Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Kenapa Kehamilan Bikin Lebih Sering Kebelet Pipis?

Kenapa Kehamilan Bikin Lebih Sering Kebelet Pipis?
ilustrasi ibu hamil (pexels.com/cottonbro studio)
Intinya Sih
  • Ibu hamil lebih sulit menahan kencing karena perubahan hormon, tekanan rahim yang membesar, dan kerja dasar panggul yang makin berat.

  • Kebocoran urine saat batuk, tertawa, bersin, atau bergerak disebut stress urinary incontinence dan cukup sering terjadi saat hamil.

  • Meski umum, keluhan ini perlu diperiksa bila disertai nyeri saat kencing, demam, urine berdarah, nyeri pinggang, atau cairan terus keluar seperti ketuban.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Kehamilan mengubah banyak hal. Sebagai contoh, jalan menjadi lebih pelan, tidur butuh banyak strategi, dan keinginan buang air kecil bisa datang berkali-kali dalam sehari. Bahkan, pada sebagian ibu hamil, urine bisa keluar sedikit saat batuk, bersin, tertawa, mengangkat barang, atau berjalan cepat.

Sulit menahan kencing saat hamil adalah keluhan yang cukup umum. Ini karena kandung kemih, rahim, hormon, dan otot dasar panggul bekerja dalam kondisi yang berbeda dari biasanya. Meski begitu, umum bukan berarti membiarkannya.

Ada cara untuk mengurangi keluhan ini, dan ada tanda tertentu yang perlu dibedakan dari infeksi saluran kemih atau kebocoran air ketuban.

Table of Content

1. Rahim yang membesar menekan kandung kemih

1. Rahim yang membesar menekan kandung kemih

Lokas kandung kemih dekat dengan rahim. Saat kehamilan berkembang, rahim membesar dan memberi tekanan lebih besar ke area sekitarnya, termasuk kandung kemih. Akibatnya, kapasitas kandung kemih terasa lebih kecil. Ibu hamil jadi lebih cepat merasa ingin buang air kecil, meskipun urine yang keluar tidak selalu banyak.

Pada trimester akhir, tekanan ini bisa makin terasa karena ukuran janin bertambah dan posisi bayi makin turun ke panggul. Tidak heran kalau ibu hamil bisa merasa baru saja dari toilet, lalu tidak lama kemudian ingin buang air kecil lagi.

Tekanan ini juga membuat urine lebih mudah bocor saat ada dorongan mendadak dari perut, misalnya saat batuk, bersin, tertawa, atau olahraga ringan.

2. Hormon membuat jaringan tubuh lebih lentur

Selama hamil, tubuh memproduksi hormon yang membantu jaringan dan ligamen menjadi lebih lentur sebagai persiapan persalinan. Ini penting untuk proses melahirkan, tetapi efeknya juga terasa pada area dasar panggul.

Dasar panggul adalah kelompok otot yang menopang kandung kemih, rahim, dan usus. Otot ini juga membantu mengontrol keluarnya urine. Saat jaringan menjadi lebih lentur dan beban dari rahim bertambah, dasar panggul bisa bekerja lebih keras untuk menahan urine.

Jika otot dasar panggul melemah atau tidak mampu mengimbangi tekanan yang meningkat, urine bisa keluar tanpa sengaja. Inilah yang sering disebut inkontinensia urine saat hamil.

3. Ada beberapa jenis keluhan yang bisa terjadi

Ilustrasi seorang perempuan duduk di toilet dengan celana diturunkan, menggambarkan aktivitas buang air kecil di kamar mandi.
ilustrasi perempuan buang air kecil (IDN Times/Novaya Siantita)

Keluhan paling umum adalah inkontinensia urine stres, yaitu urine bocor saat ada tekanan pada kandung kemih. Pemicunya bisa batuk, bersin, tertawa, berlari kecil, naik tangga, atau mengangkat barang.

Ada juga ibu hamil yang mengalami dorongan mendadak untuk kencing dan sulit menahannya. Ini bisa terasa seperti urgensi. Pada sebagian orang, dua pola ini bisa bercampur.

Yang penting, jangan langsung menganggap semua cairan yang keluar adalah urine. Jika cairan keluar terus-menerus, terasa tidak bisa ditahan, bening, tidak berbau seperti urine, atau membuat celana dalam terus basah, hubungi dokter atau bidan untuk memastikan apakah itu bukan ketuban.

Apa yang bisa dilakukan?

Kehamilan memang memberi beban ekstra pada kandung kemih dan dasar panggul. Namun, ada beberapa cara yang bisa membantu:

  • Lakukan latihan dasar panggul atau Kegel secara rutin, kalau dokter atau bidan menyatakan aman.
  • Saat ingin batuk, bersin, atau tertawa, coba kencangkan dasar panggul terlebih dahulu.
  • Jangan mengurangi minum secara ekstrem. Dehidrasi bisa membuat urine lebih pekat dan mengiritasi kandung kemih.
  • Kurangi pemicu seperti kafein jika keluhan makin sering setelah minum kopi, teh, atau minuman bersoda.
  • Cegah sembelit dengan cukup cairan, serat, dan gerak ringan sesuai kondisi, karena mengejan dapat menambah tekanan pada dasar panggul.
  • Gunakan pantyliner atau pembalut khusus inkontinensia jika perlu, tetapi tetap ganti secara teratur agar kulit tidak iritasi.
  • Apabila keluhan mengganggu aktivitas, konsultasikan dengan dokter, bidan, atau fisioterapis dasar panggul.

Latihan dasar panggul bukan hanya untuk setelah melahirkan. Justru, latihan yang benar selama hamil dapat membantu mengurangi atau mencegah kebocoran urine pada akhir kehamilan dan setelah persalinan.

Kapan harus menemui dokter?

Ilustrasi dokter memeriksa ibu hamil yang sedang duduk sambil berbicara, menggambarkan konsultasi kehamilan di klinik.
ilustrasi pemeriksaan kehamilan (IDN Times/NRF)

Sulit menahan kencing saat hamil memang sering terjadi, tetapi beberapa gejala perlu diperiksa. Hubungi tenaga kesehatan jika:

  • Ada nyeri atau rasa terbakar saat kencing
  • Demam.
  • Menggigil.
  • Urine keruh atau berdarah.
  • Nyeri pinggang.
  • Nyeri perut bawah.
  • Kontraksi.
  • Cairan keluar terus-menerus dari vagina.
  • Bau cairan tidak biasa.
  • Perdarahan.
  • Gerak janin berkurang.

Infeksi saluran kemih saat hamil perlu ditangani karena dapat berkembang menjadi masalah yang lebih serius. Begitu juga jika yang keluar ternyata air ketuban, pemeriksaan harus dilakukan untuk menentukan langkah aman bagi ibu dan bayi.

Kesimpulannya, ibu hamil sulit menahan kencing karena tubuh sedang berubah besar-besaran. Keluhan ini umum, tetapi tetap bisa dikelola. Jika mulai mengganggu, jangan menunggu sampai terasa parah untuk membicarakannya dengan dokter atau bidan.

Referensi

Cleveland Clinic. “Pregnancy and Bladder Control.” Diakses Juni 2026.

Dayal, Seema, and Devabhaktuni M. Hong. “Preterm and Term Prelabor Rupture of Membranes.” StatPearls. Treasure Island, FL: StatPearls Publishing, updated 2024.

Mayo Clinic. “Kegel Exercises: A How-To Guide for Women.” Diakses Juni 2026.

Mayo Clinic. “Urinary Incontinence: Symptoms and Causes.” Diakses Juni 2026.

Mayo Clinic. “Water Breaking: Understand This Sign of Labor.” Diakses Juni 2026.

Moossdorff-Steinhauser, H. F. A., M. A. Berghmans, B. W. Spaanderman, and C. M. Bols. “Prevalence, Incidence and Bother of Urinary Incontinence in Pregnancy: A Systematic Review and Meta-Analysis.” International Urogynecology Journal 32 (2021): 1633–1652.

National Health Service. “Exercise in Pregnancy.” Diakses Juni 2026.

National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases. “Symptoms & Causes of Bladder Control Problems (Urinary Incontinence).” Diakses Juni 2026.

Sangsawang, Bussara, and Nongnuch Sangsawang. “Stress Urinary Incontinence in Pregnant Women: A Review of Prevalence, Pathophysiology, and Treatment.” International Urogynecology Journal 24 (2013): 901–912.

Woodley, Stephanie J., Jean Hay-Smith, Sarah Dumoulin, and others. “Pelvic Floor Muscle Training for Preventing and Treating Urinary and Faecal Incontinence in Antenatal and Postnatal Women.” Cochrane Database of Systematic Reviews 5 (2020): CD007471.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
EditorNuruliar F

Related Articles

See More