Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

El Nino Godzilla Bisa Berdampak pada Kesehatan, Ini Risikonya

El Nino Godzilla Bisa Berdampak pada Kesehatan, Ini Risikonya
ilustrasi seseorang terpapar cuaca panas dan polusi udara (magnific.com/jcomp)
  • WMO menyatakan El Nino kuat berkembang pada 2026, sementara NOAA memperkirakan peluang 81 persen mencapai kategori sangat kuat pada Oktober–Desember; dampaknya berbeda menurut kondisi lokal.

  • Panas ekstrem, kekeringan, dan kebakaran hutan dapat memicu heatstroke, memperburuk penyakit kronis, mengganggu air bersih, serta meningkatkan paparan asap PM2.5 yang berisiko bagi pernapasan dan jantung.

  • Perubahan suhu dan curah hujan dapat memengaruhi penularan demam berdarah serta penyakit terkait air, sementara gangguan pertanian dan pasokan pangan berpotensi memperburuk status gizi anak.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Istilah "El Nino Godzilla" terdengar seperti satu bencana alam. Dalam kesehatan, dampaknya bisa terasa lewat beberapa cara, seperti udara menjadi lebih panas, hujan berkurang di sebagian wilayah, lahan lebih mudah terbakar, ketersediaan air terganggu, hingga ekologi nyamuk berubah.

Istilah tersebut bukan klasifikasi ilmiah resmi. World Meteorological Organization (WMO) menggunakan kategori weak, moderate, strong, dan very strong. Pada 31 Juli 2026, WMO menyatakan El Niño kuat sedang berkembang dan diperkirakan semakin menguat pada Agustus–Oktober.

Sementara itu, outlook National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) yang diterbitkan Juli memperkirakan peluang 81 persen El Nino mencapai kategori sangat kuat pada Oktober–Desember 2026. Namun, intensitas yang tinggi tidak otomatis berarti setiap wilayah akan mengalami dampak yang sama parah.

Lantas, apa pengaruh El Nino Godzilla terhadap kesehatan?

  1. 1. Risiko penyakit akibat panas meningkat

    El Nino umumnya ikut mendorong suhu rata-rata global lebih tinggi. Jika terjadi bersamaan dengan pemanasan global, kemungkinan munculnya panas ekstrem di sejumlah wilayah pun meningkat.

    Paparan panas berlebihan dapat menyebabkan kelelahan akibat panas (heat exhaustion) hingga heatstroke.

    Panas juga dapat memperburuk penyakit yang sudah ada, termasuk penyakit kardiovaskular, diabetes, asma, dan gangguan kesehatan mental.

    Heatstroke sendiri merupakan kondisi gawat darurat yang dapat berakibat fatal.

    Kelompok yang lebih rentan antara lain lansia, bayi dan anak, orang dengan penyakit kronis, serta mereka yang bekerja atau beraktivitas dalam waktu lama di luar ruangan.

  2. 2. Kebakaran hutan bisa memperburuk kualitas udara

    Di Tanah Air, salah satu dampak yang dikhawatirkan adalah kekeringan yang meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan.

    Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat kekeringan terkait El Nino pernah memperparah kebakaran di Indonesia, termasuk pada episode besar 1997 dan 2015.

    Asap kebakaran membawa partikel halus PM2.5 yang dapat masuk jauh ke paru-paru dan berkaitan dengan penyakit pernapasan maupun kardiovaskular.

    Penelitian dalam jurnal Nature Climate Change menunjukkan bahwa pada tahun-tahun El Nino kuat, kebakaran di Asia Tenggara dapat meningkatkan paparan polusi secara drastis. Model penelitian tersebut memperkirakan polusi akibat kebakaran berhubungan dengan sekitar 10.800 tambahan kematian kardiovaskular pada orang dewasa per tahun di kawasan yang diteliti.

    Dampaknya terlihat jelas pada El Nino 2015. Studi lain memperkirakan kebakaran di Asia ekuatorial menyebabkan sekitar 69 juta orang terpapar kualitas udara tidak sehat, dengan kemungkinan sekitar 11.880 kematian berlebih akibat paparan jangka pendek.

  3. 3. Pola penularan demam berdarah dapat berubah

    Ilustrasi nyamuk Aedes aegypti bertubuh gelap dengan belang putih pada kaki dan bagian tubuhnya, tampak dari jarak dekat.
    ilustrasi nyamuk Aedes aegypti (pexel.com/Igud Supian)

    Cuaca yang lebih panas dan perubahan curah hujan juga dapat mengubah kehidupan nyamuk Aedes yang membawa virus dengue.

    Sebuah studi Nature Communications tahun 2025 yang menganalisis data dari 57 negara menemukan hubungan antara fluktuasi ENSO—perubahan berkala pada interaksi antara permukaan laut Pasifik tropis dan atmosfernya, yang berganti antara fase hangat (El Nino) dan fase dingin (La Nina)—dan epidemi dengue.

    Indonesia termasuk negara endemis yang dalam analisis tersebut menunjukkan jumlah kasus lebih tinggi pada tahun El Nino dibandingkan La Nina. Pengaruh ini terutama tampaknya bekerja melalui peningkatan suhu lokal, yang dapat memengaruhi perkembangan nyamuk dan replikasi virus.

    Meski begitu, El Nino tidak langsung menyebabkan lonjakan DBD di setiap wilayah yang terdampak. Curah hujan, suhu lokal, kepadatan nyamuk, penyimpanan air, kekebalan populasi, dan upaya pengendalian vektor ikut menentukan risikonya.

  4. 4. Dampak pada air bersih dan penyakit menular

    Kekeringan dapat mengurangi pasokan air bersih, sementara hujan ekstrem dan banjir di wilayah lain dapat mencemari sumber air serta merusak sanitasi. Karena itu, ENSO telah dikaitkan dengan perubahan pola penyakit yang ditularkan melalui air maupun vektor.

    Analisis terhadap El Nino kuat tahun 2015–2016 menemukan bahwa perubahan suhu dan curah hujan menciptakan kondisi yang mendukung sejumlah wabah penyakit di berbagai wilayah dunia, termasuk di Asia Tenggara serta kolera dan malaria di wilayah lain.

    Dengan kata lain, dampak kesehatan El Nino tidak selalu sama: kekeringan dapat menjadi masalah di satu tempat, sementara banjir dan penyakit terkait air muncul di tempat lainnya.

  5. 5. Kekeringan bisa berujung pada masalah gizi

    Kekeringan dan perubahan pola hujan dapat mengurangi hasil pertanian, mengganggu pasokan makanan, dan meningkatkan kerawanan pangan.

    Penelitian yang menggabungkan lebih dari satu juta data antropometri anak dari 51 negara menemukan bahwa kondisi El Nino yang lebih hangat berkaitan dengan memburuknya status gizi anak di sebagian besar negara berkembang yang terdampak. Para peneliti memperkirakan tambahan hampir 6 juta anak mengalami berat badan kurang selama El Nino 2015 dibanding kondisi hipotetis jika ENSO saat itu netral.

    Dampak seperti ini menunjukkan bahwa ancaman kesehatan El Niño tidak berhenti ketika suhu mulai turun. Gangguan pangan dan gizi dapat meninggalkan konsekuensi yang lebih panjang, khususnya pada anak.

    Kesimpulannya, El Nino Godzilla bukan penyakit atau ancaman kesehatan tunggal. Bahayanya muncul dari rangkaian perubahan lingkungan—mulai dari panas ekstrem, kekeringan dan asap kebakaran, perubahan penularan penyakit, hingga gangguan air dan pangan.

    Di Indonesia, besarnya dampak tetap bergantung pada kondisi lokal sehingga El Nino yang sangat kuat tidak berarti semua daerah akan mengalami risiko yang sama.

    Referensi

    World Meteorological Organization, “Strong El Niño Expected to Intensify,” July 31, 2026, https://wmo.int/news/media-centre/strong-el-nino-expected-intensify; National Oceanic and Atmospheric Administration, Climate Prediction Center, “Official NOAA CPC ENSO Strength Probabilities,” issued July 2026, https://cpc.ncep.noaa.gov/products/analysis_monitoring/enso/roni/strengths/.

    World Health Organization, “El Niño Southern Oscillation (ENSO),” November 9, 2023, https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/el-nino-southern-oscillation-%28enso%29.

    Miriam E. Marlier et al., “El Niño and Health Risks from Landscape Fire Emissions in Southeast Asia,” Nature Climate Change 3 (2013): 131–36, https://doi.org/10.1038/nclimate1658.

    P. Crippa et al., “Population Exposure to Hazardous Air Quality Due to the 2015 Fires in Equatorial Asia,” Scientific Reports 6 (2016): 37074, https://doi.org/10.1038/srep37074.

    Yunyu Tian et al., “Rising Dengue Risk with Increasing El Niño–Southern Oscillation Amplitude and Teleconnections,” Nature Communications 16 (2025): 8629, https://doi.org/10.1038/s41467-025-63655-0.

    Assaf Anyamba et al., “Global Disease Outbreaks Associated with the 2015–2016 El Niño Event,” Scientific Reports 9 (2019): 1930, https://doi.org/10.1038/s41598-018-38034-z.

    Jesse K. Anttila-Hughes, Amir S. Jina, and Gordon C. McCord, “ENSO Impacts Child Undernutrition in the Global Tropics,” Nature Communications 12 (2021): 5785, https://doi.org/10.1038/s41467-021-26048-7.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More