"No sputum needed: Easy-to-use TB test shows accuracy in 7-country analysis." CIDRAP. Diakses Mei 2026.
Neil W. Schluger, “The Acid-Fast Bacilli Smear: Hail and Farewell,” American Journal of Respiratory and Critical Care Medicine 199, no. 6 (October 12, 2018): 691–92, https://doi.org/10.1164/rccm.201809-1772ed.
"Automated Real-Time Nucleic Acid Amplification Technology for Rapid and Simultaneous Detection of Tuberculosis and Rifampicin Resistance: Xpert MTB/RIF Assay for the Diagnosis of Pulmonary and Extrapulmonary TB in Adults and Children." (2013). World Health Organization (WHO).
Seda Yerlikaya et al., “Pulmonary Tuberculosis Detection With MiniDock MTB Using Swab Samples,” New England Journal of Medicine 394, no. 17 (April 29, 2026): 1710–22, https://doi.org/10.1056/nejmoa2509761.
"WHO recommends near point-of-care tests, tongue swabs, and sputum pooling for TB diagnosis." WHO. Diakses Mei 2026.
Tes TBC Tanpa Dahak, Bisa Deteksi Penyakit dalam 30 Menit

Tes TBC baru memungkinkan diagnosis tanpa dahak, termasuk dengan swab lidah.
Akurasi mendekati standar WHO, dengan sensitivitas dan spesifisitas tinggi.
Berpotensi memperluas akses diagnosis, terutama di daerah dengan sumber daya terbatas.
Diagnosis tuberkulosis (TBC atau TB) selama ini bergantung pada satu hal yang tidak selalu mudah didapat, yaitu dahak. Bagi sebagian orang—anak-anak, lansia, atau pasien dengan kondisi tertentu—mengeluarkan dahak bisa sulit. Dalam kondisi ini, keterbatasan sistem diagnostik mulai terlihat, bahkan sebelum pengobatan dimulai.
Di tengah kebutuhan akan deteksi TBC yang lebih cepat dan inklusif, pendekatan baru mulai mengubah cara kita memahami diagnosis TBC. Bukan hanya soal kemajuan teknologi, tetapi juga bagaimana tes TBC bisa lebih dekat dengan pasien, yang artinya lebih praktis, lebih cepat, dan lebih mungkin dilakukan di berbagai kondisi.
Table of Content
Masalah terbesar dalam diagnosis TBC
Selama lebih dari satu abad, diagnosis TBC banyak bergantung pada metode mikroskopis yang dikembangkan sejak era Robert Koch. Teknik ini memang sederhana dan bisa digunakan di fasilitas terbatas, tetapi memiliki keterbatasan besar, yaitu sensitivitasnya rendah dan bisa melewatkan lebih dari setengah kasus TBC.
Perkembangan teknologi menghadirkan tes molekuler seperti Xpert MTB/RIF, yang jauh lebih akurat dan cepat. Namun, harganya mahal dan butuh infrastruktur yang stabil, termasuk listrik dan lab khusus. Menurut analisis global, lebih dari setengah fasilitas TBC di negara dengan beban tinggi belum punya akses ke teknologi ini.
Masalah terbesar tetap sama, yaitu ketergantungan pada dahak. Diperkirakan sekitar 25 persen hingga 40 persen orang yang diperiksa untuk TBC tidak mampu menghasilkan dahak yang memadai. Ini menciptakan kesenjangan diagnosis, dalam arti jumlah kasus TBC yang sebenarnya jauh lebih tinggi dibanding yang terdeteksi secara resmi.
Terobosan baru: tes TBC tanpa dahak

Penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam New England Journal of Medicine memperkenalkan platform tes baru bernama MiniDock MTB. Teknologi ini menggunakan pendekatan near point-of-care nucleic acid amplification test (NPOC-NAAT), yang dirancang agar mudah digunakan bahkan di fasilitas kesehatan sederhana.
Prosesnya sederhana. Pertama, sampel diambil menggunakan swab (termasuk dari lidah), lalu dimasukkan ke dalam tabung, kemudian diproses dalam perangkat portabel. Hasilnya bisa keluar dalam waktu sekitar 30 menit.
Dalam studi yang melibatkan 1.380 pasien di tujuh negara dengan beban TBC tinggi, tes ini menunjukkan sensitivitas 85,7 persen dan spesifisitas 97,6 persen pada sampel dahak—mendekati standar yang ditetapkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Yang menarik, performa pada swab lidah juga cukup kuat, dengan sensitivitas 79,6 persen dan spesifisitas 99,5 persen. Meski sedikit lebih rendah dibanding sampel dahak, tetapi angka ini tetap memenuhi standar WHO untuk tes non dahak. Artinya, diagnosis TBC bisa dilakukan bahkan pada pasien yang tidak mampu menghasilkan dahak.
Dampak besar untuk akses dan masa depan
Salah satu keunggulan dari tes ini adalah skalabilitasnya. Dengan biaya perangkat sekitar $180 dan kartu tes sekitar $4, teknologi ini lebih terjangkau dibanding tes molekuler konvensional. Ini membuka peluang bagi klinik kecil dan daerah terpencil untuk mengakses diagnosis TBC yang lebih akurat.
Menurut rekomendasi terbaru dari WHO pada 2026, penggunaan swab lidah dan tes dekat pasien (near point-of-care) diharapkan dapat memperluas cakupan deteksi TBC secara global. Pendekatan ini juga memungkinkan tenaga kesehatan melakukan skrining langsung di komunitas, tanpa harus bergantung pada fasilitas besar.
Meski demikian, ada beberapa keterbatasan. Sensitivitas menurun pada pasien dengan jumlah bakteri rendah, dan versi saat ini belum mampu mendeteksi resistansi obat, padahal ini menjadi tantangan besar dalam pengendalian TBC. Akan tetapi, sebagai langkah awal, teknologi ini menawarkan solusi untuk menutup kesenjangan diagnosis TBC yang ada selama ini.
Tes TBC yang menggantikan dahak dengan swab lidah membawa harapan nantinya makin banyak kasus TBC dapat terdeteksi lebih awal. Karena dalam penyakit seperti TBC, waktu pun merupakan faktor yang menentukan peluang hidup.
Referensi








![[QUIZ] Dari Genre Musik Favorit, Kami Tahu Caramu Mengatasi Burnout](https://image.idntimes.com/post/20250524/frustrated-28-444e1146cca562b350101aba61264e15-ec456a4cda87df226568f0319e1ce04d.jpg)



![[QUIZ] Seberapa Tajam Matamu? Cek dengan Tebak Karakter Upin & Ipin Ini](https://image.idntimes.com/post/20250526/image-15-38aaa07364b27568f6d9ac02c74958a2.jpg)
![[QUIZ] Pilih Ending atau Serial Favoritmu, Kami Tebak Kondisi Mentalmu](https://image.idntimes.com/post/20260310/pexels-cottonbro-8263318_962fefa7-d8f4-4ca4-9f15-fae5898aefef.jpg)




