Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Otak Adalah Organ Paling Banyak Konsumsi Energi, kok Bisa?

6 min read
Otak Adalah Organ Paling Banyak Konsumsi Energi, kok Bisa?
ilustrasi energi otak (pexels.com/Google DeepMind)
  • Otak berbobot sekitar 1–2 persen dari tubuh, tetapi memakai sekitar 20–21 persen energi tubuh karena mengendalikan fungsi vital dan komunikasi sel.
  • Sebagian besar energi otak digunakan neuron, terutama di sinapsis. Kebocoran kecil pada vesikel neurotransmiter turut menguras energi bahkan saat otak beristirahat.
  • Glukosa menjadi sumber energi utama otak. Kekurangannya dapat mengganggu produksi neurotransmiter, memori, fokus, gerakan, bicara, serta berkontribusi pada gangguan metabolik dan neurologis.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Otak adalah organ tubuh dengan berat yang cukup kecil tetapi memiliki kebutuhan energi yang paling tinggi di antara organ-organ tubuh lainnya. Dilansir laman Psychology Today, otak memiliki berat hanya sekitar 3 pon, atau hanya sekitar 1-2 persen dari total berat badan, tetapi kebutuhan energinya mencapai 20 persen dari total energi yang digunakan tubuh. Oleh sebab itu, otak sering kali disebut sebagai organ yang rakus terkait kebutuhan energi.

Kenapa otak membutuhkan banyak energi? Bagaimana jika otak kekurangan energi? Yuk, simak ulasannya berikut ini.

  1. 1. Fakta menarik otak

    Kepala dan otak
    ilustrasi cara kerja otak (pexels.com/Google DeepMind)

    Otak adalah organ yang mengendalikan dan mengatur segala aktivitas tubuh. Ini termasuk gerakan, ingatan, emosi, pikiran, suhu tubuh, pernapasan, penglihatan, pendengaran, sentuhan, rasa lapar dan kenyang, hingga membentuk sistem saraf pusat bersama sumsum tulang belakang. Meski ukurannya kecil, otak adalah organ yang memiliki peranan sangat kompleks di dalam tubuh kita.

    Dilansir laman Hopkins Medicine, otak terdiri dari 60 persen lemak dan 40 persen sisanya merupakan kombinasi air, protein, karbohidrat, dan garam. Selain itu, otak juga mengandung miliaran neuron (sel saraf dan sel glial) serta pembuluh darah yang bercabang ke mana-mana di seluruh tubuh. Sel saraf dan pembuluh darah inilah yang membantu otak menjalankan fungsinya sebagai pusat kendali dan komunikasi sel-sel dalam tubuh.

    Di dalam otak, sel saraf berfungsi untuk menerima dan meneruskan segala pesan (kimiawi dan listrik) dari tubuh dan ke seluruh tubuh. Sementara itu, sel glial berfungsi untuk membantu proses pemeliharaan otak dan mendukung kesehatan otak. Adapun pembuluh darah, berfungsi untuk menyuplai darah kaya oksigen dan nutrisi (glukosa) ke otak yang digunakan sebagai sumber energinya.

  2. 2. Mengapa otak mengonsumsi banyak energi?

    Otak
    ilustrasi energi otak (pexels.com/Mo Eid)

    Meskipun ukurannya hanya sebagian kecil dari total massa tubuh, otak merupakan sumber konsumsi energi paling besar di antara organ lain (jika dibandingkan dengan beratnya), yaitu sebesar 20 persen. Bahkan, jumlah kebutuhan ini diukur saat otak dalam waktu istirahat. Artinya, dalam waktu bekerja, ini mungkin lebih tinggi lagi.

    Dilansir Science Direct, berikut jumlah konsumsi energi dari setiap organ di dalam tubuh:

    • Otot rangka: 21,2 persen dari 36 persen total beratnya
    • Otak: 21 persen dari 1,9 persen total beratnya
    • Jaringan lainnya: 17,9 persen dari 32,9 persen total beratnya
    • Hati: 17.6 persen dari 1,9 persen total beratnya
    • Jantung: 8,9 persen dari 0,4 persen total beratnya
    • Ginjal: 8 persen dari 0,4 persen total beratnya
    • Jaringan adiposa (lemak): 5,4 persen dari 26,5 persen total beratnya.

    Jadi, kenapa otak mengonsumsi banyak energi? Mulanya, penggunaan energi yang tinggi di otak diperkirakan karena konsumsi neuron yang tinggi untuk memfasilitasi proses komunikasi antar sel di otak. Selain itu, juga digunakan untuk proses pemeliharaan neuron tersebut.

    Dilansir jurnal Frontiers in Molecular Neuroscience tahun 2018, dari 20 persen total konsumsi energi oleh otak, diperkirakan bahwa neuron mengonsumsi 75-80 persen energi yang dihasilkan di otak. Energi ini terutama digunakan di sinapsis, yaitu pertemuan antar sel saraf dengan sel saraf lainnya atau pertemuan antar sel saraf dengan sel-sel otot dan kelenjar yang digunakan untuk komunikasi antar sel. Di mana, sebagian besar energi tersebut dihabiskan untuk proses pemulihan neuron itu sendiri.

    Akan tetapi, menurut studi yang lebih baru yang dimuat dalam jurnal Science Advances tahun 2021, pengurasan energi oleh otak ini terjadi karena adanya kebocoran vesikel neurotransmiter dalam otak. Vesikel neurotransmiter adalah kantung-kantung kecil yang berisi ribuan pesan kimia (neurotransmiter) yang akan diterjemahkan oleh otak. Di mana kebocoran ini kemudian mengakibatkan pengurasan energi yang tinggi meski saat otak istirahat.

    Lantas, apa yang memicu kebocoran membran vesikel dalam otak? Kebocoran membran vesikel ini dipicu karena adanya proses transportasi dalam membran, yaitu keluarnya proton dari vesikel yang dibawa oleh protein transporter. Proses inilah yang menyebabkan adanya “celah” pada membran vesikel sehingga menyebabkan penggunaan energi yang terus-menerus. Meskipun kebocoran ini sangat kecil, namun ada ratusan triliun vesikel sinaptik di otak sehingga bisa menguras energi yang besar. Inilah yang menyebabkan konsumsi energi pada otak sangat tinggi.

  3. 3. Apa yang terjadi jika kebutuhan energi otak tidak terpenuhi?

    Otak
    ilustrasi mempelajari otak (pexels.com/Anna Shvets)

    Pasokan energi yang efisien sangat penting bagi otak untuk tetap bekerja secara normal dan optimal. Glukosa dari makanan adalah sumber energi utama untuk sel tubuh, termasuk otak, yang akan diubah menjadi energi seluler yang disebut ATP (Adenosin trifosfat). Jika tidak tersedia cukup energi di otak, maka akan menyebabkan berbagai gangguan kesehatan, termasuk gangguan metabolik dan neurologis.

    Mengutip laman Harvard Medical School, kekurangan energi di otak bisa menyebabkan neurotransmiter, sang pembawa pesan di otak, tidak diproduksi. Hal ini dapat mengakibatkan komunikasi antar neuron terganggu, yang secara langsung dapat memengaruhi fungsi tubuh kita. Misalnya, kita tidak bisa berbicara, tidak bisa bergerak, gerakan tidak sinkron, tidak bisa mengingat, kurang fokus, dan lain-lain. Selain itu, kekurangan energi pada otak juga dapat menyebabkan masalah depresi yang memengaruhi mental kita.

    Tak hanya itu, kekurangan energi di otak juga bisa menyebabkan beberapa masalah metabolik, seperti hipoglikemia, yaitu kondisi di mana kadar glukosa darah yang rendah. Akibatnya ini bisa menyebabkan kegagalan fungsi otak. Laman European Research Council juga menambahkan, kegagalan pasokan energi ke jaringan sistem saraf pusat juga bisa berkontribusi menyebabkan stroke dan cedera sumsum tulang belakang

    Otak adalah organ yang paling banyak mengonsumsi energi di dalam tubuh. Hal ini karena kinerja sel-sel saraf di otak yang dituntut selalu aktif setiap saat untuk menerjemahkan banyak pesan kimia dan kelistrikan dalam tubuh. Jadi tidak mengherankan, jika kita kekurangan glukosa, yang merupakan sumber energi utama otak, ini bisa menyebabkan gangguan-gangguan yang tidak menyenangkan. Otak sangat sensitif terhadap kekurangan pasokan glukosa.

    Referensi

    “Brain”. Cleveland Clinic. Diakses Oktober 2026.

    “Brain Anatomy and How the Brain Works”. Johns Hopkins Medicine. Diakses Oktober 2026.

    “Paying the Brain’s Energy Bill”. Science Direct. Diakses Oktober 2026.

    “Brain Energy and Oxygen Metabolism: Emerging Role in Normal Function and Disease”. National Library of Medicine. Diakses Oktober 2026.

    “Brain Drain: Scientists Explain Why Neurons Consume So Much Fuel Even When at Rest”. Weill Cornell Medicine. Diakses Oktober 2026.

    “Is Depression a Sign of Low Brain Energy?”. Psychology Today. Diakses Oktober 2026.

    “How is Your Brain Powered?”. European Research Council. Diakses Oktober 2026.

    “We finally know why the brain uses so much energy”. Live Science. Diakses Oktober 2026.

    “Synaptic vesicle pools are a major hidden resting metabolic burden of nerve terminals”. Science Advances. Diakses Oktober 2026.

    “Shgar and The Brain”. Harvard Medical School. Diakses Oktober 2026.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Di Balik Produksi Operasi Pesta Copet

Related Articles

See More