Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Manfaat Beras Kencur, Sediakan Energi hingga Antioksidan
ilustrasi jamu beras kencur (id.wikipedia.org/Mallory Cessair)
  • Beras kencur memiliki senyawa fenolik dan flavonoid dengan aktivitas antioksidan, tetapi manfaat klinisnya pada manusia belum banyak diteliti.

  • Potensi untuk mengurangi kelelahan, nyeri, dan peradangan terutama berasal dari penelitian pada hewan atau ekstrak kencur—bukan segelas beras kencur biasa.

  • Kandungan gula dan kebersihan pengolahan perlu diperhatikan agar manfaatnya tidak disertai risiko yang sebenarnya dapat dicegah.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Buat banyak orang, jamu punya tempat spesial. Bisa diminum setelah seharian bekerja, berolahraga, atau saat cuma mau menikmati rasa manis dengan aroma rempah.

Beras kencur memang mengandung sejumlah senyawa bioaktif. Namun, bukti ilmiahnya perlu ditafsirkan secara hati-hati karena banyak penelitian menggunakan ekstrak kencur dengan dosis tertentu, bukan jamu beras kencur yang dijual sehari-hari.

Berikut beberapa potensi manfaat jamu beras kencur bagi kesehatan tubuh.

1. Menyediakan senyawa dengan aktivitas antioksidan

Beras kencur mengandung senyawa fenolik dan flavonoid yang dapat bekerja sebagai antioksidan. Antioksidan membantu menetralkan radikal bebas, yaitu molekul reaktif yang dapat merusak komponen sel apabila jumlahnya berlebihan.

Sebuah penelitian menemukan bahwa sampel minuman beras kencur memiliki aktivitas penangkal radikal bebas, kandungan fenolik, flavonoid, serta kemampuan mereduksi zat pengoksidasi. Aktivitas tersebut masih ditemukan setelah proses pemanasan, meskipun besarnya berbeda menurut metode pengolahan.

Akan tetapi, hasil uji laboratorium tidak otomatis berarti beras kencur terbukti mencegah kanker, penyakit jantung, atau memperkuat imun. Untuk membuktikan manfaat tersebut masih perlu penelitian lebih lanjut yang mengukur dampaknya langsung pada manusia.

2. Berpotensi membantu mengurangi kelelahan fisik

ilustrasi istirahat di rumah (magnific.com/freepik)

Reputasi beras kencur sebagai jamu penambah tenaga memiliki sedikit dukungan dari penelitian. Dalam sebuah penelitian pada mencit, ramuan modifikasi beras kencur memperpanjang waktu berenang dan mengurangi peningkatan kadar laktat darah setelah aktivitas fisik.

Penelitian lain pada tikus menemukan bahwa sirop berisi ekstrak etanol rimpang kencur memberikan efek antikelelahan yang meningkat sesuai dosis. Namun, penelitian tersebut menggunakan ekstrak terstandar pada hewan, bukan minuman beras kencur yang biasa dikonsumsi.

Dengan demikian, beras kencur belum bisa disebut sebagai peningkat stamina yang teruji. Rasa lebih bertenaga setelah meminumnya mungkin berasal dari karbohidrat dalam beras dan gula yang cepat menyediakan energi, bukan semata-mata dari kencur.

3. Memiliki potensi antiinflamasi

Kencur mengandung senyawa seperti ethyl p-methoxycinnamate atau EPMC. Penelitian pada sel dan hewan menunjukkan bahwa senyawa ini dapat memengaruhi sejumlah jalur peradangan, termasuk interleukin-1 dan tumor necrosis factor-alpha.

Sebuah uji klinis skala kecil membandingkan ekstrak kencur 160 miligram per hari dengan meloksikam pada pasien osteoartritis lutut. Dari 40 peserta, 35 menyelesaikan penelitian selama 10 hari. Nyeri, kekakuan, dan fungsi fisik membaik pada kedua kelompok tanpa perbedaan bermakna di antara keduanya.

Temuan tersebut menjanjikan, tetapi penelitian berukuran kecil dan berlangsung singkat. Hasilnya juga tidak membuktikan bahwa jamu beras kencur dapat menggantikan obat antinyeri atau terapi osteoartritis.

4. Dapat memberikan tambahan energi dengan cepat

ilustrasi perempuan minum jamu (magnific.com/kroshka__nastya)

Beras dan pemanis membuat beras kencur mengandung karbohidrat. Minuman ini bisa memberikan tambahan energi, terutama ketika diminum setelah beraktivitas atau saat asupan makanan sedang berkurang.

Akan tetapi, manfaat tersebut dapat berubah apabila jamu dibuat sangat manis atau diminum berkali-kali dalam sehari.

Asupan gula perlu dibatasi untuk menurunkan risiko kenaikan berat badan yang tidak sehat dan kerusakan gigi.

Orang dengan diabetes, prediabetes, atau yang sedang mengatur berat badan sebaiknya memilih beras kencur rendah gula dan mengategorikannya sebagai minuman manis, bukan pengganti air putih.

Cara mengonsumsi beras kencur dengan lebih aman

Selain gula, kebersihan pengolahan merupakan hal penting. Penelitian terhadap sampel beras kencur dari beberapa produsen lokal menemukan kontaminasi bakteri, termasuk koliform dan Escherichia coli, serta ragi dan kapang.

Temuan tersebut tidak berarti semua beras kencur terkontaminasi, tetapi menunjukkan bahwa jamu ini dapat menjadi tempat mikroba berkembang apabila kebersihan dan penyimpanannya buruk.

Penelitian lain menemukan bahwa blansir dan pasteurisasi dapat menurunkan jumlah mikroba dalam beras kencur. Pilih produk yang dibuat dengan air bersih, alat yang higienis, disimpan dingin, serta tidak berbau asam, berbuih, atau berubah rasa. Untuk produk kemasan, periksa izin edar dan tanggal kedaluwarsanya.

Jadi, jamu beras kencur dapat menyediakan senyawa dengan aktivitas antioksidan dan tambahan energi, disertai potensi antikelelahan serta antiinflamasi. Namun, masih butuh pembuktian lebih kuat pada manusia.

Beras kencur boleh menjadi bagian dari pola makan, tetapi bukan obat untuk kelelahan berkepanjangan, nyeri terus-menerus, atau penyakit tertentu.

Referensi

Gunardi, Wani Devita, Virginia Marsella Teiseran, dan Kris Herawan Timotius. “Microbial Contamination and Bioactive Compounds of Jamu Beras Kencur.” Jurnal Bioteknologi & Biosains Indonesia 11, no. 2 (2024): 262–77. https://ejournal.brin.go.id/JBBI/article/download/5966/6832.

Herlina, Nina, Cyntia Wahyuningrum, Almasyhur Almasyhur, Nhadira Nheistricia, Teddy Aryudha, Dea Ananda Safira, dan Eka Herlina. “Aktivitas Penghambatan Radikal Bebas Jamu Modifikasi Beras Kencur dan Pengaruhnya terhadap Ketahanan Fisik Mencit.” PHARMACY: Jurnal Farmasi Indonesia (2023). https://doi.org/10.30595/pharmacy.v0i0.16691.

Kiptiyah, Sakina Yeti, Eni Harmayani, dan Umar Santoso. “Study of Microbiological Quality and Antioxidant Activity Beras Kencur Drink with Heating Process.” Indonesian Food and Nutrition Progress 14, no. 2 (2017). https://doi.org/10.22146/ifnp.29725.

Syahruddin, Akmal Novrian, Citra Kesumasari Dahlan, dan Nurpudji A. Taslim. “The Effects of Kaempferia galanga L. Extract on Pain, Stiffness and Functional Physic in Patient with Knee Osteoarthritis: Double Blind Randomized Clinical Trial.” International Journal of Science and Healthcare Research 2, no. 4 (2017): 37–43. https://ijshr.com/IJSHR_Vol.2_Issue.4_Oct2017/IJSHR_Abstract.006.html.

Tupenalay, Devinta Julian, Sukardiman, Suciati, Rice Disi Oktarina, dan Rosita Handayani. “Anti-fatigue Activity of Syrup Containing Ethanolic Extract of Kencur (Kaempferia galanga L.) Rhizome in Wistar Rats.” Journal of Pharmacy & Pharmacognosy Research 12, no. 6 (2024): 1170–77. https://doi.org/10.56499/jppres24.1969_12.6.1170.

Umar, Muhammad Ihtisham, Mohd Zaini Asmawi, Amirin Sadikun, Amin Malik Shah Abdul Majid, Fouad Saleh Resq Al-Suede, Loiy Elsir Ahmed Hassan, Razauden Altaf, dan Majid Bin Abdul Kadir Ahamed. “Ethyl-p-methoxycinnamate Isolated from Kaempferia galanga Inhibits Inflammation by Suppressing Interleukin-1, Tumor Necrosis Factor-α, and Angiogenesis by Blocking Endothelial Functions.” Clinics 69, no. 2 (2014): 134–44. https://doi.org/10.6061/clinics/2014(02)10.

World Health Organization. "Guideline: Sugars Intake for Adults and Children." Geneva: World Health Organization, 2015. https://www.who.int/publications/i/item/9789241549028.

Curated For You

Editorial Team

Related Article