Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Tensi Tinggi saat Cek Kesehatan, Harus Langsung Minum Obat?

Tensi Tinggi saat Cek Kesehatan, Harus Langsung Minum Obat?
ilustrasi hipertensi, tekanan darah tinggi (pexels.com/Thirdman)
Intinya Sih
  • Satu kali hasil tekanan darah tinggi biasanya belum cukup untuk menetapkan diagnosis hipertensi atau memulai obat sendiri.

  • Pengukuran perlu diulang dengan teknik yang benar dan, bila tidak darurat, dikonfirmasi melalui pemantauan di rumah atau alat pemantau 24 jam.

  • Tekanan darah lebih dari 180/120 mmHg yang disertai gejala tertentu membutuhkan pertolongan medis darurat.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Angka 172/102 mmHg muncul di layar tensimeter, padahal pemeriksaan sebelumnya tensi normal. Beberapa orang langsung khawatir akan risiko stroke, serangan jantung, atau bertanya-tanya apakah harus secepatnya minum obat penurun tekanan darah.

Jawabannya mungkin iya, mungkin tidak. Satu kali hasil tensi tinggi biasanya belum cukup mendiagnosis hipertensi atau menjadi alasan untuk minum obat milik orang lain. Namun, angka tersebut juga tidak boleh diabaikan.

Langkah selanjutkan akan ditentukan oleh seberapa tinggi angkanya, apakah ada gejala, bagaimana pengukurannya dilakukan, dan apakah seseorang sudah memiliki hipertensi atau penyakit lain.

1. Ulangi pengukuran dengan cara yang benar

Tekanan darah bukan angka yang selalu tetap. Nilainya bisa berubah akibat stres, rasa sakit, aktivitas fisik, kafein, rokok, kandung kemih penuh, atau kecemasan saat bertemu tenaga kesehatan.

Ukuran manset tensi yang tidak sesuai, berbicara selama pemeriksaan, serta posisi lengan yang salah juga dapat membuat hasil pengukuran kurang akurat.

Sebelum pemeriksaan ulang:

  • Hindari olahraga, merokok, dan minuman berkafein setidaknya 30 menit sebelumnya.
  • Kosongkan kandung kemih.
  • Duduk tenang selama sekitar 5 menit.
  • Sandarkan punggung dan letakkan kedua kaki rata di lantai tanpa menyilangkan tungkai.
  • Pasang manset tensi dengan ukuran sesuai pada lengan telanjang.
  • Topang lengan sejajar dengan jantung.
  • Jangan berbicara, melihat ponsel, atau bergerak selama pemeriksaan.
  • Ambil dua pengukuran dengan jarak sedikitnya 1 menit, kemudian catat hasilnya.

Menurut penelitian, satu hasil pengukuran tidak cukup untuk mengambil keputusan klinis. Pengukuran sebaiknya dilakukan lebih dari sekali dan dinilai berdasarkan nilai rata-ratanya.

Pada orang yang belum pernah didiagnosis hipertensi dan tidak sedang mengalami kondisi darurat, rekomendasinya lakukan konfirmasi melalui pengukuran di luar klinik sebelum pengobatan dimulai.

Konfirmasi dapat dilakukan dengan tensimeter lengan atas di rumah atau ambulatory blood pressure monitoring, yaitu alat yang mencatat tekanan darah selama 12–24 jam.

Langkah praktisnya adalah mengukur tekanan darah dua kali pada pagi hari dan dua kali pada malam hari selama beberapa hari—sering kali hingga tujuh hari—kemudian bawa catatannya saat ke dokter. Gunakan alat lengan atas yang tervalidasi, bukan cuma mengandalkan jam tangan pintar atau perangkat tanpa manset.

2. Kapan obat tekanan darah biasanya diperlukan?

Seorang pria duduk di sofa dengan selimut kotak-kotak sambil mengukur tekanan darah menggunakan alat tensimeter digital.
ilustrasi orang dengan hipertensi sedang cek tekanan darah (pexels.com/Gustavo Fring)

Sebelum meresepkan obat, dokter akan mempertimbangkan rata-rata tekanan darah, riwayat penyakit, usia, fungsi ginjal, obat lain yang dikonsumsi, serta risiko serangan jantung dan stroke.

Menurut pedoman American Heart Association (AHA) dan American College of Cardiology (ACC) (AHA/ACC) 2025, terapi obat bersama perubahan gaya hidup direkomendasikan bagi orang dewasa dengan rata-rata tekanan darah sedikitnya 140/90 mmHg. Obat juga dapat dimulai pada rata-rata sedikitnya 130/80 mmHg apabila seseorang memiliki penyakit kardiovaskular, riwayat stroke, diabetes, penyakit ginjal kronis, atau risiko kardiovaskular sepuluh tahun yang meningkat.

Bagi orang dengan rata-rata 130–139/80–89 mmHg dan risiko kardiovaskular lebih rendah, pedoman tersebut menganjurkan perbaikan gaya hidup terlebih dahulu selama sekitar 3–6 bulan. Obat dipertimbangkan apabila tekanan darah tetap tinggi.

Artinya, hasil seperti 150/95 mmHg sekali saja tidak otomatis kamu harus minum obat darah itu pada saat itu juga. Akan tetapi, jika angka serupa terus muncul, jangan menunda pemeriksaan dokter. Hipertensi sering tidak menimbulkan gejala, tetapi dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko penyakit jantung, stroke, penyakit ginjal, dan gangguan kognitif.

Efek “jas putih” juga mungkin terjadi, yaitu tekanan darah tinggi di klinik tetapi lebih rendah di rumah. Kondisi ini tetap perlu dipantau. Sebuah tinjauan sistematis dan metaanalisis menemukan bahwa hipertensi jas putih (white-coat hypertension) yang tidak ditangani berkaitan dengan peningkatan risiko kejadian kardiovaskular dan kematian dibandingkan tekanan darah normal.

Jangan minum obat hipertensi milik orang lain, mengulang resep lama tanpa arahan, atau menggandakan dosis obat sendiri. Jika kamu sudah mendapat obat rutin, tetap gunakan sesuai resep dan hubungi dokter apabila tekanan darah tetap tinggi. Menurunkan tekanan darah terlalu cepat atau menggunakan obat yang tidak sesuai juga dapat menimbulkan masalah.

3. Kapan tekanan darah tinggi menjadi keadaan darurat?

Jika hasilnya lebih dari 180/120 mmHg, tunggu setidaknya 1 menit lalu ukur kembali.

Apabila hasil kedua tetap tinggi dan disertai salah satu gejala berikut, segera cari pertolongan darurat:

  • Nyeri dada.
  • Sesak napas.
  • Nyeri punggung berat.
  • Kelemahan atau mati rasa mendadak.
  • Gangguan penglihatan.
  • Kesulitan berbicara.
  • Kebingungan, pingsan, atau gejala baru yang mengkhawatirkan.

Kombinasi tekanan darah lebih dari 180/120 mmHg dan gejala tersebut dapat menandakan hypertensive emergency, yaitu tekanan darah sangat tinggi yang disertai kemungkinan kerusakan organ akut. Jangan menunggu angkanya turun sendiri.

Jika tekanan darah tetap lebih dari 180/120 mmHg namun tidak bergejala, ini biasanya tidak selalu butuh rawat inap. Namun, tetapi hubungi dokter atau pergi ke fasilitas kesehatan sesegera mungkin. Pedoman AHA/ACC 2025 menganjurkan evaluasi dan pemberian, pengembalian, atau peningkatan obat oral secara tepat waktu pada hipertensi berat tanpa kerusakan organ akut.

Ibu hamil butuh batas kewaspadaan yang berbeda. Tekanan darah 160/110 mmHg atau lebih dalam kehamilan tergolong hipertensi berat dan perlu segera dikomunikasikan kepada tenaga kesehatan, terutama jika disertai sakit kepala hebat, gangguan penglihatan, nyeri perut atas, nyeri dada, sesak, atau pembengkakan mendadak.

Jadi, satu kali tekanan darah tinggi tidak selalu berarti harus langsung minum obat. Ulangi pemeriksaan dengan benar, catat hasilnya, lalu konsultasikan dengan dokter untuk menilai polanya. Pengecualiannya adalah tekanan darah yang sangat tinggi, terutama bila disertai gejala. Dalam situasi ini, prioritasnya adalah mendapatkan pertolongan medis.

Referensi

American College of Obstetricians and Gynecologists. “Preeclampsia and High Blood Pressure During Pregnancy.” Diakses Juli 2026.

American Heart Association. “When to Call 911 About High Blood Pressure.” Diakses Juli 2026.

Cohen, Jordana B., Michael J. Lotito, Usha K. Trivedi, Justin M. Denker, Daichi Shimbo, and Raymond R. Townsend. “Cardiovascular Events and Mortality in White Coat Hypertension: A Systematic Review and Meta-analysis.” Annals of Internal Medicine 170, no. 12 (2019): 853–862. https://doi.org/10.7326/M19-0223.

Hypertension Canada. “How Do I Monitor My Blood Pressure?” Diakses Juli 2026.

Jones, Daniel W., Keith C. Ferdinand, Sandra J. Taler, et al. “2025 AHA/ACC/AANP/AAPA/ABC/ACCP/ACPM/AGS/AMA/ASPC/NMA/PCNA/SGIM Guideline for the Prevention, Detection, Evaluation, and Management of High Blood Pressure in Adults.” Circulation. Published online August 14, 2025. https://doi.org/10.1161/CIR.0000000000001356.

Muntner, Paul, Daichi Shimbo, Robert M. Carey, et al. “Measurement of Blood Pressure in Humans: A Scientific Statement From the American Heart Association.” Hypertension 73, no. 5 (2019): e35–e66. https://doi.org/10.1161/HYP.0000000000000087.

US Preventive Services Task Force. “Screening for Hypertension in Adults: US Preventive Services Task Force Reaffirmation Recommendation Statement.” JAMA 325, no. 16 (2021): 1650–1656. https://doi.org/10.1001/jama.2021.4987.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More