American Diabetes Association. “Fruit.” Diakses Juli 2026.
World Health Organization. “WHO Calls on Countries to Reduce Sugars Intake among Adults and Children.” Diakses Juli 2026.
Chul Won Lee et al., “Consumption of Fruit Juice and Risk of Type 2 Diabetes Mellitus: A Systematic Review and Meta-Analysis of Cohort Studies,” The American Journal of Medicine (2025), https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/40393612/.
Edzard Basch, Steven Gabardi, and Catherine Ulbricht, “Bitter Melon (Momordica charantia): A Review of Efficacy and Safety,” American Journal of Health-System Pharmacy 60, no. 4 (2003): 356–359, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/12625217/.
Mary M. Murphy et al., “100% Fruit Juice and Measures of Glucose Control and Insulin Sensitivity: A Systematic Review and Meta-analysis of Randomised Controlled Trials,” Journal of Nutritional Science 6 (2017): e59, https://doi.org/10.1017/jns.2017.63.
American Diabetes Association. “Signs, Symptoms, and Treatment for Hypoglycemia.” Diakses Juli 2026.
4 Jus yang Sebaiknya Dihindari oleh Pasien Diabetes

Jus buah tidak selalu dilarang, tetapi tetap mengandung karbohidrat yang dapat menaikkan gula darah.
Minuman rasa buah, nektar, dan jus yang ditambah gula, madu, sirop, atau susu kental manis sebaiknya dihindari.
Buah utuh umumnya lebih dianjurkan karena lebih mengenyangkan dan menyediakan lebih banyak serat.
Jus menjadi bagian dari pola makan banyak orang. Namun, bagi pasien diabetes, kandungan buah saja belum cukup untuk menentukan apakah minuman tersebut aman dikonsumsi.
Jus buah tetap mengandung karbohidrat. Saat buah diperas dan sebagian besar ampasnya dibuang, gula dari beberapa buah dapat terkumpul dalam satu gelas, sementara kandungan seratnya jauh lebih sedikit dibanding buah utuh. Akibatnya, jus lebih mudah diminum dalam jumlah banyak tanpa memberikan rasa kenyang yang sama.
Table of Content
Tidak semua jus pantangan diabetes
Pasien diabetes tidak selalu harus menghindari jus buah sepenuhnya. American Diabetes Association menyebut jus buah 100 persen masih dapat dimasukkan ke dalam pola makan diabetes. Namun, porsinya relatif kecil. Sekitar sepertiga hingga setengah cangkir jus sudah dapat mengandung kurang lebih 15 gram karbohidrat. Itu setara dengan sekitar 80–120 mililiter, bukan satu gelas besar.
Kandungan karbohidratnya juga harus dihitung sebagai bagian dari makanan atau camilan, bukan dianggap sebagai minuman bebas.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menggolongkan gula yang secara alami terdapat dalam jus buah sebagai free sugars atau gula bebas. Kategori ini berbeda dari gula dari buah utuh. WHO merekomendasikan agar asupan gula bebas dibatasi hingga kurang dari 10 persen total energi harian dan, jika memungkinkan, di bawah 5 persen.
Berikut ini jus yang sebaiknya dihindari oleh orang dengan diabetes.
1. Minuman rasa buah dan nektar dengan gula tambahan
Produk dengan tulisan “minuman buah”, “rasa buah”, “fruit drink”, “juice drink”, “punch”, atau “nektar” belum tentu merupakan jus buah 100 persen. Produk tersebut dapat mengandung air, konsentrat buah, gula, sirop glukosa, atau pemanis lainnya. Jenis inilah yang paling perlu dihindari atau sangat dibatasi.
Metaanalisis tahun 2025 menemukan bahwa konsumsi jus yang bukan 100 persen berkaitan dengan peningkatan risiko diabetes tipe 2, sedangkan jus buah 100 persen tidak menunjukkan manfaat perlindungan yang sama seperti buah utuh.
Periksa daftar komposisi serta jumlah karbohidrat total dan gula per sajian. Perhatikan pula jumlah sajian dalam satu botol. Satu kemasan bisa saja berisi dua atau tiga sajian.
2. Jus yang ditambah gula, madu, atau kental manis

Jus buah segar pun bisa menjadi minuman tinggi gula apabila ditambah gula pasir, madu, sirop, kental manis, es krim, atau krimer manis. Label “alami” pada madu atau gula aren tidak mengubah fakta bahwa bahan tersebut tetap menambah karbohidrat yang perlu diperhitungkan.
Pesanlah jus tanpa tambahan pemanis. Namun, tanpa gula tambahan bukan berarti bebas gula karena buah tetap memiliki gula alami.
3. Jus porsi besar dari beberapa buah sekaligus
Satu gelas jus mangga, apel, anggur, jeruk, nanas, atau campuran beberapa buah dapat membutuhkan lebih dari satu porsi buah. Makin banyak buah yang digunakan, makin besar pula kemungkinan jumlah karbohidratnya.
Bukan cuma jenis buah, perhatikan juga jumlah buah dan ukuran gelas. Jus 100 persen dalam botol besar tetap dapat meningkatkan asupan karbohidrat apabila diminum tanpa mengukur porsi.
Menambahkan air tidak otomatis menghilangkan gulanya. Gula baru berkurang jika jumlah jus memang dikurangi, misalnya cuma menuang setengah gelas kecil lalu menambahkan air.
4. Jus “detoks” atau herbal yang diklaim menurunkan gula darah
Kata “detoks”, “diabetes-friendly”, atau “penurun gula darah” tidak menjamin suatu jus aman maupun efektif. Produk tersebut masih dapat mengandung banyak buah, madu, kurma, atau bahan lain yang mengandung karbohidrat.
Jus pare dan berbagai ramuan tanaman juga tidak boleh digunakan sebagai pengganti obat diabetes. Bukti klinis mengenai pare masih terbatas dan belum cukup kuat untuk menjadikannya terapi standar.
Jangan mengurangi dosis obat atau insulin hanya karena rutin mengonsumsi jus tertentu.
Buah utuh biasanya menjadi pilihan yang lebih baik

Jika ingin mengonsumsi buah, utamakan buah segar, buah beku tanpa gula tambahan, atau buah kalengan tanpa sirop.
Buah utuh menyediakan serat dan membutuhkan waktu lebih lama untuk dikunyah sehingga umumnya lebih mengenyangkan daripada jus.
Tidak perlu menghindari buah manis. Buah tetap mengandung karbohidrat, tetapi dapat dimasukkan ke dalam rencana makan sehari-hari dengan memperhatikan jenis, jumlah, dan respons gula darah pada masing-masing orang.
Sebuah metaanalisis uji klinis menemukan bahwa konsumsi jus buah 100 persen secara keseluruhan tidak memperburuk kadar glukosa puasa, insulin, resistansi insulin, atau HbA1c secara signifikan. Namun, hasil tersebut tidak berarti jus mampu mengobati diabetes atau boleh diminum tanpa batasan.
Kalau tetap mau minum jus, lakukan ini
Pilih jus dengan keterangan 100 persen buah dan tanpa tambahan gula.
Batasi porsinya sekitar 80–120 mililiter atau sesuaikan dengan anjuran dokter maupun ahli gizi.
Hitung kandungan karbohidratnya sebagai bagian dari rencana makan.
Periksa gula darah sebelum dan sekitar satu hingga dua jam setelah minum jus apabila kamu sedang mencoba produk atau porsi baru. Respons setiap orang dapat berbeda, tergantung jenis diabetes, obat, insulin, makanan lain yang dikonsumsi, dan aktivitas fisik.
Air putih tetap menjadi pilihan utama untuk memenuhi kebutuhan cairan. Pilihan lain yang umumnya lebih rendah karbohidrat meliputi teh tawar, kopi tanpa gula, atau infused water.
Ada kondisi ketika jus buah dibutuhkan
Jus dapat digunakan sebagai sumber karbohidrat kerja cepat saat terjadi hipoglikemia (gula darah rendah).
Ada anjuran 15–15, yaitu ketika glukosa darah berada pada atau di bawah 70 mg/dL, konsumsi sekitar 15 gram karbohidrat cepat serap, tunggu 15 menit, lalu periksa kembali.
Salah satu pilihannya adalah setengah cangkir atau sekitar 120 mililiter jus. Jika kadar gula masih rendah, langkah tersebut dapat diulang.
Praktik ini berbeda dari kebiasaan minum jus setiap hari. Jus dipakai dalam jumlah terukur untuk menangani gula darah rendah, bukan sebagai minuman rutin atau terapi untuk menurunkan gula darah.
Jenis jus yang sebaiknya dihindari oleh pasien diabetes meliputi minuman rasa buah, nektar, dan jus dengan tambahan gula. Jus buah 100 persen masih mungkin dikonsumsi sedikit, tetapi buah utuh menjadi pilihan yang lebih mengenyangkan dan mudah dikontrol porsinya. Jika gula darah sering melonjak atau turun setelah minum jus, bicarakan dengan dokter atau ahli gizi untuk menyesuaikan pola makan dan pengobatan.
Referensi








![[QUIZ] Dari Cara Kamu Ngemil di Kantor, Kami Ungkap Risiko Kesehatanmu](https://image.idntimes.com/post/20250805/1000437091_25e33428-64c8-41c2-8596-b0832973e9d5.jpg)
![[QUIZ] Kamu Butuh Rest Day atau Active Recovery? Cek Kondisimu di Sini](https://image.idntimes.com/post/20260714/upload_0bdce4901725d94b6b6f10a30dec8b93_0592cd02-9894-477c-bc4d-ee5633d01051.png)
![[QUIZ] Kebiasaan Nonton Bola Kamu Berisiko bagi Kesehatan atau Tidak?](https://image.idntimes.com/post/20260607/61726_917d5531-e4ad-4461-83f6-2aeffb197629.jpg)










