Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
5 Mitos Daging Kambing Memicu Darah Tinggi, Banyak yang Salah Kaprah!
ilustrasi daging (unsplash.com/Usman Yousaf)
  • Tekanan darah naik setelah makan kambing lebih dipengaruhi porsi, garam, dan cara memasak.

  • Daging kambing tidak selalu lebih berlemak atau lebih berbahaya dibanding daging merah lain.

  • Penderita hipertensi masih boleh makan daging kambing dalam jumlah wajar dan seimbang.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Momen Idul Adha sering membuat konsumsi daging kurban meningkat, terutama olahan kambing yang jadi favorit banyak orang. Sayangnya, masih banyak anggapan bahwa daging kambing otomatis memicu darah tinggi. Bahkan, sebagian orang memilih menghindarinya tanpa mencari penjelasan lebih lanjut.

Padahal, penyebab tekanan darah naik tidak sesederhana jenis daging yang dikonsumsi. Agar tak salah paham saat menikmati hidangan khas Idul Adha, ada beberapa mitos tentang daging kambing yang perlu diluruskan. Berikut penjelasannya.

1. Daging kambing selalu memicu tekanan darah naik

ilustrasi daging (unsplash.com/Usman Yousaf)

Banyak orang langsung menyalahkan daging kambing ketika kepala terasa berat setelah makan sate atau gulai. Padahal, tekanan darah tidak naik dalam hitungan menit hanya karena satu jenis makanan. Lonjakan tekanan darah lebih sering dipengaruhi konsumsi garam berlebihan, santan pekat, dan porsi makan yang terlalu besar dalam satu waktu. Kondisi tubuh yang kelelahan atau kurang tidur juga bisa memperburuk keadaan setelah makan berat.

Daging kambing sebenarnya memiliki kandungan protein, zat besi, dan vitamin B12 yang cukup baik untuk tubuh. Kandungan lemaknya bahkan bisa lebih rendah dibanding beberapa bagian daging sapi, terutama jika memilih potongan tanpa lemak. Masalah mulai muncul ketika daging diolah menjadi makanan tinggi sodium, seperti tongseng, gulai, atau sate, dengan bumbu berlebihan. Jadi, penyebab utama bukan selalu daging kambingnya, melainkan cara mengolah dan jumlah yang dikonsumsi.

2. Lemak kambing lebih berbahaya dibanding semua jenis daging merah

ilustrasi daging sapi (vecteezy.com/Iftikhar Alam)

Anggapan ini muncul karena aroma khas kambing sering dianggap identik dengan lemak tinggi. Faktanya, kandungan lemak pada daging kambing tidak selalu lebih besar dibanding daging merah lain. Beberapa potongan kambing justru memiliki kadar lemak jenuh lebih rendah daripada bagian tertentu daging sapi. Perbedaan ini sering tidak disadari karena masyarakat lebih fokus pada mitos turun-temurun daripada melihat kandungan gizinya.

Cara memasak juga sangat menentukan jumlah lemak yang masuk ke tubuh. Daging kambing yang dipanggang tanpa banyak minyak tentu berbeda dengan gulai bersantan kental yang dimasak berulang kali. Lemak tambahan dari minyak, santan, atau jeroan justru lebih mudah membuat asupan kalori melonjak. Karena itu, memilih bagian daging dan teknik memasak yang lebih ringan jauh lebih penting daripada sekadar menghindari kambing sepenuhnya.

3. Penderita hipertensi tidak boleh menyentuh daging kambing sama sekali

ilustrasi hipertensi (unsplash.com/Julia Taubitz)

Banyak penderita hipertensi merasa harus benar-benar menjauhi daging kambing agar tekanan darah tetap aman. Padahal, larangan total biasanya bergantung pada kondisi kesehatan masing-masing dan anjuran dokter. Jika tekanan darah terkontrol dan tidak memiliki komplikasi tertentu, konsumsi daging kambing dalam jumlah wajar umumnya masih diperbolehkan. Kuncinya terletak pada pengaturan porsi dan keseimbangan menu harian.

Masalah sering muncul karena acara makan daging kurban identik dengan porsi besar dan minim sayur. Tubuh akhirnya menerima asupan lemak, sodium, dan kalori dalam jumlah berlebihan sekaligus. Kondisi itu bisa membuat tekanan darah lebih mudah naik, terutama pada orang yang sensitif terhadap garam. Karena itu, penderita hipertensi sebaiknya memperbanyak sayuran, minum cukup air, dan tidak mengonsumsi olahan kambing secara berlebihan dalam satu waktu.

4. Aroma prengus menandakan kolesterol daging sangat tinggi

ilustrasi daging (unsplash.com/Usman Yousaf)

Masih banyak orang percaya aroma prengus pada kambing berasal dari kolesterol tinggi di dalam dagingnya. Padahal, aroma khas tersebut lebih dipengaruhi senyawa alami pada lemak kambing, terutama jika proses pembersihannya kurang tepat. Faktor usia hewan dan cara penyimpanan juga bisa memengaruhi aroma setelah dimasak. Jadi, bau khas kambing bukan penanda langsung bahwa dagingnya berbahaya untuk tekanan darah.

Teknik pengolahan dapat membantu mengurangi aroma tersebut tanpa perlu memakai terlalu banyak bumbu atau lemak tambahan. Penggunaan jeruk nipis, nanas, jahe, atau rempah segar sering membantu membuat aroma lebih ringan. Cara memasak seperti dipanggang perlahan juga biasanya menghasilkan rasa yang lebih nyaman dibanding dimasak terlalu lama dengan santan pekat. Karena itu, penting memahami sumber aromanya agar tidak langsung mengaitkannya dengan kolesterol tinggi.

5. Minum kopi setelah makan kambing membuat tubuh lebih aman

ilustrasi kopi (unsplash.com/Christian Dala)

Kebiasaan minum kopi setelah makan sate kambing masih sering dipercaya dapat menetralkan lemak atau mencegah darah tinggi. Faktanya, kopi tidak bekerja seperti penawar otomatis setelah mengonsumsi makanan berlemak. Bagi sebagian orang, kafeina justru dapat membuat denyut jantung meningkat sementara waktu, terutama jika diminum berlebihan. Efek ini bisa membuat tubuh terasa tidak nyaman setelah makan besar.

Tubuh sebenarnya lebih membutuhkan air putih, sayuran, dan waktu istirahat cukup setelah menyantap makanan berat. Serat dari buah dan sayur membantu proses pencernaan berjalan lebih baik dibanding mengandalkan kopi manis berukuran besar. Selain itu, aktivitas ringan seperti berjalan santai setelah makan juga lebih bermanfaat untuk membantu tubuh tetap nyaman. Jadi, menjaga porsi makan tetap wajar jauh lebih penting daripada mencari “penetral” instan setelah makan kambing.

Mengonsumsi daging kurban sebenarnya tidak perlu ditakuti selama porsinya masih masuk akal dan cara memasaknya lebih sehat. Banyak mitos tentang kambing yang beredar turun-temurun ternyata tidak sepenuhnya sesuai dengan fakta kesehatan. Setelah mengetahui penjelasannya, masih yakin daging kambing selalu jadi penyebab utama darah tinggi?

Referensi
"Goat Meat Does Not Cause Increased Blood Pressure". Asian-Australasian Journal of Animal Science. Diakses Mei 2026.
"Is Goat Meat Really the Cause of Hypertension?". IPB. Diakses Mei 2026.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

EditorYudha ‎

Related Article