World Health Organization, “Pneumonia,” diakses Agustus 2026.
Centers for Disease Control and Prevention, “Infection Control Guidance for Community Evacuation Centers Following Disasters,” diakses Agustus 2026.
World Health Organization Regional Office for Europe, “Protecting Health after Earthquakes: Learning from a Community-Centred Approach in Türkiye,” diakses Agustus 2026.
Hisayoshi Daito et al., “Impact of the Tohoku Earthquake and Tsunami on Pneumonia Hospitalisations and Mortality among Adults in Northern Miyagi, Japan: A Multicentre Observational Study,” Thorax 68, no. 6 (2013): 544–550, https://doi.org/10.1136/thoraxjnl-2012-202658.
Keisuke Maeda, Hiroshi Shamoto, and Satoshi Furuya, “Feeding Support Team for Frail, Disabled, or Elderly People during the Early Phase of a Disaster,” Tohoku Journal of Experimental Medicine 242, no. 4 (2017): 259–261, https://doi.org/10.1620/tjem.242.259.
Shinya Ohkouchi et al., “Deterioration in Regional Health Status after the Acute Phase of a Great Disaster: Respiratory Physicians’ Experiences of the Great East Japan Earthquake,” Respiratory Investigation 51, no. 2 (2013): 50–55, https://doi.org/10.1016/j.resinv.2012.12.003.
Tidak Terluka saat Gempa tapi Bisa Terkena Pneumonia, Kenapa?

Pneumonia tidak membutuhkan luka terbuka. Penyakit ini terjadi ketika jaringan paru mengalami infeksi dan kantung udara terisi cairan atau nanah.
Setelah gempa, pengungsian yang padat, ventilasi buruk, keterbatasan kebersihan, dan terganggunya layanan kesehatan dapat meningkatkan risiko infeksi pernapasan.
Lansia dan orang yang lemah juga berisiko mengalami pneumonia aspirasi, terutama jika kemampuan menelan, kebersihan mulut, makan, dan aktivitas fisiknya terganggu.
Guncangan sudah berhenti dan tubuh tidak mengalami luka sedikit pun. Namun, beberapa hari kemudian muncul batuk, demam, lemas, bahkan sesak napas. Kondisi seperti ini tetap mungkin terjadi karena dampak kesehatan gempa tidak hanya berasal dari bangunan yang runtuh atau luka fisik.
Salah satunya adalah pneumonia. Kondisi ini merupakan infeksi paru yang membuat kantung udara atau alveoli terisi cairan dan nanah sehingga bernapas menjadi sulit.
Table of Content
Risiko pneumonia bisa muncul setelah gempa
Ketika penyintas gempa pindah ke tempat pengungsian, banyak orang tidur dan beraktivitas dalam ruang yang sama, sementara ventilasi, fasilitas kebersihan, dan akses air bersih mungkin terbatas.
Kepadatan dan keterbatasan sanitasi di pusat pengungsian dapat meningkatkan penyebaran penyakit menular, termasuk infeksi saluran pernapasan.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengingatkan bahwa permukiman sementara yang padat serta terganggunya layanan kesehatan merupakan risiko kesehatan penting dalam minggu-minggu setelah gempa.
Sebagai contoh, setelah gempa dan tsunami Tohoku 2011 di Jepang, sebuah studi multisenter menemukan angka rawat inap akibat pneumonia meningkat 5,7 kali lipat selama tiga bulan setelah bencana, sedangkan kematian terkait pneumonia meningkat 8,9 kali lipat.
Yang menarik perhatian para peneliti, hanya 3,6 persen pasien pneumonia pascabencana yang mengalami hampir tenggelam akibat tsunami.
Risiko pneumonia aspirasi pada lansia

ilustrasi pasutri lansia (pexels.com/James Ampong Quilario) Pada lansia atau orang dengan kondisi tubuh lemah, aspirasi perlu menjadi perhatian. Ini terjadi ketika makanan, minuman, air liur, atau material dari mulut masuk ke saluran napas dan membawa mikroorganisme ke paru-paru.
Situasi pascabencana dapat memperbesar risikonya. Pengalaman dari gempa besar di Jepang menunjukkan bahwa pengungsi lansia dapat mengalami penurunan kebersihan mulut, aktivitas fisik, asupan makanan, serta gangguan makan dan menelan. Kondisi tersebut dikaitkan dengan risiko pneumonia aspirasi setelah bencana.
Studi lain setelah gempa bumi dan tsunami Tōhoku, Jepang, juga menemukan kasus pneumonia meningkat sekitar dua hingga tiga kali lipat, dan sekitar separuh kasus pneumonia komunitas berasal dari tempat pengungsian. Para peneliti mengaitkannya dengan kondisi tempat tinggal yang buruk, kepadatan, serta keterbatasan sumber daya dasar.
Kenali gejalanya
Pneumonia dapat menimbulkan batuk, demam atau menggigil, sesak napas, kelelahan, dan nyeri dada.
Pada lansia, kebingungan juga dapat menjadi salah satu gejalanya.
Karena itu, penyintas gempa yang tidak mengalami cedera tetap perlu memperhatikan kondisi tubuh selama beberapa hari berikutnya. Batuk yang disertai demam dan sesak, terlebih pada lansia, anak kecil, atau orang dengan penyakit kronis, perlu dievaluasi medis.
Gempa memang berlangsung dalam hitungan detik atau menit, tetapi risiko kesehatannya bisa berlanjut jauh setelah guncangan berhenti—dan pneumonia adalah salah satu komplikasi yang bisa muncul tanpa satu pun luka akibat gempa.
Referensi









![[QUIZ] Dari Aktivitas Fisik Harian Kamu, Ini Perkiraan Kalori yang Kamu Bakar](https://image.idntimes.com/post/20260811/gambar-artikel-88_a0d2c204-98d6-41f0-954e-b4f448a7c9b1.png)






![[QUIZ] Kami Bisa Tebak Gigi Kamu yang Sakit Perlu Dicabut atau Tidak](https://image.idntimes.com/post/20250426/teeth-5536858-1920-90b4732f5b8ce33b04ef8dd8f6c1ac74-cfab9bf08141f9b50d81a5faab87dcca.jpg)




![[QUIZ] Kamu Lari ke Hiburan Apa saat Burnout? Ini Makna Psikologisnya](https://image.idntimes.com/post/20251223/1000192518_10cfa4e2-0e6f-461c-ba0e-defe47ef2fbe.jpg)