“Pneumonia dan flu tidak sama, meskipun keduanya dapat menimbulkan gejala seperti batuk dan demam,” kata dr. Joyce Bratanata, Sp.PD, dokter spesialis penyakit dalam, penyakit tropik dan infeksi.
4 dari 10 Orang Indonesia Belum Mengenali Pneumonia Pneumokokus

Survei terhadap 1.000 orang dewasa Indonesia menunjukkan hanya 15 persen responden yang memahami pneumonia pneumokokus.
Pneumonia pneumokokus berbeda dari flu, meski keduanya dapat menimbulkan batuk dan demam.
Lansia, caregiver, serta orang dengan penyakit kronis perlu membahas risiko pneumonia dengan dokter.
Sebanyak 41 persen orang dewasa di Indonesia mengaku belum pernah mendengar pneumonia pneumokokus. Temuan ini disampaikan Pfizer Indonesia melalui kampanye edukasi kesehatan bertajuk “Lindungi Napasmu Jaga Momen Berarti” pada Kamis (24/9) di Jakarta.
Survei YouGov Indonesia terhadap 1.000 orang dewasa tersebut juga menemukan bahwa 44 persen responden pernah mendengar istilah pneumonia pneumokokus, tetapi belum memahami penyakitnya. Hanya 15 persen yang mengenal sekaligus memahami kondisi tersebut.
Kampanye ini ditujukan kepada orang dewasa, khususnya mereka yang merawat orang tua atau anggota keluarga lanjut usia. Tujuannya adalah mendorong masyarakat mengenali risiko pneumonia pneumokokus dan membicarakan langkah perlindungannya dengan dokter.
Table of Content
1. Pneumonia pneumokokus bukan sekadar batuk biasa
Pneumonia pneumokokus merupakan infeksi paru yang disebabkan oleh bakteri Streptococcus pneumoniae. Bakteri ini dapat berada di hidung dan tenggorokan tanpa menimbulkan penyakit. Namun, dalam kondisi tertentu, bakteri tersebut dapat menyebabkan infeksi serius, termasuk pneumonia, meningitis, dan infeksi pada aliran darah.
Risiko penyakit pneumokokus dapat meningkat seiring bertambahnya usia. Orang dewasa berusia 50 tahun ke atas, perokok, serta mereka yang memiliki diabetes atau penyakit kronis pada jantung, paru-paru, ginjal, dan hati perlu lebih waspada. Sistem kekebalan tubuh yang melemah juga dapat meningkatkan risiko infeksi berat.
Survei tersebut menunjukkan bahwa 55 persen responden rutin merawat orang tua atau anggota keluarga lanjut usia. Namun, hanya 28 persen yang mengetahui bahwa orang berusia 50 tahun ke atas memiliki risiko lebih tinggi mengalami penyakit pneumokokus yang serius.
2. Flu dan pneumonia tidak sama

ilustrasi bakteri Streptococcus pneumoniae resisten obat (unsplash.com/CDC) Pneumonia pneumokokus disebabkan oleh bakteri, sedangkan flu disebabkan oleh virus influenza. Meski berbeda, keduanya dapat menimbulkan gejala yang serupa, seperti batuk dan demam. Flu juga dapat berkembang menjadi komplikasi, termasuk pneumonia.
Gejala pneumonia dapat berupa batuk, sesak napas, demam, nyeri dada, tubuh terasa lemah, dan napas berbunyi. Pada orang lanjut usia, gejala tidak selalu khas. Kebingungan atau perubahan kesadaran dapat menjadi tanda kondisi yang lebih serius.
“Jika mengalami sesak napas atau nyeri dada, segera periksakan diri,” ujar dr. Joyce.
Kesulitan bernapas yang berat atau kebingungan yang muncul tiba-tiba memerlukan pertolongan medis segera. Penyebab infeksi juga tidak dapat dipastikan hanya dari gejala, sehingga pemeriksaan dokter tetap diperlukan.
3. Caregiver berperan dalam mengenali risiko
Orang yang merawat anggota keluarga lanjut usia biasanya membantu mengatur jadwal kontrol, menyiapkan obat, hingga mendampingi pengambilan keputusan terkait kesehatan. Karena itu, caregiver dapat membantu memastikan risiko penyakit pernapasan tidak terlewatkan.
Sebanyak 77 persen responden dalam survei menyatakan kemungkinan akan membicarakan cara melindungi diri dari penyakit pernapasan serius dengan dokter. Namun, hanya 24 persen yang mengaku pernah melakukannya.
Keluarga dapat membawa beberapa pertanyaan saat pemeriksaan, misalnya: “Apakah saya atau orang tua saya memiliki risiko pneumonia yang lebih tinggi?”
Daftar obat, riwayat penyakit, dan catatan imunisasi juga dapat disiapkan agar dokter memperoleh gambaran kesehatan yang lebih lengkap.
4. Persiapan kesehatan sebelum haji atau umrah
Kampanye “Lindungi Napasmu Jaga Momen Berarti” juga menyoroti persiapan kesehatan sebelum haji dan umrah. Dalam survei tersebut, 43 persen responden Muslim menyatakan berencana menunaikan haji atau umrah dalam dua tahun mendatang.
Sebanyak 69 persen responden mengkhawatirkan cuaca panas, 65 persen mengkhawatirkan dehidrasi, dan 57 persen memperkirakan adanya risiko penyakit pernapasan. Namun, hanya 11 persen yang mengetahui bahwa kerumunan dapat meningkatkan kerentanan terhadap pneumonia serius.
Tinjauan ilmiah mengenai kesehatan jemaah haji menunjukkan bahwa penyakit pernapasan termasuk keluhan yang banyak ditemukan selama ibadah haji. Pneumonia juga menjadi salah satu penyebab utama rawat inap, terutama pada jemaah lanjut usia.
Orang dengan diabetes, penyakit jantung, penyakit paru-paru, atau kondisi kronis lain dapat berkonsultasi dengan dokter sebelum keberangkatan. Pembahasan dapat mencakup pengendalian penyakit, obat yang perlu dibawa, imunisasi yang sesuai, serta langkah perlindungan di tempat ramai.
Menjaga kebersihan tangan, menggunakan masker di kerumunan atau area berasap, tidak merokok, dan memastikan penyakit kronis terkontrol juga dapat dilakukan sebagai bagian dari persiapan.
Mengenali pneumonia pneumokokus membantu keluarga mengambil langkah lebih cepat dan tepat, terutama ketika merawat orang lanjut usia. Percakapan mengenai risiko dapat dimulai dari satu pertanyaan sederhana saat kunjungan berikutnya ke dokter.
Referensi
Centers for Disease Control and Prevention, “About Pneumococcal Disease,” diakses September 2026.
Centers for Disease Control and Prevention, “Pneumococcal Disease: Causes and How It Spreads,” diakses September 2026.
Centers for Disease Control and Prevention, “Risk Factors for Pneumonia,” diakses September 2026.
National Health Service, “Pneumonia,” diakses September 2026.
M. Aldossari, A. Aljoudi, and D. Celentano, “Health Issues in the Hajj Pilgrimage: A Literature Review,” Eastern Mediterranean Health Journal 25, no. 10 (2019): 744–753.
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)





![[QUIZ] Apakah Kamu Punya Kecenderungan Anxiety? Cek di Sini](https://image.idntimes.com/post/20250920/arctic-qu-dtokmihuuqi-unsplash_8b1ef92d-ab4e-46ef-884b-123bdd4a932b.jpg)


![[QUIZ] Apakah Kamu Perlu Detoks Media Sosial? Cek dari Kuis Ini](https://image.idntimes.com/post/20250528/screenshot-2025-05-28-082018-729cf6c4f291ffce1d7960e8c2669322-14379681e8b0768ac8adbcb2187d5670.png)













