berbeda, sedangkan santan diletakkan dalam wadah tertutup di kulkas. Racik secukupnya menjelang penyajian agar tekstur masing-masing jenang tetap terjaga.

Jenang pepakan punya daya tarik dari banyaknya tekstur dan rasa yang bertemu dalam satu sajian. Ada mutiara yang kenyal, ketan hitam yang legit, ubi jalar yang lembut, sumsum yang halus, serta candil dengan kuah gula merah yang manis. Disiram santan gurih dan disajikan di atas daun pisang, sajian tradisional ini cocok dinikmati bersama keluarga di rumah.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article