Dokter spesialis anak subspesialis alergi imunologi konsultan, dr. Molly Dumakuri Oktarina Sp.A, Subsp.A.I(K), menjelaskan bahwa penanganan alergi susu sapi perlu dilakukan secara terarah dan berdasarkan evaluasi medis yang tepat.
“Setiap anak memiliki kondisi yang berbeda, sehingga pendekatan penanganannya pun tidak bisa disamaratakan. ASI merupakan nutrisi terbaik bagi anak, termasuk pada anak dengan alergi protein susu sapi. Namun, ibu perlu menghindari konsumsi susu sapi dan produk turunannya sebagai bagian dari penanganan," jelas dr. Molly.
Sementara itu, pada anak yang butuh asupan tambahan karena indikasi medis tertentu, pemilihan nutrisi perlu disesuaikan berdasarkan rekomendasi dan pemantauan dokter anak seperti:
Formula terhidrolisa ekstensif (EHF) untuk alergi ringan-sedang. EHF berbasis whey diketahui memiliki tingkat toleransi yang tinggi serta rasa yang lebih dapat diterima, sehingga dapat mendukung kepatuhan konsumsi anak.
Formula soya sebagai alternatif jika terdapat kendala biaya atau ketersediaan EHF untuk alergi ringan-sedang.
Amino acid formula (AAF) diberikan pada kondisi alergi yang lebih berat atau tidak bisa ditangani dengan EHF.
Dokter Molly mengingatkan bahwa susu terhidrolisat parsial (PHF) bukan pilihan untuk terapi alergi susu sapi karena tidak semua formula cocok untuk setiap anak, sehingga seluruh proses mulai dari diagnosis serta pemilihan nutrisi perlu dilakukan di bawah pengawasan dokter anak agar kebutuhan nutrisi dan tumbuh kembang anak tetap terjaga.
Sementara itu, formula berbasis asam amino ditemukan dapat membantu meredakan gejala alergi secara cepat dengan risiko reaksi alergi yang sangat minimal. Selain itu, formula berbasis soya juga dapat menjadi alternatif dengan tetap memastikan nutrisi penting seperti omega-3 dan omega-6, AA dan DHA, minyak ikan tuna, zat besi dan vitamin C tetap untuk tumbuh kembang optimal.
Menghadapi alergi susu sapi pada anak sering menantang bagi orang tua. Mulai dari mengenali gejala, mencari informasi yang tepat, dan memastikan asupan gizi agar tumbuh kembang tetap optimal. Jika anak bereaksi setelah minum susu, konsultasi dan pemantauan berkelanjutan diperlukan untuk memahami kondisi dan menentukan penanganan yang tepat.