ilustrasi membakar sate kambing (pexels.com/Andry Sasongko)
Penelitian pada manusia menunjukkan hubungan yang lebih kompleks dibanding studi laboratorium.
Risiko kanker dipengaruhi banyak faktor sekaligus, mulai dari pola makan secara keseluruhan, frekuensi konsumsi, jenis daging, kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, berat badan, hingga faktor genetik. Namun, banyak studi memang menemukan kaitan antara konsumsi tinggi daging merah dan daging olahan yang dimasak pada suhu tinggi dengan peningkatan risiko beberapa jenis kanker, terutama kanker kolorektal.
International Agency for Research on Cancer (IARC), bagian dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), mengklasifikasikan daging olahan sebagai “karsinogenik bagi manusia” dan daging merah sebagai “mungkin karsinogenik bagi manusia”. Salah satu alasan yang dipertimbangkan adalah pembentukan senyawa seperti HCA dan PAH saat proses memasak suhu tinggi.
Beberapa penelitian epidemiologi menunjukkan orang yang sering mengonsumsi daging sangat matang atau gosong memiliki risiko lebih tinggi mengalami kanker usus besar, pankreas, dan prostat. Meski demikian, para peneliti juga menekankan bahwa hubungan ini tidak berarti setiap orang yang makan sate atau barbeku otomatis akan sakit kanker. Risiko biasanya meningkat jika konsumsinya sering, dalam jumlah banyak, dan berlangsung selama bertahun-tahun.