Baker, Lindsay B. "Sweat testing methodology in the field: Challenges and best practices." Sports Sci. Exchange 28 (2016): 1-6.
W. Larry Kenney et al., “Temperature Regulation During Exercise in the Heat: Insights for the Aging Athlete,” Journal of Science and Medicine in Sport 24, no. 8 (December 25, 2020): 739–46, https://doi.org/10.1016/j.jsams.2020.12.007.
Samuel N. Cheuvront and Robert W. Kenefick, “Dehydration: Physiology, Assessment, and Performance Effects,” Comprehensive Physiology 4, no. 1 (January 10, 2014): 257–85, https://doi.org/10.1002/cphy.c130017.
Mayo Clinic. “Anhidrosis: Symptoms and Causes.” Diakses April 2026.
Cleveland Clinic. “Anhidrosis: Causes and Treatment.” Diakses April 2026.
Lari tapi Tak Banyak Berkeringat, Apakah Normal?

Tidak banyak berkeringat saat lari belum tentu berarti ada masalah; suhu lingkungan, intensitas latihan, dan kebugaran tubuh ikut memengaruhi.
Sebagian orang memang secara alami berkeringat lebih sedikit dibanding orang lain.
Jika hampir tidak pernah berkeringat sama sekali, terutama saat cuaca panas atau olahraga berat, kondisi ini perlu diperiksa karena bisa terkait gangguan kelenjar keringat, saraf, atau penyakit tertentu.
Tubuh manusia memiliki caranya sendiri untuk menjaga suhu tetap stabil saat berolahraga. Salah satu mekanisme utamanya adalah berkeringat. Ketika suhu tubuh naik, kelenjar keringat menghasilkan cairan yang kemudian menguap dari permukaan kulit dan membantu mendinginkan tubuh.
Namun, tidak semua orang berkeringat dalam jumlah yang sama saat lari. Ada yang bajunya langsung basah kuyup meski baru joging santai, sementara ada juga yang baru terlihat sedikit lembap setelah berlari cukup lama. Perbedaan ini sering membuat orang bertanya-tanya apakah mereka normal atau justru ada sesuatu yang salah.
Table of Content
1. Sedikit berkeringat saat lari bisa saja normal
Jumlah keringat yang keluar saat berolahraga dipengaruhi oleh banyak hal. Misalnya suhu udara, kelembapan, jenis pakaian, kecepatan lari, lama olahraga, ukuran tubuh, hingga tingkat kebugaran seseorang.
Seseorang yang lari di treadmill dalam ruangan ber-AC tentu akan berkeringat lebih sedikit dibanding orang yang lari di luar ruangan pada siang hari. Begitu juga dengan orang yang baru lari 20 menit santai dibanding orang yang melakukan interval run intensitas tinggi selama satu jam.
Penelitian menunjukkan, laju keringat antarindividu memang bervariasi. Pada atlet dan pelari, perbedaan ini bisa sangat besar, mulai dari kurang dari 0,5 liter per jam hingga lebih dari 2 liter per jam. Faktor lingkungan dan intensitas olahraga menjadi penentu utama banyak sedikitnya keringat yang keluar.
2. Orang yang lebih bugar kadang justru berkeringat lebih cepat

Ada anggapan bahwa orang yang fit akan lebih sedikit berkeringat karena tubuhnya lebih kuat. Padahal, yang terjadi justru bisa sebaliknya. Orang yang rutin olahraga dan memiliki kebugaran aerobik lebih baik sering mulai berkeringat lebih cepat.
Hal ini terjadi karena tubuh mereka lebih efisien dalam mengatur suhu. Saat suhu inti mulai naik, tubuh segera mengaktifkan mekanisme pendinginan agar panas tidak menumpuk terlalu banyak.
Meski begitu, bukan berarti semua orang yang tidak banyak berkeringat kurang fit. Tubuh setiap orang berbeda. Ada orang yang memang secara alami memiliki respons keringat lebih sedikit meski kondisi fisiknya baik.
Penelitian menunjukkan bahwa individu yang terlatih memiliki kemampuan termoregulasi yang lebih efisien, termasuk mulai berkeringat lebih awal dan dalam distribusi yang lebih merata di tubuh.
3. Genetik juga berperan
Sebagian orang terlahir dengan jumlah kelenjar keringat yang lebih aktif atau respons saraf yang lebih kuat terhadap panas. Karena itu, wajar jika ada orang yang sangat mudah berkeringat meski baru berjalan sebentar, sementara orang lain tampak hampir tidak berkeringat meski melakukan aktivitas yang sama.
Variasi jumlah kelenjar keringat aktif dan sensitivitas terhadap panas bisa berbeda cukup besar antarindividu. Faktor usia, jenis kelamin, ukuran tubuh, dan genetik juga ikut memengaruhi pola berkeringat seseorang
4. Cuaca dingin dan tubuh yang sudah beradaptasi bisa membuat keringat lebih sedikit

Saat cuaca dingin atau berangin, keringat lebih cepat menguap sehingga kulit terasa tidak terlalu basah. Kadang seseorang sebenarnya berkeringat cukup banyak, tetapi karena keringat langsung mengering, ia merasa seolah tidak berkeringat sama sekali.
Selain itu, tubuh yang sudah terbiasa dengan rutinitas olahraga tertentu juga bisa menjadi lebih efisien. Jika kamu rutin lari di intensitas yang sama, tubuh mungkin tidak perlu bekerja sekeras sebelumnya untuk menjaga suhu tetap stabil.
Inilah alasan mengapa seseorang yang dulu sangat berkeringat saat mulai lari bisa merasa lebih “kering” beberapa bulan kemudian. Tubuhnya sudah lebih beradaptasi dengan aktivitas tersebut.
5. Kapan sedikit berkeringat perlu diwaspadai?
Sedikit berkeringat saat olahraga biasanya tidak berbahaya. Namun, ada kondisi yang perlu diwaspadai, yaitu jika kamu hampir tidak pernah berkeringat sama sekali, bahkan saat cuaca sangat panas atau saat berolahraga berat. Kondisi ini disebut hipohidrosis atau anhidrosis, yaitu berkurangnya kemampuan tubuh untuk menghasilkan keringat. Jika tubuh tidak bisa berkeringat dengan baik, risiko overheating meningkat karena panas sulit keluar.
Gejalanya bisa berupa wajah terasa sangat panas, kulit memerah, pusing, lemas, jantung berdebar, mual, kram, atau merasa seperti mau pingsan saat berolahraga. Dalam kondisi berat, kamu bisa mengalami heat exhaustion bahkan heat stroke.
Anhidrosis dapat disebabkan oleh kerusakan saraf, gangguan kulit, diabetes, penyakit autoimun, obat-obatan tertentu, atau kelainan bawaan.
6. Obat dan kondisi medis tertentu bisa memengaruhi keringat

Beberapa obat dapat mengurangi produksi keringat, misalnya obat antikolinergik, antihistamin tertentu, obat tekanan darah, atau sebagian obat untuk gangguan mental.
Selain itu, kondisi medis seperti diabetes, gangguan tiroid, penyakit Parkinson, cedera saraf, dan sindrom Sjögren juga dapat memengaruhi fungsi kelenjar keringat.
Jika kamu merasa pola berkeringat berubah drastis, terutama jika disertai gejala lain seperti mudah kepanasan, pusing, atau lemah, sebaiknya periksakan diri ke dokter untuk mencari penyebabnya.
Tidak banyak berkeringat saat lari bisa saja normal, terutama jika olahraga dilakukan di tempat sejuk, intensitasnya ringan, atau tubuh memang secara alami memproduksi lebih sedikit keringat. Namun, jika tubuh hampir tidak pernah berkeringat, terutama saat cuaca panas atau aktivitas berat, jangan mengabaikannya.
Referensi















![[QUIZ] Dari Bentuk Fesesmu, Kami Bisa Tahu Kondisi Kesehatanmu](https://image.idntimes.com/post/20240130/10-9f789ea3d6b3618e22708cc779025bd6.jpg)

