Dalam satu makanan olahan, ada begitu banyak bahan tambahan atau food additive yang ditambahkan. Tujuannya beragam, seperti untuk mendapatkan tekstur makanan yang diinginkan, meningkatkan cita rasa, atau memperpanjang umur simpan makanan. Meski umumnya aditif makanan itu aman, ada beberapa yang juga berisiko menimbulkan masalah kesehatan, misalnya gangguan kesehatan usus. Apa saja aditif makanan yang bisa mengganggu kesehatan usus? Untuk berhati-hati, yuk, simak ulasannya dalam artikel berikut!
3 Bahan Aditif Makanan yang Berisiko Mengganggu Kesehatan Usus

1. Maltodekstrin
Maltodekstrin adalah bahan tambahan makanan yang sangat umum dijumpai dalam makanan olahan. Bahan aditif ini biasanya digunakan sebagai pemanis, pengawet, pengemulsi, atau penstabil makanan. Kamu bisa menjumpainya pada permen, mayones, biskuit, makanan kaleng, keripik, atau minuman manis kemasan.
Maltodekstrin terbuat dari pati makanan nabati, seperti kentang, jagung, tapioka, atau gandum. Adapun, maltodekstrin bisa menyebabkan kerusakan pada lapisan lendir usus yang dapat memicu peradangan pada usus. Dalam waktu yang lebih lama, ini bisa menyebabkan peradangan usus kronis atau penyakit Crohn.
Tak hanya itu, maltodekstrin juga dapat mengganggu keseimbangan bakteri usus. Bahan ini bisa mendorong pertumbuhan bakteri Escherichia coli dan menekan pertumbuhan bakteri baik (probiotik) alami usus. Selain itu, ia juga bisa mengganggu respons terhadap infeksi bakteri Salmonella yang berbahaya, seperti yang diuraikan laman Verywell Health.
2. Karagenan
Karagenan adalah aditif makanan yang dibuat dari rumput laut merah. Biasanya, bahan ini digunakan untuk mengentalkan atau menstabilkan makanan pada produk es krim, keju, santan, susu nabati (susu almon atau susu kedelai), daging olahan, atau saus salad. Dalam label kemasan, karagenan biasanya dijumpai dengan nama lumut irlandia atau gum karagenan.
Dalam sebuah tinjauan ilmiah yang dimuat Nutrient pada 2024, konsumsi karagenan disebut dapat menyebabkan beberapa masalah usus. Ini bisa memengaruhi kesehatan usus dalam beberapa cara:
menyebabkan ketidakseimbangan mikrobiom usus (ketidakseimbangan bakteri baik dan jahat),
menurunkan toleransi glukosa,
meningkatkan permeabilitas usus (menyebabkan usus bocor), dan
meningkatkan risiko inflamasi (peradangan).
Namun, kerusakan usus akibat karagenan biasanya juga dipicu oleh beberapa faktor. Faktor tersebut termasuk tingkat keasaman sistem pencernaan, kekuatan selaput lendir usus, atau adanya riwayat kerusakan pada sistem pencernaan. Jadi, seseorang yang memiliki masalah kesehatan usus mungkin lebih berisiko saat mengonsumsi karagenan.
3. Natrium nitrat atau nitrit
Saat kamu membeli daging olahan, kamu mungkin menjumpai bahan natrium nitrat atau natrium nitrit pada label kemasan. Ini adalah garam yang ditambahkan pada makanan untuk menjaga warna tetap menarik dan mengawetkan makanan agar tidak cepat rusak. Dalam makanan, senyawa nitrat yang ditambahkan akan diubah oleh bakteri menjadi senyawa nitrit.
Nitrit inilah yang bermanfaat menjaga kualitas daging. Senyawa nitrit yang ditambahkan pada makanan hampir sepenuhnya menghambat pertumbuhan bakteri Clostridium botulinum, yang umum menjadi ancaman dalam makanan kaleng. Selain itu, senyawa ini juga bisa memperlambat pertumbuhan bakteri patogen lain, seperti Listeria monocytogenes.
Meski secara umum senyawa nitrat dan nitrit aman digunakan dalam makanan menurut Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA), kedua senyawa ini bisa membentuk senyawa nitrosamin yang bersifat karsinogenik di dalam tubuh. Ini bisa menyebabkan risiko kanker. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga mengonfirmasi hal tersebut sehingga produk daging olahan sering kali dilabeli dengan “karsinogenik”.
Sebuah ulasan ilmiah yang dimuat dalam Nature Reviews Gastroenterology & Hepatology pada 2024 menjabarkan bahwa mengonsumsi senyawa nitrat dan nitrit dari makanan olahan bisa mengganggu mikrobiom usus yang terkait dengan peradangan. Ini sering dikaitkan dengan risiko kanker kolorektal dan penyakit peradangan usus. Karena adanya potensi bahaya ini, penggunaan senyawa nitrat dan nitrit diatur ketat oleh FDA. Laman Verywell Health melansir FDA membatasi tidak lebih dari 200 ppm natrium nitrit dan 500 ppm natrium nitrat dalam produk makanan siap saji.
Pada era saat ini, makanan olahan atau kemasan memang bisa menjadi pilihan makanan yang mudah dan praktis. Namun, tak sedikit bahan tambahan yang digunakan memiliki risiko kesehatan, salah satunya memengaruhi kesehatan usus. Nah, jika kamu khawatir akan kesehatan sistem pencernaan, menghindari beberapa bahan aditif di atas mungkin bisa meminimalkan risikonya.
Referensi
“3 Food Additives That Can Harm Your Gut Health”. Verywell Health. Diakses April 2026.
“Carrageenan in the Diet: Friend or Foe for Inflammatory Bowel Disease?”. MDPI. Diakses April 2026.
“Disease-Associated Adherent-Invasive Escherichia coli Adhesion Is Enhanced by Exposure to the Ubiquitous Dietary Polysaccharide Maltodextrin”. PLOS ONE. Diakses April 2026.
“Maltodextrin, Modern Stressor of the Intestinal Environment”. National Library of Medicine. Diakses April 2026.
“Ultra-processed foods and food additives in gut health and disease”. Nature. Diakses April 2026.
“What are sodium nitrite and sodium nitrate?”. EWG. Diakses April 2026.
“What is Carrageenan and Should You Remove It from Your Diet?”. Healthline. Diakses April 2026.
“What’s the deal with Nitrates and Nitrites used in meat products?”. Livestock Division of Extension. Diakses April 2026.