"Tentu berbeda karena masing-masing masuk kelompok usia yang berbeda. Selain umur, yang memengaruhi adalah jenis kelamin, ada tidaknya penyakit penyerta, dan aktivitas fisik," jelasnya saat dihubungi IDN Times pada Rabu (21/1/2026).
Kebutuhan Gizi Tiap Generasi Berbeda, Ini Penjelasan Ahli Gizi

- Kebutuhan gizi berbeda pada setiap generasi, dipengaruhi oleh usia, jenis kelamin, aktivitas fisik, dan penyakit penyerta.
- Anak dan remaja memerlukan protein, kalsium, vitamin D, zat besi, dan omega-3. Dewasa muda butuh protein dan serat. Lansia memerlukan kalsium, vitamin D, serat, protein, dan vitamin B12.
- Penting untuk memperbanyak variasi makanan segar dan minim proses serta menerapkan mindful eating.
Setiap generasi memiliki tantangan kesehatan dan kebutuhan gizi yang berbeda, dipengaruhi oleh usia, gaya hidup, hingga perubahan lingkungan dan pola makan.
Dari gen Z yang aktif dan lekat dengan makanan instan, generasi milenial yang mulai bergulat dengan risiko penyakit metabolik, hingga generasi yang lebih senior dengan kebutuhan nutrisi untuk menjaga fungsi tubuh. Pendekatan gizi setiap kelompok bisa berbeda.
Untuk membahas hal ini lebih dalam, IDN Times mewawancarai Dr. Arif Sabta Aji, S.Gz, yang memaparkan bagaimana kebutuhan gizi seharusnya disesuaikan dengan fase kehidupan masing-masing generasi agar kesehatan tetap optimal. Yuk, simak!
1. Kebutuhan gizi berbeda pada setiap generasi
Menurut Dr. Arif, kebutuhan gizi setiap orang memang tidak bisa disamaratakan karena sangat dipengaruhi oleh kelompok usia.
Saat ini, generasi X umumnya berada pada rentang usia sekitar 46–61 tahun, milenial berusia 30–45 tahun, gen Z berada di kisaran usia 14–29 tahun, sementara generasi alfa adalah anak-anak hingga usia sekitar 13 tahun.
Perbedaan usia ini menentukan kebutuhan energi, protein, vitamin, dan mineral. Mulai dari kebutuhan untuk pertumbuhan dan perkembangan pada generasi alfa, pembentukan massa otot dan produktivitas pada gen Z dan milenial, hingga pencegahan penyakit degeneratif pada gen X.
Selain usia, ditekankan oleh Dr. Arif, faktor lain seperti jenis kelamin, tingkat aktivitas fisik, serta ada atau tidaknya penyakit penyerta juga sangat memengaruhi kebutuhan gizi seseorang. Oleh karena itu, pendekatan nutrisi idealnya bersifat personal dan disesuaikan dengan kondisi masing-masing individu.
2. Nutrisi penting yang dibutuhkan bagi masing-masing generasi

Setiap kelompok usia memiliki fokus gizi yang berbeda sesuai dengan fase kehidupan dan kebutuhan tubuhnya, kata Dr. Arif. Pada anak dan remaja usia sekitar 5–18 tahun, asupan protein, kalsium, vitamin D, zat besi, dan omega-3 sangat penting untuk mendukung pertumbuhan tulang, perkembangan otak, serta pembentukan massa tubuh.
Memasuki usia dewasa muda sekitar 19–35 tahun, kebutuhan gizi bergeser pada protein untuk menjaga massa otot. Selain itu, zat besi, vitamin B kompleks untuk metabolisme energi, serta serat untuk kesehatan pencernaan menjadi nutrisi yang krusial.
Pada kelompok dewasa produktif atau usia paruh baya sekitar 36–55 tahun, perhatian lebih perlu diberikan pada lemak sehat, protein, antioksidan, dan serat guna menjaga kesehatan jantung serta mencegah penyakit kronis.
"Pada lansia (≥60 tahun), zat gizi penting meliputi kalsium, vitamin D, serat dan cairan, protein, dan vitamin B12," jelas Dr. Arif.
Nutrisi yang disebutkan oleh Dr. Arif penting untuk menjaga kepadatan tulang, mencegah penyusutan otot, serta menjaga fungsi pencernaan tetap optimal pada lansia.
3. Tips pola makan sehat untuk setiap generasi
Menurut Dr. Arif, kunci utama pola makan sehat di semua generasi sebenarnya sama, yaitu mengutamakan keberagaman dan kesadaran dalam memilih makanan. Setiap generasi disarankan untuk tidak terpaku pada jenis makanan yang itu-itu saja, melainkan memperbanyak variasi dengan bahan pangan segar dan minim proses.
Selain memperhatikan rasa, penting juga membaca porsi dan tabel komposisi pangan agar asupan gizi sesuai kebutuhan usia dan kondisi tubuh. Dr. Arif juga menekankan pentingnya mindful eating, yakni makan dengan penuh kesadaran, memahami sinyal lapar dan kenyang, serta menikmati proses makan.
Yang tak kalah penting, jangan menunggu sakit untuk mulai memperbaiki pola makan dan gaya hidup sehat, karena pencegahan sejak dini jauh lebih efektif bagi kesehatan jangka panjang di setiap fase kehidupan.
Kebutuhan gizi setiap generasi memang berbeda, tetapi tujuan utamanya tetap sama, yaitu menjaga kesehatan dan kualitas hidup. Dengan memahami kebutuhan tubuh sesuai usia dan menerapkan pola makan yang tepat sejak dini, risiko penyakit di masa depan bisa ditekan.


















