Costa, R. J. S., R. M. J. Snipe, C. M. Kitic, and P. R. Gibson. “Systematic Review: Exercise‐induced Gastrointestinal Syndrome—Implications for Health and Intestinal Disease.” Alimentary Pharmacology & Therapeutics 46, no. 3 (June 7, 2017): 246–65.
Smith, Kyle A., Jamie N. Pugh, Frank A. Duca, Graeme L. Close, and Michael J. Ormsbee. “Gastrointestinal Pathophysiology during Endurance Exercise: Endocrine, Microbiome, and Nutritional Influences.” European Journal of Applied Physiology 121, no. 10 (June 15, 2021): 2657–74.
De Oliveira, Erick P. “Runner’s Diarrhea.” Current Opinion in Gastroenterology 33, no. 1 (October 28, 2016): 41–46.
"What Experts Want You to Know About Running and Poop". Runner's World. Diakses Agustus 2026.
Coleman, Nailah. “Gastrointestinal Issues in Athletes.” Current Sports Medicine Reports 18, no. 6 (June 1, 2019): 185–87.
Kenapa Pelari Sering Mulas atau Ingin BAB sebelum Race?

Mulas atau ingin BAB sebelum maupun saat race dikenal sebagai runner’s trot; lari mengalihkan aliran darah dari pencernaan ke otot dan jantung, terutama saat intensitas tinggi, panas, atau dehidrasi.
Gerakan naik-turun dan benturan berulang saat berlari dapat merangsang isi usus, sehingga dorongan BAB lebih mudah muncul, terutama bersama intensitas tinggi, perubahan aliran darah, dan rasa gugup.
Sarapan terlalu dekat race, kopi, makanan tinggi serat atau lemak, serta gel atau minuman terlalu pekat dapat memicu keluhan; strategi konsumsi sebaiknya diuji saat latihan.
Banyak hal yang harus dipastikan menjelang lomba lari. Dari sepatu dan pakaian, smartwatch, energy gel, dan lainnya. Namun, ada satu lagi yang tak kalah penting, yaitu buang air besar (BAB) sebelum race dimulai.
Rasa mulas atau tiba‑tiba ingin BAB bisa muncul meski sebelumnya pencernaan terasa normal. Fenomena ini cukup sering terjadi dan dikenal sebagai runner’s trot, atau runner’s diarrhea kalau sampai disertai diare.
Apa penyebab pelari bisa merasa mulas atau ingin BAB sebelum race dimulai? Cek jawabannya di bawah ini.
Table of Content
Dampak lari pada usus
Saat berlari, tubuh butuh lebih banyak oksigen dan energi untuk bekerja, terutama dari otot-otot yang terus bergerak. Kondisi ini membuat tubuh melakukan penyesuaian aliran darah. Darah akan lebih banyak diarahkan ke otot yang sedang bekerja, jantung, dan organ lain yang dianggap lebih membutuhkan, sementara aliran darah ke saluran pencernaan dapat berkurang.
Pada olahraga dengan intensitas tinggi atau durasi panjang, perubahan tersebut dapat mengganggu fungsi saluran cerna. Kondisinya bisa terasa sebagai kram perut, mual, rasa tidak nyaman di perut, hingga dorongan untuk BAB. Makin berat intensitas olahraga, makin besar pula kemungkinan munculnya keluhan gastrointestinal pada sebagian pelari.
Selain itu, ketika tubuh mengalami dehidrasi atau terpapar panas, aliran darah ke saluran cerna bisa makin terganggu. Inilah sebabnya keluhan perut cenderung lebih mudah muncul saat berlari dalam cuaca panas, berlari terlalu lama, atau ketika tubuh tidak terhidrasi dengan baik.
Namun, ingin buang air kecil saat berlari bukan berarti usus sedang terganggu. Pada banyak kasus, keluhan tersebut merupakan hasil dari beberapa faktor yang terjadi bersamaan, mulai dari perubahan aliran darah, gerakan tubuh saat berlari, makanan dan minuman sebelum race, hingga kondisi psikologis menjelang lomba.
Perut yang terguncang

ilustrasi lari jarak jauh (unsplash.com/Sopan Shewale) Saat berlari, tubuh mengalami gerakan naik-turun dan benturan berulang pada setiap langkah. Gerakan ini turut memengaruhi saluran pencernaan dan dapat merangsang pergerakan isi usus.
Efek tersebut menjadi salah satu alasan mengapa keluhan gastrointestinal lebih sering dilaporkan pada pelari dibandingkan beberapa jenis olahraga lain.
Bayangkan saja, usus sedang mengolah makanan dan cairan di dalam saluran pencernaan, sementara tubuh terus bergerak selama berlari. Pada sebagian orang, kombinasi gerakan tersebut dapat mempercepat munculnya sensasi ingin BAB, terlebih jika sebelumnya memang sudah ada isi usus yang siap dikeluarkan.
Karena itu, rasa kebelet yang muncul saat berlari bisa dipicu oleh gerakan lari itu sendiri. Ketika faktor mekanis ini disertai intensitas olahraga yang tinggi, perubahan aliran darah, makanan sebelum race, dan rasa gugup, keluhan perut bisa makin terasa.
Jenis sarapan tidak cocok
Apa yang masuk ke perut sebelum race juga bisa menentukan apakah pelari akan tenang sampai garis akhir atau justru sibuk mencari toilet. Waktu makan dan jenis makanan yang dikonsumsi sebelum berlari dapat memengaruhi aktivitas saluran pencernaan.
Salah satu mekanismenya adalah gastrocolic reflex, yaitu respons alami tubuh ketika makanan masuk ke lambung. Setelah makan, lambung mengirimkan sinyal kepada usus besar untuk meningkatkan aktivitasnya. Pada sebagian orang, respons ini cukup kuat sehingga muncul keinginan untuk BAB tidak lama setelah makan.
Itulah sebabnya sarapan sebelum race bisa menjadi pemicu, terutama jika terlalu dekat dengan waktu lari dimulai.
Kopi juga dapat memperkuat dorongan tersebut pada sebagian orang karena kafein dapat merangsang aktivitas saluran cerna.
Kombinasi sarapan, kopi, dan rasa gugup menjelang lomba pun bisa membuat keinginan BAB muncul lebih cepat.
Perhatikan juga apa yang dimakan. Makanan tinggi serat, tinggi lemak, atau makanan yang sulit ditoleransi oleh tubuh dapat memperbesar risiko gangguan gastrointestinal selama olahraga. Minuman olahraga atau gel karbohidrat yang terlalu pekat juga dapat menyebabkan masalah pencernaan jika dikonsumsi dalam jumlah atau konsentrasi yang tidak sesuai.
Karena itu, pelari sebaiknya tidak bereksperimen dengan menu sarapan, kopi, gel, atau minuman baru tepat pada hari perlombaan. Strategi makan dan minum sebelum race idealnya sudah diuji saat latihan, sehingga tubuh punya kesempatan untuk beradaptasi dan pelari tahu makanan apa yang paling aman bagi perutnya.
Referensi




















