Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Orang yang Malnutrisi Pasti Kurus, Benar atau Salah?

Orang yang Malnutrisi Pasti Kurus, Benar atau Salah?
ilustrasi makan junk food (pexels.com/Ron Lach)
Intinya Sih
  • Malnutrisi tidak selalu membuat seseorang terlihat kurus. Kondisi ini mencakup kekurangan, kelebihan, atau ketidakseimbangan energi dan zat gizi.

  • Orang dengan berat badan normal, berlebih, atau obesitas tetap dapat mengalami kekurangan vitamin, mineral, protein, maupun massa otot.

  • Status gizi tidak cukup dinilai dari timbangan atau indeks massa tubuh (IMT). Perubahan berat badan, pola makan, kekuatan otot, penyakit, dan kemampuan tubuh menyerap nutrisi juga perlu diperiksa.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Tubuh yang tampak berisi sering dianggap sebagai bukti seseorang mendapat cukup makanan dan zat gizi. Saat hasil pemeriksaan kesehatan menunjukkan kekurangan vitamin dan mineral, orang-orang di sekitarnya bingung karena orang tersebut badannya tidak kurus.

Anggapan orang yang malnutrisi badannya pasti kurus tidak sepenuhnya tepat. Faktanya, malnutrisi dapat terjadi pada orang dengan berat badan normal, kelebihan berat badan, maupun obesitas.

1. Malnutrisi bukan sekadar kekurangan berat badan

Malnutrisi adalah kondisi akibat kekurangan, kelebihan, atau ketidakseimbangan asupan energi dan zat gizi. Istilah ini mencakup kekurangan gizi, kekurangan vitamin dan mineral, serta kelebihan berat badan dan obesitas.

Dalam konteks klinis, malnutrisi lebih sering digunakan untuk menggambarkan kondisi ketika tubuh tidak memperoleh atau tidak mampu menggunakan energi, protein, dan zat gizi lain dalam jumlah yang dibutuhkan.

Penyebabnya bukan hanya kurang makan, tetapi bisa juga karena gangguan penyerapan, penyakit kronis, peradangan, atau peningkatan kebutuhan nutrisi akibat penyakit.

Pedoman Global Leadership Initiative on Malnutrition (GLIM) tidak menjadikan indeks massa tubuh (IMT) rendah sebagai satu-satunya penentu. Tenaga kesehatan juga mempertimbangkan penurunan berat badan yang tidak disengaja, berkurangnya massa otot, penurunan asupan atau penyerapan makanan, serta adanya penyakit atau inflamasi.

Artinya, seseorang bisa kehilangan cukup banyak otot dan mengalami kekurangan nutrisi meskipun angka timbangannya masih tampak normal.

2. Bagaimana orang bertubuh berisi bisa kekurangan gizi?

Seorang pria duduk di meja kayu sambil memegang ponsel dan memakan burger dengan minuman soda di depannya di area luar ruangan.
Ilustrasi pria sedang memakan junk food (pexels.com/Artem Podrez)

Kalori dan zat gizi tidak sama. Makanan tinggi gula, lemak, atau tepung olahan dapat menghasilkan banyak energi, tetapi belum tentu menyediakan protein, serat, vitamin, dan mineral yang memadai.

Tinjauan klinis dalam jurnal Obesity Pillars menjelaskan bahwa konsumsi makanan padat kalori tetapi rendah zat gizi dapat menyebabkan kekurangan nutrisi meskipun total kalorinya berlebih. Sejumlah orang dengan obesitas diketahui dapat mengalami kekurangan zat besi, folat, vitamin B12, D, dan zat gizi mikro lainnya. Jenis kekurangan yang dialami tentu dapat berbeda pada setiap orang.

Selain itu, jaringan lemak dapat menutupi massa otot yang menyusut. Berat badan mungkin tidak banyak berubah karena tubuh masih memiliki massa lemak yang tinggi, padahal otot terus menyusut. Kondisi ketika kelebihan lemak terjadi bersama rendahnya massa atau fungsi otot disebut obesitas sarkopenik.

Kondisi tersebut dapat terjadi pada orang lanjut usia, pasien dengan penyakit kronis, orang yang lama tidak aktif, atau seseorang yang menjalani diet sangat ketat tanpa asupan protein dan latihan kekuatan yang memadai.

3. Jangan menilai status gizi dari penampilan saja

Malnutrisi dapat berkembang perlahan dan tidak selalu langsung terlihat. Beberapa tanda yang perlu diperhatikan antara lain:

  • Berat badan turun tanpa direncanakan.
  • Pakaian terasa makin longgar, tetapi lingkar perut tidak banyak berubah.
  • Nafsu makan atau jumlah makanan berkurang dalam waktu lama.
  • Otot terasa melemah, misalnya makin sulit berdiri dari kursi atau naik tangga.
  • Mudah lelah, sulit berkonsentrasi, atau pemulihan setelah sakit terasa lambat.
  • Sering diare, muntah, kesulitan menelan, atau memiliki penyakit yang mengganggu penyerapan makanan.
  • Pola makan sangat terbatas atau didominasi makanan tinggi kalori tetapi minim variasi.

Gejala tersebut tidak otomatis berarti malnutrisi karena bisa disebabkan oleh kondisi lain. Namun, sebaiknya lakukan pemeriksaan jika perubahan berlangsung terus-menerus, terutama pada lansia, anak-anak, orang dengan penyakit kronis, atau seseorang yang baru mengalami penurunan berat badan drastis.

Dokter atau ahli gizi dapat menilai riwayat perubahan berat badan, jumlah dan kualitas makanan, kekuatan serta massa otot, kondisi medis, dan obat-obatan yang digunakan.

Pemeriksaan darah dapat diberikan secara terarah untuk mencari anemia atau kekurangan vitamin dan mineral tertentu.

Pada anak, status gizi perlu dinilai menggunakan kurva pertumbuhan sesuai usia dan jenis kelamin. Satu angka berat badan tidak cukup karena tinggi badan, kecepatan pertumbuhan, pola makan, dan riwayat penyakit juga harus diperhitungkan.

Intinya, kurus memang dapat menjadi salah satu tanda kekurangan gizi, tetapi bukan syarat terjadinya malnutrisi. Tubuh berisi pun bisa menyimpan masalah gizi yang tidak terlihat.

Referensi

Barazzoni, Rocco, and G. Gortan Cappellari. “Double Burden of Malnutrition in Persons with Obesity.” Reviews in Endocrine and Metabolic Disorders 21, no. 3 (2020): 307–313. https://doi.org/10.1007/s11154-020-09578-1.

Bradley, Morgan, Julian Melchor, Rachel Carr, and Sara Karjoo. “Obesity and Malnutrition in Children and Adults: A Clinical Review.” Obesity Pillars 8 (2023): 100087. https://doi.org/10.1016/j.obpill.2023.100087.

Cederholm, Tommy, Gordon L. Jensen, Maria Isabel T. D. Correia, Maria Cristina Gonzalez, Ryoji Fukushima, Veeradej Pisprasert, Renee Blaauw, et al. “The GLIM Consensus Approach to Diagnosis of Malnutrition: A 5-Year Update.” Clinical Nutrition 49 (2025): 11–20. https://doi.org/10.1016/j.clnu.2025.03.018.

Donini, Lorenzo M., Luca Busetto, Stephan C. Bischoff, Tommy Cederholm, Maria D. Ballesteros-Pomar, John A. Batsis, Jürgen M. Bauer, et al. “Definition and Diagnostic Criteria for Sarcopenic Obesity: ESPEN and EASO Consensus Statement.” Clinical Nutrition 41, no. 4 (2022): 990–1000. https://doi.org/10.1016/j.clnu.2021.11.014.

World Health Organization. “Malnutrition.” Diakses Juli 2026.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More