Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Lari Bareng Komunitas Bisa Bikin Lebih Konsisten, Ini Alasannya

Lari Bareng Komunitas Bisa Bikin Lebih Konsisten, Ini Alasannya
ilustrasi komunitas lari (pexels.com/Edmond Dantès)
Intinya Sih
  • Lari bersama komunitas bisa membantu konsistensi karena ada jadwal, dukungan sosial, dan rasa tanggung jawab untuk hadir.

  • Studi menunjukkan dukungan sosial berkaitan dengan tingkat aktivitas fisik yang lebih tinggi, termasuk aktivitas jalan, intensitas sedang, dan intensitas berat.

  • Komunitas yang baik bukan yang memaksa semua orang cepat, melainkan yang punya pace jelas, aman, inklusif, dan memberi ruang untuk progres bertahap

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Lari adalah salah satu olahraga populer yang mudah dilakukan. Sering kali yang sulit bukannya memulai, melainkan mengulanginya lagi lusa, minggu depan, bulan depan, lalu tetap bertahan bahkan saat kerja sedang padat atau motivasi turun. Nah, di sinilah komunitas bisa membantu, membuat lari dari kegiatan sesekali menjadi rutinitas sosial.

Dalam komunitas lari biasanya ada jadwal yang jelas, ada orang yang menunggu, ada teman dengan pace serupa atau tujuan yang sama, dan ada rasa bahwa kamu tidak sedang memulainya sendirian.

Tren ini juga terlihat secara global. Laporan Strava Year in Sport 2025 mencatat jumlah klub baru di Strava hampir empat kali lipat sepanjang 2025 hingga mencapai 1 juta klub, dengan running club tumbuh 3,5 kali lipat. Event yang dikelola oleh klub juga naik 1,5 kali secara tahunan, menunjukkan bahwa komunitas olahraga makin sering berpindah dari online ke pertemuan nyata.

1. Komunitas memberi “alasan hadir” saat motivasi sedang turun

Motivasi pribadi tidak selalu stabil. Ada hari saat mood sedang drop, badan rasanya berat, cuaca tidak mendukung, atau pekerjaan membuat stres. Kalau lari cuma bergantung pada mood, sesi latihan mudah sekali batal.

Komunitas lari membantu lewat akuntabilitas ringan. Saat sudah janji hadir di sesi Selasa pagi atau long run akhir pekan, kamu tinggal mengikuti jadwal. Bertemu teman juga bisa menjadi tambahan motivasi.

Secara ilmiah, dukungan sosial memang berkaitan dengan aktivitas fisik. Studi longitudinal pada orang dewasa di Amerika Serikat menemukan bahwa dukungan sosial untuk aktivitas fisik berhubungan positif dengan waktu aktivitas fisik mingguan. Setiap kenaikan skor dukungan sosial dikaitkan dengan tambahan sekitar 11 menit aktivitas fisik per minggu.

2. Lari terasa lebih aman dan tidak terlalu mengintimidasi

Dua orang berolahraga lari bersama di jalur taman yang rindang dengan pepohonan hijau di sekitarnya pada siang hari.
ilustrasi lari bareng teman (pexels.com/Ketut Subiyanto)

Bagi pemula, lari sendirian bisa terasa membingungkan. Komunitas lari yang baik bisa memberi pace grup, ada rute, ada teman yang lebih berpengalaman, dan ada orang untuk bertanya.

Rasa aman ini penting karena banyak orang berhenti lari bukan karena tidak mampu, tetapi karena pengalaman pertamanya terlalu berat. Kalau sesi pertama dibuat terlalu cepat, tubuh sakit semua, lalu enggan lari lagi. Fase memulai inilah yang penting buat beberapa orang.

Tinjauan sistematis tentang program olahraga berbasis komunitas menemukan bahwa program kelompok dapat menciptakan rasa memiliki, dan sifat sosial serta suportif dari program tampak membantu kepatuhan. Dalam studi yang memiliki ukuran sebanding, rata-rata konsistensi mencapai 69,1 persen.

3. Ada identitas baru

Salah satu hal yang membuat kebiasaan bertahan adalah identitas. Beberapa kali lari bareng komunitas, dan akhirnya punya teman lari, lalu daftar race 5K atau 10K, akhirnya membuat lari jadi bagian besar dalam hidupmu.

Dalam psikologi aktivitas fisik, lingkungan sosial dapat memengaruhi kebiasaan lewat norma kelompok, dukungan teman, rasa memiliki, dan identitas sosial. Sebuah metaanalisis tahun 2026 dalam jurnal Nature Human Behaviour menjelaskan bahwa pengaruh sosial seperti dinamika kelompok, norma sosial, dan dukungan teman diasumsikan berperan dalam aktivitas fisik.

Tinjauan itu juga mencatat bahwa pendekatan kelompok dan individual sama-sama bisa efektif, tetapi kelompok dapat memberi manfaat lewat rasa terhubung dan dukungan sosial jika lingkungannya positif.

Untuk pelari pemula, melihat orang lain yang juga pelan, ngos-ngosan, juga belajar, membuat lari terasa lebih mungkin dilakukan.

Konsistensi tumbuh bukan dari tekanan untuk langsung cepat, melainkan dari pengalaman bahwa tubuh bisa beradaptasi pelan-pelan.

4. Kuncinya, pilih komunitas lari yang sehat

Beberapa orang berlari bersama di jalan terbuka dengan pakaian olahraga, suasana mendung dan latar belakang jembatan.
ilustrasi berlari bersama komunitas (pexels.com/cottonbro studio)

Tidak semua komunitas otomatis cocok. Komunitas yang terlalu kompetitif, tidak ada pembagian pace, atau membuat pemula merasa tertinggal justru bisa bikin kapok.

Pilih komunitas yang benar-benar inklusif dan punya informasi jelas, dari mulai jarak, pace, rute, titik kumpul, apakah ada sweeper, dan apakah pemula boleh ikut.

Di awal, pilih easy run pendek, bukan sesi interval atau long run. Jangan malu jalan kaki. Jangan memaksakan ikut pace yang terlalu cepat. Konsistensi lebih penting daripada terlihat kuat di satu sesi.

Rekomendasi umumnya orang dewasa melakukan setidaknya 150–300 menit aktivitas aerobik intensitas sedang per minggu, atau 75–150 menit intensitas berat, serta latihan penguatan otot 2 hari per minggu. Komunitas lari bisa menjadi salah satu cara mencapai target itu, tetapi tetap perlu diimbangi istirahat, latihan kekuatan, dan mendengarkan sinyal tubuh.

Komunitas bisa bikin lari lebih konsisten karena membuat lari punya struktur, teman, rasa aman, dan alasan untuk kembali.

Saat motivasi sedang turun, jadwal dan orang-orang di sekitar bisa menjadi pegangan. Saat progres terasa lambat, komunitas bisa mengingatkan bahwa pelari lain juga pernah di fase itu.

Lari tetap bisa dilakukan sendiri. Namun, bagi banyak orang, komunitas bisa membuat lari lebih manusiawi dan kamu tidak harus sendirian.

Referensi

Strava. “Strava Releases 12th Annual Year in Sport Trend Report, Revealing That Doomscrolling Is Out, Movement Is In.” Diakses Juli 2026.

Smith, Grace S. E., et al. “The Relationship between Social Support for Physical Activity and Physical Activity across Nine Years in Adults.” International Journal of Environmental Research and Public Health 20, no. 6 (2023): 5028. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC10002128/.

Farrance, Clare, Fotini Tsofliou, and Carol Clark. “Adherence to Community Based Group Exercise Interventions for Older People: A Mixed-Methods Systematic Review.” Preventive Medicine 87 (2016): 155–166. https://doi.org/10.1016/j.ypmed.2016.02.037.

Kritz, Marlene, Hugh Riddell, Daryn Olsen, et al. “Individual versus Group-Based Interventions: A Systematic Review and Meta-Analysis of Physical Activity, Functional, Psychosocial and Health Outcomes.” Nature Human Behaviour 10 (2026): 1109–1121. https://doi.org/10.1038/s41562-026-02429-0.

Bull, Fiona C., Salih S. Al-Ansari, Stuart Biddle, et al. “World Health Organization 2020 Guidelines on Physical Activity and Sedentary Behaviour.” British Journal of Sports Medicine 54, no. 24 (2020): 1451–1462. https://doi.org/10.1136/bjsports-2020-102955.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More