- Peningkatan denyut jantung.
- Penurunan stroke volume (jumlah darah yang dipompa tiap denyut).
- Meningkatnya suhu tubuh.
- Peningkatan persepsi lelah.
Pelari Bisa Mengalami ‘Cardiac Drift’, Apa Artinya?

Cardiac drift adalah peningkatan bertahap detak jantung saat olahraga panjang meski intensitas tetap, dipicu oleh panas, dehidrasi, dan penurunan volume darah yang memengaruhi kerja jantung.
Fenomena ini umum terjadi pada pelari maupun atlet endurance lain dan biasanya bukan tanda bahaya, melainkan respons tubuh menjaga suplai oksigen serta suhu selama aktivitas berkepanjangan.
Untuk mengurangi cardiac drift, penting menjaga hidrasi, meningkatkan kapasitas aerobik lewat latihan konsisten, menyesuaikan pace dengan kondisi cuaca, dan menggunakan strategi pendinginan tubuh.
Awalnya lari terasa ringan. Pace masih sama seperti biasa, napas relatif stabil, dan kaki belum terlalu berat. Namun, setelah 40–60 menit kamu melihat smartwatch yang angkanya menunjukkan detak jantung naik terus, padahal kecepatan lari hampir tidak berubah.
Banyak pelari mengira ini berkaitan dengan kehilangan stamina atau tidak fit untuk mempertahankan pace tersebut. Padahal, ada fenomena yang dikenal sebagai cardiac drift yang cukup umum terjadi saat olahraga endurance seperti lari jarak jauh, bersepeda, triatlon, hiking, hingga maraton. Bahkan pelari yang sangat terlatih pun bisa mengalaminya.
Table of Content
Apa itu cardiac drift?
Cardiac drift adalah peningkatan denyut jantung secara bertahap selama aktivitas fisik berkepanjangan, meskipun intensitas olahraga tetap relatif sama. Dengan kata lain pace tetap, effort terasa mirip, tetapi heart rate perlahan naik.
Fenomena ini pertama kali banyak diteliti dalam olahraga endurance dan sering muncul setelah 10–30 menit aktivitas terus-menerus, terutama dalam kondisi panas.
Cardiac drift biasanya disertai:
Menurut penelitian, cardiac drift merupakan respons normal tubuh selama olahraga berkepanjangan, terutama saat terjadi peningkatan suhu inti tubuh dan kehilangan cairan.
Kenapa detak jantung bisa naik padahal pace sama?
Tubuh sebenarnya sedang berusaha mempertahankan suplai oksigen ke otot. Masalahnya, selama lari jarak jauh atau dalam waktu lama, beberapa hal mulai berubah secara perlahan.
- Tubuh kehilangan cairan
Saat berkeringat, volume plasma darah menurun. Ini artinya darah yang beredar menjadi lebih sedikit. Akibatnya, jantung harus berdetak lebih cepat supaya suplai oksigen tetap terjaga.
Penelitian menunjukkan dehidrasi adalah salah satu pemicu terbesar cardiac drift. Bahkan kehilangan cairan sekitar 2 persen berat badan dapat mulai memengaruhi performa aerobik.
- Suhu tubuh meningkat
Makin lama berlari, tubuh makin panas. Tubuh kemudian mengalihkan lebih banyak aliran darah ke kulit untuk membantu pendinginan melalui keringat. Akibatnya, lebih sedikit darah kembali ke jantung. Ini membuat volume darah yang dipompa tiap denyut menurun. Sebagai kompensasi, denyut jantung naik.
Stres akibat panas dan dehidrasi dapat meningkatkan beban kardiovaskular selama olahraga endurance.
- Stroke volume menurun
Dalam kondisi ideal, jantung memompa darah dalam jumlah besar tiap denyut. Namun, selama long run volume plasma turun, aliran darah bergeser ke kulit, dan pengisian jantung sedikit berkurang. Ini mengakibatkan stroke volume menurun.
Untuk mempertahankan curah jantung (cardiac output), tubuh meningkatkan frekuensi denyut jantung.
- Kelelahan otot dan sistem saraf
Makin lama berlari, tubuh makin bekerja keras mempertahankan efisiensi gerakan. Otot yang lelah membutuhkan lebih banyak energi dan oksigen untuk menghasilkan tenaga yang sama. Ini ikut meningkatkan respons jantung.
Seperti apa cardiac drift saat lari?

Pelari biasanya melihat pola seperti ini:
Waktu lari | Pace | Heart rate |
|---|---|---|
Menit 10 | Stabil | 145 bpm |
Menit 30 | Stabil | 150 bpm |
Menit 60 | Stabil | 158 bpm |
Menit 90 | Stabil | 165 bpm |
Padahal pace hampir tidak berubah.
Inilah sebabnya long run sering terasa makin berat meski kecepatan tetap sama.
Apakah cardiac drift normal?
Dalam banyak kasus, iya. Cardiac drift adalah respons fisiologis normal, terutama saat:
- Cuaca panas.
- Kelembapan tinggi.
- Long run.
- Hidrasi kurang optimal.
- Kebugaran aerobik belum matang.
Namun, besar kecilnya cardiac drift bisa memberi petunjuk tentang kondisi tubuh dan efisiensi aerobik seseorang. Pelari yang lebih terlatih biasanya mengalami cardiac drift lebih kecil dibanding pemula.
Apakah cardiac drift berbahaya?
Tidak selalu.
Pada kebanyakan orang sehat, cardiac drift bukan kondisi berbahaya. Ini lebih menunjukkan tubuh sedang bekerja lebih keras untuk mempertahankan performa. Namun, cardiac drift yang sangat besar bisa menjadi tanda:
- Overheating.
- Dehidrasi berat.
- Pacing terlalu agresif.
- Kurang recovery.
- Kondisi medis tertentu.
Jika disertai nyeri dada, pusing, sesak berat, jantung berdebar tidak teratur, atau hampir pingsan, segera hentikan lari dan cari bantuan medis.
Cardiac drift vs overtraining

Cardiac drift
- Muncul selama sesi lari.
- Biasanya membaik setelah istirahat.
- Sering dipicu panas dan dehidrasi.
Overtraining
- Performa turun berkepanjangan.
- Resting heart rate meningkat.
- Tubuh terus terasa lelah.
- Pemulihan memburuk.
- Mood ikut terganggu.
Cardiac drift bisa terjadi pada siapa pun, bahkan atlet elite.
Cara mengurangi cardiac drift
Cardiac drift memang tidak bisa dihilangkan sepenuhnya, tetapi bisa diminimalkan. Caranya:
- Perbaiki hidrasi
Ini langkah paling penting. Minum cukup sebelum dan selama lari membantu mempertahankan volume plasma darah. Hidrasi yang baik penting untuk mengurangi stres kardiovaskular selama olahraga.
- Latihan aerobik secara konsisten
Makin baik kapasitas aerobik kamu, makin efisien jantung bekerja, makin kecil cardiac drift. Inilah salah satu alasan easy run dan lari zone 2 sangat penting.
- Jangan terlalu agresif di awal
Start terlalu cepat membuat suhu tubuh naik lebih cepat dan memperbesar drift di akhir sesi.
- Perhatikan cuaca
Panas dan kelembapan sangat memengaruhi denyut jantung. Saat cuaca panas, pace mungkin perlu diturunkan. Target heart rate lebih realistis dibanding mengejar pace.
- Gunakan pendinginan tubuh
Strategi seperti memakai topi ventilasi, pakaian breathable, menyiram air, dan memilih lari pagi atau malam dapat membantu mengurangi beban panas.
Cardiac drift dan lari zona 2
Fenomena ini sering membuat pelari frustrasi saat latihan zona 2. Awalnya detak jantung masih sesuai target, tetapi lama-lama naik terus meski pace melambat. Ini bukan berarti latihan gagal.
Sebaliknya, cardiac drift justru sering dipakai pelatih endurance untuk menilai efisiensi aerobik. Makin kecil kenaikan heart rate pada pace stabil, biasanya:
- Kapasitas aerobik makin baik.
- Efisiensi tubuh meningkat.
- Daya tahan tubuh makin matang.
Tubuh sedang beradaptasi
Saat cardiac drift muncul, banyak pelari langsung merasa dirinya tidak cukup fit. Tubuh sebenarnya sedang melakukan banyak pekerjaan sekaligus, seperti:
- Mendinginkan diri.
- Menjaga aliran darah.
- Mempertahankan suplai oksigen.
- Mengimbangi kehilangan cairan.
Jantung berdetak lebih cepat bukan selalu tanda bahaya. Sering kali itu adalah bukti tubuh sedang beradaptasi terhadap stres latihan endurance. Masalah muncul ketika pelari memaksakan pace tanpa memperhatikan sinyal tubuh. Dalam olahraga endurance, kemampuan membaca respons tubuh sering sama pentingnya dengan kemampuan berlari itu sendiri.
Referensi
E. F. Coyle and J. Gonz??lez-Alonso, “Cardiovascular Drift During Prolonged Exercise: New Perspectives,” Exercise and Sport Sciences Reviews 29, no. 2 (April 1, 2001): 88–92, https://doi.org/10.1097/00003677-200104000-00009.
J. Gonzalez-Alonso et al., “Dehydration Reduces Cardiac Output and Increases Systemic and Cutaneous Vascular Resistance During Exercise,” Journal of Applied Physiology 79, no. 5 (November 1, 1995): 1487–96, https://doi.org/10.1152/jappl.1995.79.5.1487.
Rowell, Lawrence B. "Human Cardiovascular Control." New York: Oxford University Press, 1993.
Michael N Sawka et al., “Exercise and Fluid Replacement,” Medicine & Science in Sports & Exercise 39, no. 2 (February 1, 2007): 377–90, https://doi.org/10.1249/mss.0b013e31802ca597.
Brendon P. McDermott et al., “National Athletic Trainers’ Association Position Statement: Fluid Replacement for the Physically Active,” Journal of Athletic Training 52, no. 9 (September 1, 2017): 877–95, https://doi.org/10.4085/1062-6050-52.9.02.
Samuel N. Cheuvront and Robert W. Kenefick, “Dehydration: Physiology, Assessment, and Performance Effects,” Comprehensive Physiology 4, no. 1 (January 10, 2014): 257–85, https://doi.org/10.1002/cphy.c130017.
American Council on Exercise. ““Mind the Drift” of HR for Accurate Exercise Intensity Implementation in Prolonged Aerobic Exercise.” Diakses Mei 2026.





![[QUIZ] Warna Outfit Favoritmu Bisa Ungkap Cara Kamu Menghadapi Stres](https://image.idntimes.com/post/20250507/1000344956-3159a2704e4b6062c72c7e3be406df32-fff34f8ff180b130eb70c4bcc95165ea.jpg)

![[QUIZ] Dari Jenis Rasa Lapar yang Sering Kamu Alami, Ini Pola Metabolismemu](https://image.idntimes.com/post/20250219/salinan-dari-blue-cute-dog-quotes-desktop-wallpaper-11-f966ff7a7b2fe3f18673439831ee292b-5138268e3be9de90e9dfdf73ffc3760f.jpg)


![[QUIZ] Playlist Favoritmu Bisa Menunjukkan Cara Kamu Melawan Rasa Malas](https://image.idntimes.com/post/20250514/pexels-viralyft-16897649-8ed9de860b0ace40589a8766fe9a17d0-bcead74174e00b2d4a0e1455f0676a42.jpg)






![[QUIZ] Kami Bisa Tebak Kamu Lari karena FOMO atau Beneran Suka](https://image.idntimes.com/post/20260508/1000023808_ede40a8d-fa4b-4901-ba71-809fd59ebf2e.jpg)

