Sulit Fokus dan Gampang Lelah? Ini 3 Kebiasaan Otak yang Berbahaya

Multitasking justru menurunkan kemampuan memori dan konsentrasi karena otak harus terus berpindah fokus, bahkan bisa memengaruhi struktur otak yang mengatur perhatian dan kontrol diri.
Konsumsi konten digital secara pasif membuat otak kurang aktif berpikir, menurunkan kemampuan kritis serta daya ingat karena informasi diterima tanpa benar-benar diproses.
Menghindari kesulitan saat berpikir melemahkan kemampuan belajar dan problem solving, padahal tantangan kognitif penting untuk membangun koneksi otak yang kuat dan daya ingat jangka panjang.
Pernah merasa otak cepat capek padahal aktivitas fisik gak terlalu berat? Atau kamu gampang terdistraksi meski lagi ngerjain hal penting? Kondisi ini ternyata makin sering dialami banyak orang di era digital sekarang, lho.
Banjir informasi bikin otak terus bekerja tanpa jeda yang sehat. Tanpa sadar, ada kebiasaan kecil sehari-hari yang justru mengikis kemampuan fokus dan daya pikir. Yuk, cek apakah kamu juga melakukannya dan mulai perbaiki dari sekarang.
1. Sering multitasking

Multitasking sering dianggap sebagai tanda kamu produktif dan pintar. Padahal kenyataannya justru sebaliknya. Otak sebenarnya gak bisa benar-benar mengerjakan dua tugas berat sekaligus. Setiap kali kamu berpindah fokus, otak butuh energi tambahan untuk menyesuaikan.
Menurut penelitian dalam Proceedings of the National Academy of Sciences, orang yang terbiasa multitasking justru mengalami penurunan kemampuan memori kerja dan konsentrasi. Bahkan, performa kognitif mereka cenderung lebih buruk dibandingkan yang fokus pada satu tugas. Aktivitas berpindah-pindah ini menciptakan “noise” mental yang bikin otak cepat lelah. Dampaknya, kamu merasa sibuk tapi hasilnya gak maksimal.
Kebiasaan ini juga berpengaruh pada struktur otak. Menurut penelitian dalam PLOS One, individu dengan tingkat multitasking tinggi memiliki kepadatan gray matter lebih rendah di area otak yang mengatur fokus dan kontrol diri. Kondisi ini berkaitan dengan kemampuan mengatur perhatian dan mengambil keputusan. Artinya, multitasking bukan cuma soal kebiasaan, tapi juga bisa memengaruhi fungsi otak dalam jangka panjang.
Mulai sekarang, coba biasakan menyelesaikan satu tugas sebelum pindah ke yang lain, ya. Fokus mendalam mungkin terasa lebih lambat di awal, tapi hasilnya jauh lebih efektif. Otak juga jadi lebih terlatih untuk bekerja secara optimal tanpa cepat kelelahan.
2. Konsumsi konten secara pasif

Scroll media sosial berjam-jam memang terasa santai, tapi sebenarnya bikin otak kurang aktif berpikir. Kamu mungkin merasa sudah menyerap banyak informasi, padahal gak benar-benar memprosesnya. Konten yang muncul secara otomatis membuatmu hanya menerima tanpa menganalisis.
Menurut penelitian dalam Frontiers in Cognition, paparan konten digital yang dikurasi algoritma berkaitan dengan penurunan kemampuan berpikir kritis dan pengambilan keputusan. Partisipan dalam studi tersebut cenderung kesulitan menilai kredibilitas informasi setelah sering terpapar konten instan. Otak jadi terbiasa “menyerahkan” proses berpikir ke sistem luar. Kondisi ini dikenal sebagai cognitive offloading.
Efek lainnya, kamu jadi jarang melatih kemampuan mengingat. Informasi yang dikonsumsi hanya lewat begitu saja tanpa benar-benar disimpan. Akibatnya, kamu merasa cepat lupa dan sulit fokus saat dibutuhkan. Kebiasaan ini juga mengurangi kemampuan membentuk opini sendiri.
Coba ubah cara konsumsi konten kamu. Setelah membaca atau menonton sesuatu, beri jeda sebentar untuk mencerna isinya. Pikirkan pendapatmu sendiri sebelum lanjut ke konten berikutnya. Cara sederhana ini bisa membantu otak bekerja lebih aktif dan tajam.
3. Menghindari rasa gak nyaman saat berpikir

Otak secara alami suka hal yang mudah dan cepat. Kamu mungkin lebih memilih ringkasan daripada membaca panjang, atau langsung cari jawaban tanpa mencoba berpikir dulu. Kebiasaan ini terasa efisien, tapi justru melemahkan kemampuan belajar, lho.
Menurut penjelasan Robert Bjork, seorang psikolog kognitif dari UCLA, proses belajar yang efektif justru melibatkan “desirable difficulties” atau kesulitan yang bermanfaat. Saat kamu merasa kesulitan memahami sesuatu, otak sebenarnya sedang membangun koneksi yang lebih kuat. Proses ini penting untuk daya ingat jangka panjang.
Menghindari tantangan membuat otak kehilangan kesempatan untuk berkembang. Kamu jadi terbiasa dengan solusi instan tanpa benar-benar memahami prosesnya. Lama-lama, kemampuan berpikir kritis dan problem solving ikut menurun. Akibatnya, kamu lebih cepat merasa buntu saat menghadapi masalah.
Mulailah biasakan diri untuk bertahan sedikit lebih lama saat menghadapi kesulitan. Coba pahami materi tanpa langsung mencari jawaban instan. Diskusi dengan sudut pandang berbeda juga bisa melatih fleksibilitas berpikir. Perlahan, otak kamu akan lebih kuat dan tahan terhadap tekanan mental.
Sulit fokus dan gampang lelah ternyata gak selalu disebabkan kurang istirahat. Ada kebiasaan sehari-hari yang diam-diam memengaruhi cara kerja otak kamu. Multitasking, konsumsi konten pasif, dan menghindari tantangan kognitif bisa jadi penyebab utamanya.
Kabar baiknya, semua kebiasaan ini bisa diubah pelan-pelan. Otak punya kemampuan adaptasi yang luar biasa selama kamu mau melatihnya. Mulai dari hal kecil hari ini, supaya fokus dan energi mental kamu kembali optimal.
![[QUIZ] Kalau Punya Anak, Kamu Bakal Jadi Tipe Bapak Seperti Apa?](https://image.idntimes.com/post/20250517/premium-photo-1664279990106-9f5c41bd7f5a-b87dbf88049ea09327ded00ec8bf5046-e7f7326c95d633244190a220a2836080.jpeg)




![[QUIZ] Outfit Lari Favoritmu Bisa Ungkap Sifat Aslimu, Cek di Sini!](https://image.idntimes.com/post/20260203/pexels-pexels-latam-478514802-17979561_6765dd90-2ab9-4046-b7a4-2a6ac5538aef.jpg)







![[QUIZ] Apa Workout Personality Kamu di Gym?](https://image.idntimes.com/post/20250603/untitled-design-3-8656588e425b787fe5f397b37ec60c04-affd7824b3e5cb6b5ea53484f8fd88e7.png)
![[QUIZ] Kamu Butuh Fisioterapi atau Sports Massage? Cek Lewat Kuis Ini](https://image.idntimes.com/post/20250625/2149871275_9caf12d3-9cfe-4fa7-b91c-85eb210cb65d.jpg)


