"Shape of Your Behind May Signal Diabetes." Radiological Society of North America. Diakses Januari 2026.
"PRECISION IMAGING OF SEX-SPECIFIC ADAPTATION IN GLUTEUS MAXIMUS MORPHOLOGY AND TYPE-2 DIABETES: A LARGE-SCALE MRI STUDY." Radiological Society of North America. Diakses Januari 2026.
Bentuk Bokong Bisa Berkaitan dengan Risiko Diabetes, Kok Bisa?

- Bentuk dan struktur otot bokong berkaitan dengan risiko diabetes tipe 2.
- Perempuan dan laki-laki menunjukkan pola perubahan otot yang berbeda.
- Menjaga kekuatan otot bokong berpotensi melindungi kesehatan metabolik, berpotensi membantu menurunkan risiko diabetes tipe 2.
Tanpa disadari, bagian tubuh yang sering dianggap soal estetika dapat menyimpan petunjuk tentang kesehatan metabolik. Studi pencitraan terbaru menunjukkan bahwa ukuran dan bentuk gluteus maximus—otot terbesar yang membentuk bokong—dapat memberi sinyal awal risiko diabetes tipe 2, bahkan sebelum gejala muncul.
Temuan ini dipresentasikan dalam pertemuan tahunan Radiological Society of North America dan didasarkan pada analisis puluhan ribu hasil MRI. Peneliti menemukan bahwa perubahan struktur otot bokong berkaitan erat dengan usia, tingkat aktivitas fisik, kerapuhan tubuh, osteoporosis, hingga diabetes tipe 2.
Menurut peneliti utama, Marjola Thanaj, PhD, gluteus maximus berperan sebagai mesin metabolik besar yang mencerminkan bagaimana tubuh mengelola glukosa dan energi.
Pola berbeda pada perempuan dan laki-laki
Untuk membaca perubahan halus ini, tim peneliti menggunakan teknik MRI canggih berupa analisis bentuk 3D statistik. Pendekatan ini tidak hanya mengukur volume atau lemak otot, tetapi memetakan perubahan bentuk otot hingga ke titik-titik kecil di permukaannya.
Hasilnya menunjukkan perbedaan mencolok antara perempuan dan laki-laki dengan diabetes tipe 2.
Pada laki-laki, terlihat area-area kecil otot gluteus yang “masuk ke dalam” atau menipis. Pola ini mencerminkan atrofi otot lokal, tanda awal penurunan kualitas otot yang sering dikaitkan dengan gangguan metabolik.
Sebaliknya, pada perempuan, pola yang muncul justru berupa tonjolan ke luar pada bagian tertentu dari otot. Tonjolan ini konsisten dengan penumpukan lemak di dalam otot (fatty hypertrophy), kondisi ketika jaringan otot perlahan tergantikan oleh lemak. Perbedaan ini menunjukkan bahwa penyakit yang sama bisa “terbaca” sangat berbeda pada tubuh laki-laki dan perempuan.
Mengapa otot bokong penting untuk kesehatan metabolik

Risiko diabetes tipe 2 meningkat seiring bertambahnya usia, berkurangnya aktivitas fisik, hilangnya massa otot, dan meningkatnya lemak tubuh. Semua faktor ini berkontribusi pada resistansi insulin, kondisi ketika sel tubuh tidak lagi merespons insulin secara optimal.
Gluteus maximus, sebagai otot terbesar di tubuh, memegang peran penting dalam penggunaan glukosa. Ketika struktur otot ini mulai berubah—baik menipis maupun dipenuhi lemak—itu bisa menjadi tanda awal bahwa keseimbangan metabolik mulai terganggu.
Jadi, bokong yang kuat bukan cuma soal performa atau penampilan. Menjaga kekuatan dan kualitas otot bokong melalui latihan fisik teratur, mengurangi waktu duduk, serta menjaga berat badan sehat berpotensi membantu menurunkan risiko diabetes tipe 2 di masa depan. Pasalnya, menurut studi ini, otot bukan cuma alat gerak, tetapi juga penanda penting kesehatan metabolik jangka panjang.
Referensi


















