Cedera merupakan salah satu tantangan terbesar bagi pelari. Berbagai studi menunjukkan sekitar 30–80 persen pelari mengalami cedera setiap tahunnya.
Karena berlari merupakan aktivitas dengan gerakan berulang ribuan kali dalam satu sesi, otot, tendon, dan tulang harus mampu menahan beban yang terus-menerus. Ketika kapasitas jaringan tubuh tidak mampu mengikuti beban latihan, risiko cedera meningkat.
Penelitian menemukan program strength training yang fokus pada pinggul mampu menurunkan risiko cedera akibat penggunaan berlebihan hingga 36 persen. Bahkan, risiko cedera yang lebih serius atau substansial turun hingga 50 persen.
Pandangan bahwa pelari hanya perlu berlari mulai bergeser. Bukti ilmiah menunjukkan bahwa strength training memberikan manfaat nyata terhadap performa, efisiensi lari, dan pencegahan cedera.
Latihan kekuatan membantu tubuh menghasilkan tenaga lebih besar, menggunakan energi lebih efisien, serta meningkatkan ketahanan jaringan tubuh terhadap stres berulang selama berlari. Karena itu, banyak ahli kini menganggap strength training bukan lagi latihan tambahan, melainkan bagian integral dari program latihan pelari.
Referensi
Ramos-Campo, Domingo J., Luis Andreu-Caravaca, Vicente J. Clemente-Suárez, and Jacobo Á. Rubio-Arias. “The Effect of Strength Training on Endurance Performance Determinants in Middle- and Long-Distance Endurance Athletes: An Umbrella Review of Systematic Reviews and Meta-Analysis.” The Journal of Strength and Conditioning Research 39, no. 4 (April 1, 2025): 492–506.
Leppänen, Mari, Janne Viiala, Piia Kaikkonen, Kari Tokola, Tommi Vasankari, Benno M Nigg, Tron Krosshaug, Penny Werthner, Jari Parkkari, and Kati Pasanen. “583 FO24 – Effects of Different Training Interventions on Injury Risk in Novice Recreational Runners: A Three-Arm Randomised Controlled Trial.” British Journal of Sports Medicine, March 1, 2024, A12.2-A13.
"Does Strength Training Reduce The Risk Of Running Injuries?". Victoria Park Sport Medicine. Diakses Juni 2026.