Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Cedera yang Paling Sering Dialami Pelari Maraton, Perlu Diwaspadai!
ilustrasi lari marathon (pexels.com/RUN 4 FFWPU)
  • Maraton menuntut daya tahan tinggi dan tekanan berulang pada tubuh, membuat pelari rentan terhadap cedera yang berkembang perlahan akibat akumulasi beban latihan.
  • Lima cedera umum pada pelari maraton meliputi runner’s knee, shin splints, plantar fasciitis, cedera tendon Achilles, dan stress fracture yang memengaruhi lutut hingga tulang kaki.
  • Manajemen latihan, pemanasan cukup, serta waktu pemulihan menjadi kunci penting untuk mencegah cedera dan menjaga performa lari tetap optimal.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Maraton dikenal sebagai salah satu olahraga lari yang menuntut daya tahan fisik tinggi. Jarak tempuh yang panjang membuat tubuh menerima tekanan berulang pada otot, sendi, dan tulang selama berjam-jam. Karena itu, pelari maraton memiliki risiko mengalami berbagai jenis cedera.

Sebagian besar cedera tidak muncul secara mendadak, tetapi berkembang secara bertahap akibat akumulasi beban latihan. Jika tidak ditangani dengan baik, kondisi tersebut dapat mengganggu performa hingga memaksa pelari berhenti berlatih. Berikut beberapa cedera yang paling sering dialami pelari maraton.

1. Runner's knee atau nyeri pada tempurung lutut

ilustrasi sakit pada lutut (freepik.com/freepik)

Salah satu cedera yang paling umum pada pelari maraton adalah runner's knee atau nyeri di sekitar tempurung lutut. Kondisi ini biasanya muncul ketika sendi lutut menerima tekanan berulang selama latihan atau perlombaan jarak jauh. Gejalanya dapat berupa rasa nyeri saat berlari, menaiki tangga, atau bahkan ketika duduk dalam waktu yang lama.

Cedera ini sering dikaitkan dengan ketidakseimbangan otot, peningkatan intensitas latihan yang terlalu cepat, atau pola gerakan yang kurang efisien. Jika tidak ditangani dengan baik, rasa tidak nyaman dapat semakin mengganggu aktivitas latihan sehari-hari. Karena lutut menjadi salah satu area yang menerima beban terbesar saat berlari, kesehatan sendi ini perlu dijaga dengan baik.

2. Cedera pada tulang kering atau shin splints

ilustrasi shin splints (freepik.com/pressfoto)

Nyeri pada bagian depan atau sisi dalam tulang kering sering dikenal sebagai shin splints. Kondisi ini banyak ditemukan pada pelari yang baru meningkatkan jarak tempuh atau intensitas latihan dalam waktu singkat. Rasa nyeri biasanya muncul saat berlari dan dapat bertambah buruk jika tubuh terus dipaksa beraktivitas.

Penyebabnya berkaitan dengan tekanan berulang pada otot, tendon, dan jaringan yang menempel pada tulang kering. Permukaan lari yang keras serta penggunaan sepatu yang kurang sesuai juga dapat meningkatkan risikonya. Jika diabaikan dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi berkembang menjadi cedera yang lebih serius pada tulang.

3. Plantar fasciitis pada telapak kaki

ilustrasi sakit pada telapak kaki (pexels.com/Towfiqu barbhuiya)

Telapak kaki menjadi bagian tubuh yang menerima ribuan benturan selama maraton berlangsung. Salah satu cedera yang cukup sering terjadi adalah plantar fasciitis, yaitu peradangan pada jaringan tebal yang menghubungkan tumit dengan bagian depan kaki. Kondisi ini umumnya ditandai dengan nyeri di area tumit, terutama saat pertama kali melangkah setelah beristirahat.

Cedera ini dapat dipicu oleh peningkatan volume latihan yang terlalu cepat atau kurangnya fleksibilitas pada otot betis dan telapak kaki. Selain mengganggu kenyamanan saat berlari, nyeri yang muncul juga dapat memengaruhi pola langkah sehingga meningkatkan risiko masalah pada bagian tubuh lainnya. Oleh karena itu, kesehatan kaki menjadi aspek penting dalam latihan maraton.

4. Cedera tendon achilles

ilustrasi cedera pada kaki (pexels.com/Kindel Media)

Tendon Achilles merupakan jaringan kuat yang menghubungkan otot betis dengan tulang tumit. Struktur ini berperan penting dalam menghasilkan dorongan ketika kaki menapak dan bergerak ke depan saat berlari. Karena terus bekerja selama aktivitas lari jarak jauh, area ini rentan mengalami iritasi maupun peradangan.

Pada tahap awal, pelari biasanya merasakan nyeri atau kekakuan di bagian belakang pergelangan kaki. Jika tekanan terus berlanjut tanpa pemulihan yang cukup, cedera dapat berkembang menjadi masalah yang lebih serius. Kondisi ini sering ditemukan pada pelari yang meningkatkan intensitas latihan secara agresif atau kurang memperhatikan proses pemanasan.

5. Stress fracture pada tulang

ilustrasi cedera pada kaki (pexels.com/Towfiqu barbhuiya)

Berbeda dengan patah tulang akibat benturan keras, stress fracture terjadi karena akumulasi tekanan kecil yang berlangsung berulang kali. Cedera ini paling sering ditemukan pada tulang kaki, tulang kering, atau tulang telapak kaki yang terus menerima beban selama latihan. Pada awalnya, nyeri mungkin hanya terasa ringan, tetapi dapat semakin memburuk seiring waktu.

Risiko stress fracture meningkat ketika tubuh tidak memiliki waktu yang cukup untuk memperbaiki jaringan tulang yang mengalami tekanan. Faktor seperti kelelahan, kekurangan nutrisi tertentu, dan volume latihan yang berlebihan juga dapat berkontribusi terhadap terjadinya cedera ini. Karena melibatkan jaringan tulang, proses pemulihannya biasanya membutuhkan waktu yang lebih lama dibanding banyak cedera lari lainnya.

Cedera merupakan salah satu tantangan yang harus dihadapi oleh pelari maraton, terutama ketika beban latihan tidak dikelola dengan baik. Memahami jenis cedera yang umum terjadi dapat membantu kita mengenali gejala lebih awal dan mengambil langkah pencegahan yang tepat. Dengan latihan yang baik serta pemulihan yang cukup, risiko cedera dapat ditekan sehingga aktivitas berlari tetap berjalan dengan aman dan nyaman.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article