"Diabetes." World Health Organization. Diakses Januari 2026.
Nuha A. ElSayed et al., “2. Diagnosis and Classification of Diabetes:Standards of Care in Diabetes—2024,” Diabetes Care 47, no. Supplement_1 (December 11, 2023): S20–42, https://doi.org/10.2337/dc24-s002.
"Risk Factors for Type 2 Diabetes." Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Diakses Januari 2026.
"IDF Diabetes Atlas, 10th Edition." International Diabetes Federation. Diakses Januari 2026.
"Causes of Diabetes." National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases. Diakses Januari 2026.
10 Penyebab Diabetes yang Harus Dikenali dan Diwaspadai

Diabetes tidak memiliki satu penyebab tunggal, melainkan hasil interaksi banyak faktor.
Faktor genetik, gaya hidup, dan lingkungan sama-sama berperan.
Banyak faktor risiko diabetes sebenarnya bisa dicegah atau dikendalikan.
Diabetes adalah penyakit metabolik kronis yang ditandai oleh tingginya kadar gula darah akibat gangguan produksi insulin, kerja insulin, atau keduanya.
Insulin sendiri merupakan hormon penting yang membantu glukosa masuk ke dalam sel untuk digunakan sebagai energi. Ketika sistem ini terganggu, gula menumpuk di dalam darah dan memicu berbagai komplikasi.
Siapa pun bisa mengalami diabetes. Penyakit ini tidak hanya menyerang orang dewasa atau mereka yang kelebihan berat badan, tetapi juga anak-anak, remaja, dan individu dengan tubuh relatif kurus.
Diabetes tipe 1, tipe 2, dan diabetes gestasional memiliki mekanisme yang berbeda, tetapi semuanya berujung pada gangguan regulasi gula darah.
Para ahli sepakat bahwa tidak ada satu penyebab tunggal diabetes. Penyakit ini berkembang melalui kombinasi faktor genetik, biologis, gaya hidup, serta lingkungan. Memahami faktor-faktor ini penting agar pencegahan bisa dilakukan lebih dini dan lebih efektif.
1. Faktor genetik dan riwayat keluarga
Genetik memainkan peran besar dalam risiko diabetes. Seseorang dengan orang tua atau saudara kandung yang memiliki diabetes punya kemungkinan lebih tinggi untuk mengalami kondisi serupa. Ini berlaku pada diabetes tipe 1 maupun tipe 2, meski mekanismenya berbeda.
Pada diabetes tipe 1, faktor genetik berkaitan dengan kecenderungan autoimun, di mana sistem kekebalan tubuh menyerang sel penghasil insulin di pankreas. Sementara pada diabetes tipe 2, gen memengaruhi sensitivitas tubuh terhadap insulin dan kemampuan pankreas memproduksi hormon tersebut.
Namun, genetik bukanlah takdir mutlak. Banyak orang dengan riwayat keluarga diabetes tidak pernah mengalaminya, terutama jika faktor gaya hidup dapat dikelola dengan baik.
2. Resistensi insulin
Resistensi insulin terjadi ketika sel-sel tubuh tidak merespons insulin secara efektif. Akibatnya, pankreas harus memproduksi insulin lebih banyak untuk menjaga kadar gula darah tetap normal.
Kondisi ini merupakan inti dari diabetes tipe 2 dan sering berkembang perlahan selama bertahun-tahun. Pada tahap awal, kamu mungkin tidak menyadari adanya gangguan metabolik.
Resistensi insulin berkaitan erat dengan kelebihan lemak tubuh, terutama lemak viseral di sekitar perut, serta peradangan kronis tingkat rendah.
3. Kelebihan berat badan dan obesitas

Obesitas adalah salah satu faktor risiko diabetes yang paling kuat dan konsisten. Jaringan lemak, terutama di area perut, melepaskan zat inflamasi yang mengganggu kerja insulin.
Tidak semua orang dengan obesitas akan mengalami diabetes, tetapi risiko meningkat signifikan seiring bertambahnya berat badan dan lingkar pinggang. Bahkan kenaikan berat badan moderat dapat memengaruhi sensitivitas insulin.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut obesitas sebagai pendorong utama meningkatnya prevalensi diabetes tipe 2 secara global.
4. Pola makan tinggi gula dan karbohidrat olahan
Konsumsi berlebihan makanan dan minuman tinggi gula tambahan serta karbohidrat olahan dapat mempercepat lonjakan gula darah dan membebani sistem insulin.
Minuman berpemanis, makanan ultra proses, dan camilan manis berkontribusi pada peningkatan berat badan sekaligus resistensi insulin. Efeknya bersifat kumulatif dan sering tidak terasa dalam jangka pendek.
Sebaliknya, pola makan kaya akan serat, biji-bijian utuh, dan protein berkualitas terbukti membantu menjaga stabilitas gula darah.
5. Minim aktivitas fisik
Otot adalah pengguna utama glukosa dalam tubuh. Ketika kamu jarang bergerak, kemampuan tubuh menggunakan gula darah sebagai energi menurun.
Aktivitas fisik meningkatkan sensitivitas insulin, bahkan tanpa penurunan berat badan. Karena itu, gaya hidup sedentari menjadi faktor risiko independen diabetes.
Penelitian menunjukkan bahwa duduk terlalu lama setiap hari berkaitan dengan peningkatan risiko diabetes, terlepas dari aktivitas olahraga yang terjadwal.
6. Penuaan

Risiko diabetes meningkat seiring bertambahnya usia, terutama setelah usia 40 tahun. Hal ini berkaitan dengan perubahan komposisi tubuh, penurunan massa otot, dan meningkatnya resistensi insulin.
Meski demikian, diabetes kini semakin banyak ditemukan pada usia muda, seiring meningkatnya obesitas dan gaya hidup tidak aktif.
Faktor usia sering kali memperkuat efek faktor risiko lain yang sudah ada sebelumnya.
7. Stres kronis dan kurang tidur
Stres berkepanjangan memicu pelepasan hormon kortisol, yang dapat meningkatkan kadar gula darah dan mengganggu kerja insulin.
Kurang tidur juga berdampak besar pada metabolisme. Tidur yang tidak cukup atau berkualitas buruk dikaitkan dengan resistensi insulin dan peningkatan nafsu makan.
Dalam jangka panjang, kombinasi stres dan gangguan tidur dapat mempercepat munculnya diabetes tipe 2.
8. Ketidakseimbangan hormon dan kondisi medis tertentu

Beberapa kondisi hormonal seperti sindrom ovarium polikistik (PCOS), sindrom Cushing, dan gangguan tiroid meningkatkan risiko diabetes.
Penyakit kronis tertentu, seperti penyakit hati berlemak nonalkoholik (NAFLD), juga memiliki hubungan erat dengan resistensi insulin.
Kondisi ini menunjukkan bahwa diabetes sering merupakan bagian dari gangguan metabolik yang lebih luas.
9. Faktor lingkungan dan sosial
Lingkungan tempat seseorang hidup memengaruhi risiko diabetes. Akses terbatas ke makanan sehat, ruang gerak yang minim, serta paparan makanan ultraproses meningkatkan risiko penyakit metabolik.
Faktor sosial ekonomi juga berperan. WHO mencatat bahwa diabetes makin banyak ditemukan di negara berpenghasilan rendah dan menengah.
Diabetes, dalam konteks ini, bukan hanya masalah individu, tetapi juga masalah sistemik.
10. Obat-obatan tertentu dan faktor medis modern

Beberapa obat, seperti kortikosteroid jangka panjang, antipsikotik tertentu, dan terapi hormon, dapat meningkatkan kadar gula darah.
Perkembangan terapi modern juga membawa tantangan baru. Misalnya, perubahan berat badan ekstrem atau pola makan sangat rendah kalori tanpa pengawasan medis dapat memengaruhi metabolisme glukosa.
Karena itu, pemantauan medis menjadi penting, terutama bagi mereka dengan faktor risiko lain.
Langkah-langkah pencegahan diabetes
Pencegahan diabetes berfokus pada pengelolaan faktor risiko yang bisa diubah. Pola makan seimbang, aktivitas fisik teratur, dan menjaga berat badan sehat merupakan fondasi utama.
Tidur cukup, manajemen stres, dan pemeriksaan kesehatan rutin membantu mendeteksi gangguan gula darah sejak dini. Bagi individu dengan riwayat keluarga diabetes, skrining lebih awal sangat dianjurkan.
Intervensi gaya hidup terbukti dapat menurunkan risiko diabetes tipe 2 secara signifikan, bahkan pada kelompok berisiko tinggi.
Diabetes adalah penyakit kompleks yang muncul dari interaksi banyak faktor, bukan akibat satu kebiasaan atau satu kesalahan. Memahami penyebabnya membantu kamu melihat diabetes secara lebih utuh dan tidak menyederhanakan masalah. Dengan kesadaran, pencegahan dini, dan perubahan gaya hidup yang realistis, banyak kasus diabetes dapat ditunda atau bahkan dicegah.
Referensi



![[QUIZ] Seberapa Jeli Matamu Menebak Menu Buka Puasa Ini?](https://image.idntimes.com/post/20240317/22-ed4afaeeaece5897553acd75abadb7a7.jpg)



![[QUIZ] Bisakah Kamu Mengenali Tanda Depresi pada Orang Terdekat?](https://image.idntimes.com/post/20260207/pexels-liza-summer-6383164-1_1d664b73-962c-456c-b634-3a2c9b7c92de.jpg)









![[QUIZ] Apa Kamu Punya Kecenderungan Jadi Pembully? Cek Lewat Kuis Ini](https://image.idntimes.com/post/20241202/photo1597765-1e41091b3b62c5561f0c6133db1e9136-3aba98f73b0cb59c494acf4bfcc882c4.jpg)
