Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

7 Suplemen Ini Bisa Bermanfaat untuk Usia 20-an

7 Suplemen Ini Bisa Bermanfaat untuk Usia 20-an
ilustrasi seorang perempuan usia 20-an minum suplemen (freepik.com/benzoix)
Intinya Sih
Sisi Positif
  • Kebutuhan suplemen di usia 20-an sangat bergantung pada pola makan, gaya hidup, dan kondisi individu.

  • Beberapa nutrisi seperti vitamin D, zat besi, dan magnesium sering kurang terpenuhi pada populasi muda.

  • Suplemen bukan pengganti makanan, tetapi dapat membantu menutup kekurangan tertentu.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Usia 20-an sering dianggap sebagai fase tubuh paling fit. Energi masih tinggi, aktivitas padat, dan risiko penyakit kronis rasanya sangat kecil. Namun, justru di fase ini banyak kebiasaan terbentuk, termasuk pola makan yang tidak teratur, kurang tidur, dan stres yang perlahan memengaruhi kesehatan jangka panjang.

Dalam kondisi seperti ini, suplemen sering menjadi pilihan untuk “menambal” kekurangan. Namun pertanyaannya bukan sekadar perlu atau tidak, melainkan suplemen apa yang benar-benar dapat memberikan manfaat?

Faktanya, tidak semua orang butuh suplemen dan dan memilih secara tepat jauh lebih penting daripada sekadar ikut-ikutan tren wellness tertentu.

Table of Content

1. Vitamin D

1. Vitamin D

Vitamin D merupakan salah satu nutrisi yang paling sering kurang, bahkan di negara tropis. Vitamin ini berperan penting dalam kesehatan tulang, sistem imun, dan fungsi otot.

Gaya hidup indoor—bekerja di dalam ruangan, minim paparan sinar matahari—bikin banyak orang usia 20-an tidak mendapatkan cukup vitamin D. Menurut penelitian, kekurangan/defisiensi vitamin D cukup umum pada orang dewasa muda dan ini berkaitan dengan kelelahan serta penurunan fungsi imun.

Suplementasi dapat membantu, terutama bagi mereka yang jarang terpapar matahari. Namun, dosis perlu disesuaikan dan idealnya berdasarkan pemeriksaan kadar darah.

2. Magnesium

Magnesium berperan dalam fungsi saraf, otot, dan produksi energi. Mineral ini juga sering dikaitkan dengan kualitas tidur dan manajemen stres. Banyak orang tidak memenuhi asupan magnesium harian yang direkomendasikan.

Penelitian menunjukkan bahwa magnesium dapat membantu mengurangi gejala stres ringan dan meningkatkan kualitas tidur, terutama pada individu dengan kadar rendah.

Di usia 20-an yang sering diwarnai tekanan kerja dan kurang tidur, magnesium bisa menjadi tambahan yang relevan, yang tentu saja dengan mempertimbangkan kebutuhan individu.

3. Zat besi

Beberapa blister berisi tablet suplemen berwarna merah muda yang tersusun rapi di atas meja.
ilustrasi suplemen zat besi (pixabay.com/Jarmoluk)

Zat besi sangat penting untuk produksi hemoglobin dan transport oksigen dalam tubuh. Kekurangan zat besi dapat menyebabkan anemia, yang ditandai dengan kelelahan, pusing, dan penurunan konsentrasi.

Kelompok tertentu, terutama perempuan usia reproduktif, memiliki risiko lebih tinggi mengalami defisiensi zat besi. Anemia akibat kekurangan zat besi masih menjadi masalah global yang signifikan.

Penelitian menegaskan bahwa bahkan defisiensi ringan dapat memengaruhi performa fisik dan kognitif. Namun, suplementasi zat besi tidak boleh dilakukan sembarangan karena kelebihan zat besi juga berisiko. Pemeriksaan kadar ferritin sering dianjurkan sebelum konsumsi suplemen secara rutin.

4. Omega-3 (asam lemak EPA dan DHA)

Omega-3 berperan dalam kesehatan jantung, otak, dan fungsi antiinflamasi. Nutrisi ini umumnya diperoleh dari ikan berlemak, tetapi konsumsi ikan pada banyak orang masih rendah.

Asupan omega-3 yang cukup dapat membantu menjaga kesehatan kardiovaskular. Selain itu, omega-3 dapat berkontribusi pada kesehatan mental, termasuk mengurangi gejala depresi ringan, menurut temuan studi.

Untuk individu yang jarang mengonsumsi ikan, suplemen omega-3 bisa menjadi alternatif praktis.

5. Vitamin B kompleks

Vitamin B kompleks (termasuk B1, B6, B12, dan folat) berperan dalam metabolisme energi dan fungsi saraf. Kekurangan vitamin ini dapat menyebabkan kelelahan, gangguan mood, dan penurunan fokus.

Vitamin B penting untuk mengubah makanan menjadi energi yang dapat digunakan tubuh.

Penelitian menunjukkan bahwa suplementasi vitamin B dapat membantu mengurangi stres dan meningkatkan performa mental pada individu tertentu.

Bagi mereka dengan pola makan tidak seimbang atau sering melewatkan makan, vitamin B kompleks bisa membantu menutup kekurangan.

6. Probiotik

Botol suplemen probiotik berlabel merah diletakkan di rak kecil depan cermin di kamar mandi dengan latar berwarna putih.
ilustrasi suplemen probiotik (unsplash.com/Daily Nouri)

Kesehatan usus makin diakui sebagai faktor penting dalam kesehatan secara keseluruhan, termasuk sistem imun dan kesehatan mental. Probiotik dapat membantu menjaga keseimbangan mikrobiota usus.

Penelitian menunjukkan bahwa mikrobiota usus berperan dalam berbagai fungsi tubuh, termasuk regulasi imun dan mood. Namun, tidak semua orang membutuhkan suplemen ini. Efektivitasnya bergantung pada kondisi individu dan jenis strain yang digunakan.

7. Protein (supplemental protein)

Meskipun bukan “vitamin”, tetapi protein dalam bentuk suplemen sering digunakan untuk mendukung kebutuhan harian, terutama bagi mereka yang aktif secara fisik.

Asupan protein yang cukup penting untuk pemulihan otot dan komposisi tubuh. Suplementasi protein dapat membantu meningkatkan massa otot dan pemulihan setelah latihan.

Untuk individu dengan aktivitas tinggi atau asupan protein rendah, suplemen ini bisa menjadi pelengkap yang praktis.

Usia 20-an bukan berarti bebas dari kebutuhan nutrisi yang spesifik. Justru pada fase ini, gaya hidup modern sering membuat asupan nutrisi tidak optimal. Suplemen dapat membantu, tetapi bukan solusi utama.

Prioritas utama tetaplah pola makan seimbang, tidur cukup, dan manajemen stres dengan baik. Suplemen berfungsi sebagai pelengkap, bukan pengganti, dan sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan individu, bukan cuma ikut-ikutan.

Referensi

National Institutes of Health. “Vitamin D Fact Sheet.” Diakses April 2026.

Michael F. Holick, “Vitamin D Deficiency,” New England Journal of Medicine 357, no. 3 (July 18, 2007): 266–81, https://doi.org/10.1056/nejmra070553.

Office of Dietary Supplements, NIH. “Magnesium.” Diakses April 2026.

Behnood Abbasi et al., “The Effect of Magnesium Supplementation on Primary Insomnia in Elderly: A Double-blind Placebo-controlled Clinical Trial,” December 1, 2012, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC3703169/.

World Health Organization. “Anaemia.” Diakses April 2026.

Clara Camaschella, “Iron-Deficiency Anemia,” New England Journal of Medicine 372, no. 19 (May 6, 2015): 1832–43, https://doi.org/10.1056/nejmra1401038.

American Heart Association. “Omega-3 Fatty Acids.” Diakses April 2026.

Giuseppe Grosso et al., “Omega-3 Fatty Acids and Depression: Scientific Evidence and Biological Mechanisms,” Oxidative Medicine and Cellular Longevity 2014 (January 1, 2014): 1–16, https://doi.org/10.1155/2014/313570.

Harvard T.H. Chan School of Public Health. “B Vitamins.” Diakses April 2026.

Lauren M Young et al., “A Systematic Review and Meta-Analysis of B Vitamin Supplementation on Depressive Symptoms, Anxiety, and Stress: Effects on Healthy and ‘At-Risk’ Individuals,” Nutrients 11, no. 9 (September 16, 2019): 2232, https://doi.org/10.3390/nu11092232.

World Gastroenterology Organisation. “Probiotics Guidelines.” Diakses April 2026.

John F. Cryan et al., “The Microbiota-Gut-Brain Axis,” Physiological Reviews 99, no. 4 (August 28, 2019): 1877–2013, https://doi.org/10.1152/physrev.00018.2018.

International Society of Sports Nutrition. “Protein Intake Position Stand.” Diakses April 2026.

Ralf Jäger et al., “International Society of Sports Nutrition Position Stand: Protein and Exercise,” Journal of the International Society of Sports Nutrition 14, no. 1 (January 3, 2017), https://doi.org/10.1186/s12970-017-0177-8.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nena Zakiah
Nuruliar F
3+
Nena Zakiah
EditorNena Zakiah
Follow Us

Related Articles

See More