ilustrasi cek tekanan darah (pexels.com/cottonbro)
Sebuah penelitian bertajuk "Gratitude: effect on perspectives and blood pressure of inner-city African-American hypertensive patients" yang dipublikasikan dalam Cochrane Central Register of Controlled Trials meneliti 82 partisipan dewasa. Sebanyak 41 orang secara acak ditugaskan untuk berpartisipasi dengan membuat daftar hal-hal yang mereka syukuri lewat telepon dan menerima perawatan seperti biasa, sementara kelompok kontrol hanya menerima perawatan seperti biasa.
Tekanan darah, permusuhan atau kebencian yang terukur, skor rasa syukur, dan data demografis dikumpulkan sebelum dan sesudah tes. Pasien dalam kondisi bersyukur yang menyelesaikan studi mencapai penurunan tekanan darah sistolik yang signifikan secara statistik, sedangkan kelompok kontrol tidak.
Anggota kelompok eksperimen juga meningkatkan skor rasa syukur, yang dikaitkan dengan perubahan perilaku kesehatan yang positif.
Selain itu, penelitian ini menemukan korelasi terbalik yang signifikan antara rasa syukur dan permusuhan. Penyelidikan lebih lanjut menyarankan korelasi antara rasa syukur dan kemungkinan berhenti merokok, serta rasa syukur dan penurunan berat badan.
Ada pula penelitian dari University of California San Diego School of Medicine, Amerika Serikat, yang merekrut 86 laki-laki dan perempuan, rata-rata usia 66 tahun, yang sudah mengalami kerusakan pada jantung, baik karena tekanan darah tinggi yang berkelanjutan selama bertahun-tahun atau akibat serangan jantung atau infeksi pada jantung itu sendiri.
Partisipan mengisi kuesioner standar untuk menilai seberapa bersyukur mereka terhadap orang, tempat, atau hal-hal dalam hidup mereka.
Dari situ, ditemukan bahwa semakin besar rasa bersyukur seseorang, semakin sehat kondisi mereka. Partisipan dilaporkan penurunan mood depresi, kualitas tidur yang lebih baik, serta lebih berenergi.