Intermittent Fasting Dilakukan Setiap Hari, Aman atau Berisiko?

Intermittent fasting makin populer sebagai metode diet yang diklaim efektif menurunkan berat badan dan memperbaiki metabolisme. Pola makan yang mengatur waktu puasa dan jam makan ini bahkan disebut-sebut bisa dilakukan setiap hari. Namun, benarkah intermittent fasting aman jika dijalani secara rutin tanpa jeda?
Sebagian orang mengaku berat badan lebih cepat turun dan energi terasa lebih stabil setelah rutin menjalani pola ini, tetapi tak sedikit pula yang mengalami pusing, mudah lelah, bahkan sulit fokus saat beraktivitas. Faktanya, keamanan intermittent fasting sangat bergantung pada kondisi tubuh, pola makan, dan cara menjalankannya. Sebelum kamu memutuskan untuk melakukannya setiap hari, yuk pahami dulu manfaat dan risikonya agar tidak salah langkah.
1. Memahami cara kerja intermittent fasting

Intermittent fasting adalah pola makan yang mengatur waktu puasa dan waktu makan dalam periode tertentu. Metode yang paling populer biasanya membagi 16 jam puasa dan 8 jam waktu makan setiap hari. Saat tubuh berpuasa, kadar insulin menurun sehingga tubuh mulai menggunakan cadangan lemak sebagai sumber energi.
Proses ini sering dikaitkan dengan berkurangnya berat badan serta meningkatnya fungsi metabolik tubuh. Selain itu, puasa diyakini dapat membantu proses perbaikan sel melalui mekanisme yang disebut autofagi. Meski begitu, manfaat tersebut tidak muncul secara cepat dan tetap dipengaruhi oleh kualitas serta keseimbangan asupan nutrisi saat periode makan berlangsung.
2. Manfaat jika dilakukan dengan cara yang tepat

Apabila diterapkan secara tepat, intermittent fasting bisa membantu membatasi asupan kalori secara lebih terkontrol tanpa terasa memaksa. Tak sedikit orang menilai metode ini lebih praktis dibanding pola diet yang terlalu membatasi pilihan makanan. Sejumlah studi juga mengindikasikan adanya manfaat seperti penurunan berat badan, peningkatan sensitivitas insulin, serta kadar gula darah yang cenderung lebih stabil.
Selain itu, sebagian orang mengaku merasa lebih fokus karena tidak terlalu sering makan. Meski begitu, manfaat tersebut umumnya dirasakan ketika asupan nutrisi tetap terpenuhi dengan baik. Artinya, kualitas makanan tetap menjadi faktor utama, bukan sekadar lamanya waktu berpuasa.
3. Risiko jika dilakukan setiap hari tanpa perhitungan

Menerapkan intermittent fasting setiap hari tanpa mempertimbangkan kondisi fisik berpotensi menimbulkan dampak tertentu. Sebagian orang mungkin mengalami lemas, sakit kepala, gangguan tidur, atau sulit berkonsentrasi. Ketika kebutuhan kalori dan zat gizi tidak terpenuhi dengan baik, risiko berkurangnya massa otot serta melambatnya laju metabolisme pun bisa terjadi.
Pada sebagian kasus, pola makan yang terlalu ketat juga berisiko memicu hubungan tidak sehat dengan makanan. Wanita dengan siklus menstruasi sensitif bahkan bisa mengalami gangguan hormonal jika pola puasa terlalu ekstrem. Karena itu, penting untuk memperhatikan sinyal tubuh dan tidak memaksakan diri.
4. Kelompok yang perlu berhati-hati

Tidak semua orang cocok menjalani intermittent fasting setiap hari. Ibu hamil, ibu menyusui, penderita diabetes tertentu, serta orang dengan riwayat gangguan makan sebaiknya berkonsultasi ke tenaga medis terlebih dahulu. Remaja yang masih dalam masa pertumbuhan juga membutuhkan asupan nutrisi cukup dan teratur.
Hal yang sama berlaku bagi individu dengan aktivitas fisik intens yang memerlukan pasokan energi konsisten sepanjang hari. Apabila memiliki riwayat atau kondisi kesehatan tertentu, menjalani pola puasa tanpa pendampingan ahli berpotensi memperparah kondisi tersebut. Karena itu, sangat penting menyesuaikan pola ini dengan kondisi tubuh sebelum menjadikannya kebiasaan sehari-hari.
5. Intermittent fasting setiap hari dan potensi risikonya

Intermittent fasting dapat dijalani setiap hari selama tubuh mampu menyesuaikan diri dan asupan nutrisi tetap tercukupi. Faktor terpentingnya terletak pada keseimbangan durasi puasa, kualitas makanan yang dikonsumsi, serta kondisi kesehatan masing-masing individu. Perlu diingat, tidak ada satu pola diet yang ideal untuk semua orang, termasuk metode puasa yang satu ini.
Jika muncul keluhan berulang seperti pusing berat atau kelelahan ekstrem, sebaiknya evaluasi kembali pola yang dijalankan. Mendengarkan respons tubuh jauh lebih penting daripada sekadar mengikuti tren. Pada akhirnya, tujuan diet seharusnya bukan hanya menurunkan berat badan, tetapi juga menjaga kesehatan jangka panjang.
Pada akhirnya, keputusan menjalani intermittent fasting setiap hari kembali pada kondisi dan kebutuhan tubuhmu sendiri. Jangan hanya ikut tren, pastikan kamu memahami manfaat sekaligus risikonya sebelum mulai konsisten melakukannya. Kalau masih ragu, konsultasi ke tenaga medis bisa jadi langkah bijak agar diet tetap aman dan hasilnya maksimal.
![[QUIZ] Mau Tahu Jenis Kronotipe Tidur Kamu? Jawab 12 Pertanyaan Ini](https://image.idntimes.com/post/20260126/1000054766_c0f5ed84-85ef-4693-a992-5103340228d4.jpg)






![[QUIZ] Seberapa Jeli Matamu Menebak Menu Buka Puasa Ini?](https://image.idntimes.com/post/20240317/22-ed4afaeeaece5897553acd75abadb7a7.jpg)



![[QUIZ] Bisakah Kamu Mengenali Tanda Depresi pada Orang Terdekat?](https://image.idntimes.com/post/20260207/pexels-liza-summer-6383164-1_1d664b73-962c-456c-b634-3a2c9b7c92de.jpg)





