Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Siapa yang Paling Berisiko Mengalami Heatstroke?
ilustrasi seseorang memberi pertolongan pertama pada penderita heatstroke (IDN Times/NRF)
  • Lansia, bayi, anak-anak, dan ibu hamil termasuk kelompok paling rentan mengalami heatstroke karena kemampuan tubuh mereka dalam mengatur suhu lebih rendah dibanding orang dewasa sehat.
  • Penderita penyakit kronis serta pengguna obat tertentu berisiko tinggi karena kondisi medis dan efek obat dapat mengganggu pengaturan suhu tubuh serta meningkatkan risiko dehidrasi.
  • Pekerja lapangan, atlet, dan penghuni rumah minim ventilasi lebih mudah terkena heatstroke akibat paparan panas berkepanjangan tanpa pendinginan atau asupan cairan yang cukup.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Gelombang panas ekstrem kini makin sering terjadi di berbagai wilayah. Saat suhu udara naik tajam, tubuh harus bekerja ekstra—melalui keringat dan peningkatan aliran darah ke kulit—untuk menjaga suhu inti tetap stabil.

Kemampuan menghadapi panas berbeda antar orang; beberapa kelompok jauh lebih rentan terhadap sengatan panas atau heatstroke, yaitu kondisi darurat ketika mekanisme pendinginan tubuh gagal dan suhu tubuh melonjak. Jika tidak segera ditangani, kondisi ini dapat menyebabkan kerusakan organ dan mengancam nyawa.

Ketahui siapa saja kelompok yang paling berisiko heatstroke.

1. Lansia menjadi kelompok dengan risiko tertinggi

Orang lanjut usia merupakan salah satu kelompok yang paling rentan mengalami heatstroke. Seiring bertambahnya usia, kemampuan tubuh untuk mengatur suhu mulai menurun sehingga proses pendinginan melalui keringat menjadi kurang efektif.

Selain itu, banyak lansia memiliki penyakit kronis, seperti tekanan darah tinggi, penyakit jantung, atau diabetes yang dapat memperburuk toleransi tubuh terhadap panas.

Sebagian juga mengonsumsi obat-obatan tertentu yang memengaruhi produksi keringat atau sirkulasi darah sehingga risiko heatstroke makin meningkat.

2. Bayi dan anak-anak lebih mudah kepanasan

Bayi dan anak kecil juga termasuk kelompok berisiko tinggi. Tubuh mereka belum mampu mengatur suhu seefisien orang dewasa, sementara luas permukaan tubuh yang lebih besar dibanding berat badannya membuat mereka lebih cepat menyerap panas dari lingkungan.

Selain itu, anak-anak sepenuhnya bergantung pada orang dewasa untuk menjaga asupan cairan dan memastikan mereka berada di tempat yang sejuk. Karena itu, anak yang bermain terlalu lama di luar ruangan saat cuaca panas dapat mengalami gangguan akibat panas lebih cepat daripada orang dewasa.

3. Pasien penyakit kronis perlu lebih waspada

ilustrasi pasien diabetes (pexels.com/Pavel Danilyuk)

Beberapa kondisi medis dapat membuat tubuh lebih sulit menghadapi suhu tinggi. Orang dengan penyakit jantung, diabetes, gangguan pernapasan, penyakit ginjal, maupun gangguan saraf memiliki risiko heatstroke yang lebih besar.

Penyakit-penyakit tersebut dapat mengganggu kemampuan tubuh dalam mengatur suhu, mempertahankan keseimbangan cairan, atau meningkatkan risiko dehidrasi saat cuaca panas ekstrem.

4. Pengguna obat tertentu

Tidak banyak orang menyadari bahwa beberapa jenis obat dapat meningkatkan risiko heatstroke.

Obat diuretik, misalnya, dapat meningkatkan pengeluaran cairan sehingga tubuh lebih mudah mengalami dehidrasi.

Selain itu, beberapa obat tekanan darah, obat gangguan kejiwaan, obat alergi tertentu, serta obat stimulan juga dapat memengaruhi kemampuan tubuh untuk berkeringat atau menyesuaikan diri terhadap panas.

5. Pekerja lapangan dan atlet

Orang yang bekerja di luar ruangan, seperti pekerja konstruksi, petani, pengemudi, atau petugas lapangan memiliki risiko lebih tinggi karena terpapar panas dalam waktu lama.

Hal yang sama juga berlaku bagi atlet atau orang yang melakukan aktivitas fisik berat saat cuaca panas. Aktivitas intens dapat meningkatkan suhu inti tubuh dengan cepat, terutama jika tidak disertai istirahat yang cukup dan asupan cairan yang memadai.

6. Orang yang tinggal di rumah panas dan minim ventilasi

ilustrasi menggunakan kipas angin di dalam rumah saat cuaca panas (magnific.com/freepik)

Lingkungan tempat tinggal juga berperan besar dalam risiko heatstroke. Orang yang tinggal di rumah tanpa pendingin udara, ventilasi buruk, atau apartemen di lantai atas cenderung lebih sulit menghindari suhu panas yang terperangkap di dalam ruangan.

Risiko ini makin besar selama gelombang panas yang berlangsung beberapa hari berturut-turut karena tubuh tidak memiliki kesempatan untuk mendinginkan diri secara optimal.

7. Ibu hamil lebih rentan mengalami stres panas

Kehamilan menyebabkan berbagai perubahan fisiologis pada tubuh, termasuk peningkatan metabolisme, volume darah, dan kebutuhan cairan. Kondisi ini membuat ibu hamil lebih mudah mengalami stres akibat panas.

Paparan suhu tinggi yang berlebihan juga dapat berdampak pada kesehatan ibu maupun janin, sehingga ibu hamil disarankan untuk menghindari aktivitas berat di bawah terik matahari.

Heatstroke dapat menyerang siapa saja, tetapi beberapa kelompok memiliki risiko yang jauh lebih tinggi. Mengenali faktor risiko sejak dini merupakan langkah penting untuk mencegah kondisi berbahaya ini, terutama saat cuaca panas ekstrem semakin sering terjadi.

Referensi

Centers for Disease Control and Prevention. Diakses pada Juli 2026. "People at Increased Risk for Heat-Related Illness."

Cleveland Clinic. Diakses pada Juli 2026. "Heat Stroke."

Mayo Clinic. Diakses pada Juli 2026. "Heatstroke."

Pressure Pal. Diakses pada Juli 2026. "Who Is Most at Risk for Heat Stroke?"

University of Arkansas System. Diakses pada Juli 2026. "Extension Experts Share Tips for Preventing Heat Illness This Summer."

Curated For You

Editorial Team

Related Article