Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Anak yang Pendek Pasti Stunting? Belum Tentu!

Anak yang Pendek Pasti Stunting? Belum Tentu!
ilustrasi anak-anak bermain (pexels.com/Windo Nugroho)
Intinya Sih
  • Anak yang terlihat lebih pendek dari teman sebayanya belum tentu masuk kategori stunting.

  • Stunting ditentukan melalui pengukuran panjang atau tinggi badan menurut usia, bukan berdasarkan pengamatan mata.

  • Anak yang pendek perlu dinilai berdasarkan tren pertumbuhan, tinggi orang tua, pola makan, riwayat kesehatan, dan kecepatannya bertambah tinggi.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Ketika orang tua melihat anak sedang bermain bersama teman-teman seusianya dan anak terlihat paling kecil, orang tua mungkin membandingkan tinggi badannya dan khawatir anak kurang gizi atau bahkan stunting.

Faktanya, tubuh yang terlihat pendek bukan penentu stunting. Ada anak yang memang memiliki perawakan lebih kecil karena faktor keluarga, ada yang mengalami pertumbuhan lebih lambat tetapi tetap sehat, dan ada pula yang pertumbuhannya terhambat akibat masalah gizi atau kondisi medis.

1. Pendek tidak sama dengan stunting

Stunting adalah kondisi saat anak mengalami gangguan pertumbuhan karena kekurangan gizi dalam waktu lama, terutama sejak dalam kandungan hingga usia dua tahun.

Anak masuk ke dalam kategori stunting ketika tinggi atau panjang badannya menunjukkan angka di bawah standar (-2 standar deviasi). Penilaian status gizi dengan standar deviasi tersebut biasanya menggunakan grafik pertumbuhan anak (GPA) dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Artinya, status tersebut harus ditentukan dengan pengukuran yang tepat, usia yang akurat, serta kurva pertumbuhan sesuai jenis kelamin.

Sederhananya, anak bisa terlihat lebihpendek dibandingkan teman-temannya, tetapi belum tentu masuk kategori stunting apabila tinggi menurut usianya masih berada di atas batas tersebut. Sebaliknya, apabila hasil pengukuran yang benar menunjukkan skor tinggi menurut usia di bawah -2 standar deviasi, anak memenuhi definisi antropometri stunting.

Namun, angka itu belum otomatis menjelaskan penyebabnya. Sebuah artikel dalam The Journal of Nutrition menekankan bahwa stunting sangat berguna untuk memantau masalah pertumbuhan dan gizi pada tingkat populasi, tetapi batas tinggi badan tersebut tidak boleh dipakai sendirian untuk menyimpulkan bahwa setiap anak pasti mengalami malnutrisi atau penyakit tertentu.

2. Mengapa anak bisa bertubuh pendek?

Sekelompok anak bermain bersama di lapangan hijau dengan bola kuning dan ban bekas di siang hari yang cerah.
ilustrasi anak-anak bermain (pexels.com/Jeffry Surianto)

Salah satu penyebab yang cukup umum adalah perawakan pendek familial. Artinya, salah satu atau kedua orang tua juga bertubuh pendek. Anak biasanya tumbuh dengan kecepatan yang normal dan mengikuti garis pertumbuhannya sendiri, hanya saja berada pada persentil yang lebih rendah.

Kemungkinan lain adalah constitutional delay of growth and puberty (CDGP). Anak cenderung lebih pendek selama masa kanak-kanak dan mengalami pubertas lebih lambat, tetapi masih memiliki waktu tumbuh lebih panjang. Ada pula anak bertubuh pendek yang sehat tanpa penyebab yang dapat diidentifikasi, yang disebut perawakan pendek idiopatik.

Meski demikian, tubuh pendek juga dapat berkaitan dengan:

  • Kekurangan energi, protein, atau zat gizi tertentu.
  • Infeksi berulang atau penyakit kronis.
  • Gangguan penyerapan nutrisi, misalnya penyakit celiac atau penyakit radang usus.
  • Gangguan hormon tiroid atau hormon pertumbuhan.
  • Penyakit ginjal, jantung, paru-paru, atau kelainan tulang.
  • Kondisi genetik, seperti sindrom Turner atau sindrom Noonan.
  • Riwayat lahir prematur atau kecil untuk usia kehamilan tanpa pertumbuhan kejar yang memadai.

Karena penyebabnya beragam, memberikan susu, vitamin, obat penambah nafsu makan, atau suplemen peninggi badan belum tentu menyelesaikan masalah. Penanganan perlu disesuaikan dengan penyebab yang ditemukan.

3. Jangan hanya melihat satu angka pengukuran

Satu kali hasil pengukuran memang tidak boleh diabaikan, tetapi pola pertumbuhan dari waktu ke waktu lebih bermakna. Anak yang selalu berada pada persentil rendah namun terus tumbuh dengan stabil dapat memiliki kondisi berbeda dari anak yang awalnya tumbuh normal lalu garis pertumbuhannya terus menurun.

American Academy of Pediatrics menjelaskan bahwa persentil ke-10 tidak otomatis lebih buruk daripada persentil ke-50. Hal yang paling perlu diperhatikan adalah konsistensi tren pertumbuhan anak.

Untuk menilainya, tenaga kesehatan akan mempertimbangkan:

  • Hasil pengukuran tinggi dan berat badan sebelumnya.
  • Kecepatan pertambahan tinggi anak.
  • Tinggi badan ayah dan ibu.
  • Riwayat kehamilan, kelahiran, serta berat dan panjang badan lahir.
  • Pola makan dan kesulitan makan.
  • Infeksi berulang atau penyakit kronis.
  • Perkembangan motorik, bahasa, dan kemampuan sosial.
  • Waktu dimulainya pubertas pada anak yang lebih besar.

Bawa buku kesehatan atau catatan pertumbuhan ketika berkonsultasi dengan dokter. Jika memungkinkan, ukur anak di fasilitas kesehatan menggunakan alat dan teknik yang tepat. Menandai tinggi badan anak di dinding tidak cukup.

4. Kapan anak perlu diperiksa lebih lanjut?

Seorang dokter menggunakan stetoskop untuk memeriksa kesehatan seorang anak laki-laki di dalam ruangan dengan suasana hangat.
ilustrasi dokter memeriksa anak (unsplash.com/Elianna Gill)

Konsultasikan pertumbuhan anak kepada dokter apabila tinggi badannya berada di bawah persentil ketiga, pertumbuhannya makin melambat, atau garis tinggi badannya terus menurun pada kurva pertumbuhan.

Anak juga perlu dievaluasi apabila tingginya jauh di bawah perkiraan berdasarkan tinggi kedua orang tua.

Pemeriksaan juga penting apabila tubuh pendek disertai:

  • Berat badan sulit naik atau justru menurun.
  • Diare, muntah, atau sakit perut berkepanjangan.
  • Batuk lama atau infeksi yang sering berulang.
  • Anak sangat mudah lelah atau tampak pucat.
  • Kesulitan makan, mengunyah, atau menelan.
  • Perkembangan terlambat.
  • Proporsi tubuh yang tampak tidak biasa.
  • Tidak menunjukkan pertumbuhan kejar setelah lahir kecil.
  • Tanda pubertas tidak muncul sesuai usia.

Dokter mungkin cukup memantau kurva pertumbuhan selama beberapa bulan. Pemeriksaan darah, usia tulang melalui rontgen tangan, tes hormon, atau pemeriksaan lain hanya dilakukan apabila riwayat dan pemeriksaan fisik menunjukkan kebutuhan tertentu. Tidak semua anak yang pendek perlu rangkaian tes lengkap atau terapi hormon pertumbuhan.

Jadi, anak yang tampak pendek tidak selalu stunting. Pastikan pengukurannya benar dan lihat posisinya pada kurva pertumbuhan. Jika hasilnya berada di bawah batas atau pola pertumbuhannya melambat, cari tahu penyebabnya agar anak mendapatkan dukungan yang benar-benar ia butuhkan.

Referensi

American Academy of Pediatrics. “Understanding Growth Charts: A Parent’s Guide to Percentiles and Z-Scores.” Diakses Juli 2026.

Caro, Rebecca, Paul Savel, and Paul Isaiah Moss. “Evaluation of Short and Tall Stature in Children.” American Family Physician 111, no. 6 (2025): 532–542. https://www.aafp.org/pubs/afp/issues/2025/0600/short-tall-stature-children.html.

Pediatric Endocrine Society. “Short Stature: A Guide for Families.” Diakses Juli 2026.

Perumal, Nandita, Diego G. Bassani, and Daniel E. Roth. “Use and Misuse of Stunting as a Measure of Child Health.” The Journal of Nutrition 148, no. 3 (2018): 311–315. https://doi.org/10.1093/jn/nxx064.

World Health Organization. “Stunting in a Nutshell.” Diakses Juli 2026.

Hermina Hospitals. "Mengenal apa itu Stunting? Penyebab, Ciri -ciri, Pencegahan." Diakses Juli 2026.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More