Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Penyakit yang Mengintai akibat Terlalu Sering Makan Makanan Manis

5 Penyakit yang Mengintai akibat Terlalu Sering Makan Makanan Manis
pexels.com/Sharon McCutcheon

Camilan manis digemari banyak orang untuk menemani waktu santai. Harus diakui, makanan yang manis memang menggiurkan. Namun, konsumsinya yang terlalu tinggi bisa berdampak negatif. Makanan maupun minuman manis umumnya kurang bernutrisi, tinggi lemak jenis, dan pemanis buatan.

Lebih jauh, konsumsi makanan dan minuman manis dalam jangka panjang dapat meningkatkan berbagai risiko masalah kesehatan seperti di bawah ini.

1. Arteri koroner

Ilustrasi organ jantung. unsplash.com/Robina Weermeijer
Ilustrasi organ jantung. unsplash.com/Robina Weermeijer

Ada dua jenis kolesterol dalam tubuh, yaitu low-density lipoprotein (LDL) alias kolesterol jahat dan high-density lipoprotein (HDL) alias kolesterol baik. 

Pilihan gaya hidup seperti olahraga dan pola makan dapat memengaruhi kadar kolesterol. Menurut sebuah penelitian dalam The Journal of American Medical Association, peningkatan konsumsi makanan manis dapat menurunkan tingkat HDL, yang mana ini merugikan kesehatan jantung

HDL sangat penting bagi tubuh karena membantu menghilangkan kelebihan kolesterol dari darah. Rendahnya kadar HDL memudahkan kolesterol menumpuk di pembuluh darah dan menghambat aliran darah atau memblokirnya, suatu kondisi yang dikenal sebagai penyakit arteri koroner.

2. Penyakit Crohn

ilustrasi sembelit atau konstipasi (freepik.com/wayhomestudio)
ilustrasi sembelit atau konstipasi (freepik.com/wayhomestudio)

Penyakit Crohn adalah penyakit radang usus, yang berarti kondisi tersebut memicu peradangan saluran usus secara terus-menerus. Penyakit ini menyebabkan beberapa efek serius, seperti sakit perut, demam, diare terus-menerus, dan kehilangan nafsu makan.

Menurut University of Maryland Medical Center, pola makan tinggi gula dan lemak jenuh, yang merupakan dua bahan utama pada makanan manis, merupakan faktor risiko utama penyakit Crohn.

3. Diabetes tipe 2

ilustrasi cek gula darah (pexels.com/PhotoMIX Company)
ilustrasi cek gula darah (pexels.com/PhotoMIX Company)

Asupan gula yang berlebihan telah lama dikaitkan dengan meningkatnya risiko diabetes. Obesitas, kondisi yang dianggap sebagai faktor risiko terkuat untuk diabetes sering disebabkan oleh terlalu banyak mengonsumsi camilan manis yang tinggi gula.

Lebih jauh, pola makan tinggi gula secara berkepanjangan berisiko memicu resistansi insulin, suatu hormon yang diproduksi oleh pankreas dan berfungsi mengatur kadar gula darah. Resistansi insulin ini menyebabkan kadar gula darah melonjak dan sangat meningkatkan risiko diabetes.

Sebuah studi yang melibatkan peserta di lebih dari 175 negara menemukan bahwa risiko diabetes berkembang sebesar 1,1 persen untuk setiap 150 kalori gula, atau sekitar satu kaleng soda, yang dikonsumsi per hari. Studi ini telah dilaporkan dalam jurnal PLOS One.

4. Kanker

pexels.com/Pavel Danilyuk
pexels.com/Pavel Danilyuk

Konsumsi gula secara berlebihan mampu meningkatkan risiko terkena kanker tertentu. Penyebabnya, konsumsi makanan dan minuman manis dalam jangka panjang dapat memicu obesitas, yang meningkatkan risiko kanker secara signifikan.

Selain itu, pola makan tinggi gula meningkatkan peradangan di tubuh yang dan berpotensi menyebabkan resistansi insulin, yang keduanya meningkatkan risiko kanker.

Sebuah studi yang melibatkan lebih dari 430 ribu orang menemukan bahwa konsumsi gula tambahan dikaitkan secara positif dengan peningkatan risiko kanker esofagus, kanker pleura, dan kanker usus kecil.

5. Depresi

Ilustrasi pria (unsplash.com/Ben White)
Ilustrasi pria (unsplash.com/Ben White)

Diet sangat memengaruhi suasana hati, dan diet tinggi gula tambahan dan makanan olahan dapat meningkatkan peluang individu untuk mengalami depresi. Diet camilan tinggi gula, seperti kue dan minuman ringan berhubungan dengan meningkatnya risiko depresi.

Ini kemungkinan karena perubahan gula darah, disregulasi neurotransmiter, dan peradangan mungkin menjadi penyebab mengapa makanan tinggi gula berpengaruh negatif terhadap kesehatan mental.

Sebuah studi dalam jurnal Scientific Reports yang dilakukan dengan mengamati 8 ribu orang selama 22 tahun menunjukkan bahwa laki-laki yang mengonsumsi 67 gram atau lebih gula per hari memiliki kemungkinan 23 persen lebih tinggi untuk mengembangkan depresi daripada laki-laki yang makan kurang dari 40 gram gula per hari.

Tentunya kamu tidak ingin mengalami semua masalah di atas di masa depan. Untuk itu, mulai saat ini, segera kurangi konsumsi makanan dan manis, dan gantilah dengan pola makan sehat bergizi seimbang.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Eka Ami
EditorEka Ami
Follow Us

Latest in Health

See More

Apakah Olahraga Malam Bisa Menurunkan Berat Badan?

13 Apr 2026, 20:07 WIBHealth