Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Dianggap Sepele, tapi 8 Benda Ini Bisa Jadi Life-Saver saat Haji

Dianggap Sepele, tapi 8 Benda Ini Bisa Jadi Life-Saver saat Haji
ilustrasi plester luka (unsplash.com/diana_pole)
Intinya Sih
Sisi Positif
  • Pencegahan lebih penting daripada pengobatan di kondisi ekstrem seperti haji.

  • Benda kecil bisa mencegah masalah besar, dari dehidrasi hingga infeksi kulit.

  • Cuaca panas dan aktivitas tinggi membuat perlindungan ekstra jadi krusial.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Cuaca ekstrem, kepadatan jemaah, serta tingkat aktivitas yang tinggi membuat tubuh bekerja lebih keras dari biasanya saat beribadah haji. Dalam kondisi seperti ini, hal-hal kecil yang sering diabaikan justru bisa menjadi penentu apakah tubuh tetap kuat atau mulai tumbang.

Bawaan beberapa koper berisi pakaian dan perlengkapan lainnya, ada benda-benda kecil yang kerap luput dari perhatian. Padahal, benda-benda ini berperan penting dalam mencegah dehidrasi, iritasi kulit, hingga infeksi ringan yang bisa berkembang menjadi masalah serius jika tidak ditangani sejak awal. Apa saja benda-benda yang dimaksud?

Table of Content

1. Oralit (larutan rehidrasi oral)

1. Oralit (larutan rehidrasi oral)

Dehidrasi adalah salah satu risiko terbesar saat haji, terutama karena suhu di Arab Saudi bisa melampaui 40 derajat Celcius. Kehilangan cairan tidak hanya terjadi lewat keringat, tetapi juga melalui pernapasan dan aktivitas fisik intens.

Oralit mengandung kombinasi glukosa dan elektrolit yang membantu tubuh menyerap cairan lebih efektif dibanding air biasa. Larutan rehidrasi oral terbukti menurunkan risiko dehidrasi berat dan komplikasi terkait. Studi juga menunjukkan efektivitas larutan rehidrasi oral dalam menjaga keseimbangan cairan tubuh dalam kondisi ekstrem.

2. Sunscreen

Seorang pria berjanggut mengoleskan sunscreen berwarna putih ke wajahnya menggunakan jari untuk melindungi kulit dari sinar matahari.
ilustrasi jemaah haji mengaplikasikan sunscreen ke wajah (freepik.com/freepik)

Paparan sinar ultraviolet (UV) yang intens dapat menyebabkan sunburn, penuaan dini, hingga meningkatkan risiko kanker kulit. Saat haji, jemaah banyak beraktivitas di luar ruangan tanpa perlindungan optimal.

Penggunaan sunscreen dengan SPF ≥30 direkomendasikan oleh para ahli untuk melindungi kulit dari UVB dan UVA. Penggunaan rutin sunscreen dapat menurunkan risiko melanoma secara signifikan.

3. Plester luka

Lecet akibat gesekan sandal atau sepatu adalah masalah yang sering dialami jemaah. Jika tidak segera ditangani, luka kecil bisa menjadi pintu masuk infeksi, terutama di lingkungan panas dan lembap.

Plester luka membantu melindungi area tersebut dari gesekan lanjutan dan kontaminasi. Perlindungan luka sejak dini mempercepat penyembuhan dan mengurangi risiko infeksi.

4. Lip balm

Seorang pria mengenakan handuk putih di leher sedang mengoleskan lip balm pada bibirnya untuk menjaga kelembapan kulit bibir.
ilustrasi jemaah haji pakai lip balm (freepik.com/freepik)

Bibir kering dan pecah-pecah sering dianggap sepele, tetapi bisa sangat mengganggu, bahkan menyakitkan. Dehidrasi dan paparan matahari memperparah kondisi ini.

Lip balm dengan kandungan emolien membantu menjaga kelembapan dan melindungi barrier kulit bibir. Banyak ahli merekomendasikan penggunaan pelembap bibir dengan SPF untuk perlindungan tambahan.

5. Tisu basah

Tidak semua situasi memungkinkan akses mudah ke air dan sabun. Tisu basah menjadi solusi praktis untuk menjaga kebersihan tangan dan tubuh.

Kebersihan tangan sangat penting dalam mencegah infeksi saluran pernapasan dan pencernaan. Menjaga kebersihan tangan dapat mengurangi risiko penyakit menular secara signifikan.

6. Bedak kaki

Seseorang menaburkan bedak kaki pada tumit untuk menjaga kebersihan dan mengurangi kelembapan kulit kaki.
ilustrasi bedak kaki (pexels.com/Jonathan Nenemann)

Kaki sangat diandalkan selama beribadah haji. Keringat berlebih di kaki bisa menyebabkan:

  • Bau tidak sedap.
  • Infeksi jamur.
  • Lecet.

Nah, bedak kaki membantu menyerap kelembapan dan menjaga kulit tetap kering. Lingkungan lembap diketahuimeningkatkan risiko infeksi jamur kulit.

7. Masker dan hand sanitizer

Kepadatan jemaah meningkatkan risiko penularan penyakit, terutama infeksi saluran pernapasan.

Penggunaan masker dan hand sanitizer berbasis alkohol terbukti efektif mengurangi transmisi patogen. Sangat penting untuk menjaga kebersihan tangan dan perlindungan pernapasan dalam situasi keramaian seperti saat haji.

8. Botol air pribadi

Tiga botol air lipat berwarna pastel tersusun di sebelah kiri dan satu botol berwarna biru toska berdiri di sebelah kanan di atas permukaan datar.
ilustrasi botol air lipat (pexels.com/Polina Tankilevitch)

Sering kali dehidrasi terjadi bukan karena tidak ada air, tetapi karena lupa (atau malas) minum. Membawa botol sendiri membantu menjaga asupan cairan tetap konsisten.

Penelitian menunjukkan bahwa hidrasi yang adekuat penting untuk menjaga fungsi kognitif, suhu tubuh, dan performa fisik. Ingat, dalam kondisi panas ekstrem, seperti saat haji, kebutuhan cairan meningkat drastis.

Kenapa benda-benda di atas penting?

Saat beribadah haji, kadang risiko kesehatan muncul dari hal-hal yang kerap disepelekan, seperti:

  • Gesekan ringan, yang dapat menyebabkan luka, yang jika tidak ditangani dengan benar bisa menyebabkan infeksi.
  • Kurang minum, yang dapat menyebabkan dehidrasi, dan lama-lama bisa menyebabkan kelelahan ekstrem.
  • Paparan matahari, yang dapat menyebabkan sunburn, sehingga menyebabkan aktivitas terganggu.

Pendekatan preventif dengan penggunaan benda-benda di atas lebih efektif dibanding menunggu hingga tidak nyaman, apalagi sakit.

Dalam kondisi ekstrem seperti haji, justru beberapa benda sering disepelekan, tetapi bisa menjadi pertahanan pertama tubuh terhadap berbagai risiko kesehatan. Membawa oralit, sunscreen, plester luka, dan benda lainnya dapat berkontribusi dalam kelancaran ibadah haji.

Referensi

World Health Organization. “Oral Rehydration Salts: Production of the New ORS.” Diakses April 2026.

Melinda K. Munos, Christa L Fischer Walker, and Robert E Black, “The Effect of Oral Rehydration Solution and Recommended Home Fluids on Diarrhoea Mortality,” International Journal of Epidemiology 39, no. suppl_1 (March 23, 2010): i75–87, https://doi.org/10.1093/ije/dyq025.

American Academy of Dermatology Association. “Sunscreen FAQs.” Diakses April 2026.

Adèle C. Green et al., “Reduced Melanoma After Regular Sunscreen Use: Randomized Trial Follow-Up,” Journal of Clinical Oncology 29, no. 3 (December 7, 2010): 257–63, https://doi.org/10.1200/jco.2010.28.7078.

Ousey, Karen. “Demystifying Wound Infection: Identification and Management,” 2011. doi:10.12968/PNUR.2011.22.8.424.

Centers for Disease Control and Prevention. “Hand Hygiene in Healthcare Settings.” Diakses April 2026.

Blanka Havlickova, Viktor A. Czaika, and Markus Friedrich, “Epidemiological Trends in Skin Mycoses Worldwide,” Mycoses 51, no. s4 (August 28, 2008): 2–15, https://doi.org/10.1111/j.1439-0507.2008.01606.x.

Barry M Popkin, Kristen E D’Anci, and Irwin H Rosenberg, “Water, Hydration, and Health,” Nutrition Reviews 68, no. 8 (July 20, 2010): 439–58, https://doi.org/10.1111/j.1753-4887.2010.00304.x.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
EditorNuruliar F
Follow Us

Related Articles

See More