Comscore Tracker

Anemia Aplastik, Gangguan pada Sumsum Tulang Belakang

Tidak perlu takut karena bisa dicegah dan diobati

Anemia umumnya adalah gangguan kesehatan yang disebabkan karena kurang darah. Terbagi menjadi beberapa jenis, apakah kamu tahu mengenai anemia aplastik? Bukan, anemia ini tidak ada hubungannya dengan "plastik".

Berbeda dengan jenis anemia lainnya, anemia aplastik memang langka dan bisa menyerang kelompok usia berapa pun dengan tingkat keparahan ringan hingga parah. Apa yang perlu kamu tahu tentang anemia aplastik? Simak fakta selengkapnya!

1. Definisi anemia aplastik

Anemia Aplastik, Gangguan pada Sumsum Tulang BelakangAnemia membuat penderitanya merasa lelah atau lemah. (pexels.com/Valeria Ushakova)

Seperti anemia pada umumnya, anemia aplastik adalah kondisi seseorang kekurangan darah. Pada anemia jenis ini, penyebabnya adalah ketidakmampuan sumsum tulang belakang untuk memproduksi sel darah baru. Inilah kenapa anemia aplastik juga disebut "kegagalan sumsum tulang belakang".

Bukan cuma satu, anemia aplastik memengaruhi produksi tiga sel darah utama pada manusia, yaitu sel darah merah (eritrosit), sel darah putih (limfosit), dan keping darah (platelet).

2. Dua jenis anemia aplastik

Anemia Aplastik, Gangguan pada Sumsum Tulang Belakangilustrasi foto penderita anemia (freepik.com/yanalya)

Sel punca (stem cell) pada sumsum tulang belakang menghasilkan eritrosit, limfosit, dan platelet. Akan tetapi, stem cell pada pasien anemia aplastik mengalami kerusakan. Akibatnya, sumsum tulang menjadi kosong (aplastik) atau hanya mengandung sedikit sel darah (hipoplastik).

Dilansir WebMD, anemia aplastik dapat dibagi menjadi dua jenis:

  • Anemia aplastik turunan
  • Anemia aplastik yang diperoleh

Anemia aplastik turunan disebabkan oleh kecacatan genetik yang umumnya terjadi pada anak-anak dan dewasa muda. Pasien anemia aplastik turunan lebih rentan terkena leukemia dan kanker lain.

Anemia Aplastik, Gangguan pada Sumsum Tulang Belakangilustrasi anemia (freepik.com/jcomp)

Anemia aplastik juga dapat disebabkan oleh faktor-faktor lain yang merusak sumsum tulang. Mengutip Mayo Clinic, faktor-faktor yang dapat merusak sumsum tulang belakang dan memengaruhi produksi ketiga sel darah tersebut mencakup:

  • Perawatan radiasi dan kemoterapi: sementara terapi melawan kanker membunuh sel-sel kanker, radiasi dan kemoterapi juga dapat merusak sel-sel sehat, termasuk stem cell di sumsum tulang belakang.

  • Paparan bahan kimia beracun: bahan yang digunakan dalam pestisida dan insektisida, benzena, serta bensin telah dikaitkan dengan anemia aplastik. Jenis anemia ini dapat membaik dengan menghindari paparan terhadap bahan kimia yang menyebabkannya.

  • Penggunaan obat-obatan tertentu: obat untuk artritis reumatoid dan beberapa antibiotik dapat menyebabkan anemia aplastik.

  • Gangguan autoimun: sistem imun dapat menyerang sel-sel sehat, dan mungkin menyerang juga stem cell di sumsum tulang belakang.

  • Infeksi virus: virus yang dapat dikaitkan dengan anemia aplastik termasuk hepatitis, Epstein-Barr, sitomegalovirus (CMV), parvovirus B19, dan human immunodeficiency virus (HIV).

  • Kehamilan: sistem kekebalan ibu hamil dapat menyerang sumsum tulang belakang selama kehamilan.

  • Faktor yang tidak diketahui: dalam banyak kasus, penyebab anemia aplastik tidak diketahui (anemia aplastik idiopatik)

3. Gejala-gejala anemia aplastik

Anemia Aplastik, Gangguan pada Sumsum Tulang Belakangilustrasi lemas karena anemia (flo.health)

Perlu diketahui, ketiga sel darah yang terpengaruh oleh anemia aplastik memiliki tugas berbeda-beda. Eritrosit mengedarkan oksigen ke seluruh tubuh, sementara limfosit memerangi infeksi, dan platelet mencegah pendarahan.

Oleh karena itu, gejala-gejala anemia aplastik tergantung dari jumlah sel darah mana yang minim. Berbagai gejala anemia aplastik berdasarkan sel darah yang terdampak di antaranya: 

  • Eritrosit rendah:

    • Kelelahan
    • Sesak napas
    • Pusing
    • Warna kulit berubah pucat
    • Sakit kepala
    • Sakit dada
    • Detak jantung tak teratur

  • Limfosit rendah:

    • Rentan terkena infeksi
    • Demam

  • Platelet rendah:

    • Mudah mengalami memar dan pendarahan
    • Sering mimisan

Dapat datang bertahap atau tiba-tiba, gejala anemia aplastik dapat memengaruhi orang secara berbeda-beda. Dilansir Cleveland Clinic, beberapa pasien mengalami gejala ringan yang dapat dikendalikan, sedangkan beberapa mengalami gejala parah dan memerlukan intervensi medis sesegera mungkin.

4. Diagnosis anemia aplastik

Anemia Aplastik, Gangguan pada Sumsum Tulang Belakangilustrasi tes darah (unsplash.com/Hush Naidoo)

Jika mengalami gejala-gejala tersebut, lebih baik langsung berkonsultasi dengan dokter. Untuk menegakkan diagnosis, dokter akan menanyakan gejala yang dialami dan riwayat kesehatan pasien.

Dilansir Medical News Today, ada dua tes yang digunakan untuk mendeteksi anemia aplastik:

  • Pemeriksaan darah lengkap (CBC) untuk melihat kadar eritrosit, limfosit, dan platelet. Jika ketiga sel darah rendah, kemungkinan besar pasien mengalami pansitopenia (kondisi yang ditandai oleh adanya anemia, leukopenia, dan trombositopenia, dengan segala manifestasinya).

  • Mengambil sampel atau biopsi sumsum tulang belakang. Ini bisa diambil dari tulang panggul atau pinggul. Setelahnya, sampel tersebut akan diperiksa. Jika pasien menderia anemia aplastik, sumsum tulang tidak akan memiliki stem cell yang khas.
Anemia Aplastik, Gangguan pada Sumsum Tulang Belakangilustrasi biopsi sumsum tulang belakang (medicalnewstoday.com)

Anemia aplastik dapat memiliki gejala yang serupa dengan kondisi medis lain. Oleh karena itu, dokter perlu mengeliminasi kemungkinan penyebab lainnya. Beberapa kondisi yang gejalanya mirip anemia aplastik meliputi sindrom myelodysplastic dan hemoglobinuria nokturnal paroksismal.

Selain itu, ada beberapa kondisi penyerta yang dapat memperbesar risiko berkembangnya anemia aplastik, seperti:

  • Sindrom ataksia-pansitopenia
  • Anemia Fanconi
  • Sindrom Schwachman-Diamond
  • Penyakit telomer

Jika pasien terdeteksi dengan satu dari empat kondisi tersebut, biasanya dokter sudah akan bersiap-siap kalau anemia aplastik muncul sewaktu-waktu.

Baca Juga: Lensa Kamera HP Berpotensi Deteksi Anemia? Ini Penelitiannya!

5. Pengobatan untuk anemia aplastik

Anemia Aplastik, Gangguan pada Sumsum Tulang Belakangilustrasi transfusi darah (stanfordbloodcenter.org)

Ada dua sasaran dari pengobatan anemia aplastik, yaitu mengurangi gejala dan merangsang sumsum tulang belakang untuk memproduksi tiga sel darah baru.

Jadi, cara pertama untuk mengobati anemia aplastik adalah dengan transfusi darah untuk menaikkan kadar eritrosit dan platelet. Meski bukan obat absolut untuk anemia aplastik, transfusi eritrosit dan platelet dapat mengurangi gejala seperti kelelahan atau pendarahan.

Anemia Aplastik, Gangguan pada Sumsum Tulang Belakangilustrasi obat-obatan (pixabay.com/qimono)

Pengobatan juga dapat membantu anemia aplastik. Obat stimulan untuk sumsum tulang belakang umum diberikan, yang tujuannya agar sumsum tulang belakang semakin terpicu untuk memproduksi tiga sel darah baru.

Dokter juga dapat memberikan resep antibiotik karena rendahnya kadar limfosit dalam tubuh. Idealnya, antibiotik dapat melindungi pasien dari infeksi sampai pasien dapat memproduksi lebih banyak limfosit baru.

Karena anemia aplastik dapat disebabkan oleh sistem imun yang menyerang stem cell, dokter juga dapat meresepkan obat imunosupresan. Tercatat sebanyak 2 dari 3 pasien anemia aplastik membaik setelah diberikan obat imunosupresan.

6. Transplantasi sumsum tulang belakang dan stem cell

Anemia Aplastik, Gangguan pada Sumsum Tulang Belakangtransplantasi sumsum tulang belakang (isthealth.com.tr)

Transplantasi sumsum tulang belakang atau stem cell amat direkomendasikan untuk anemia aplastik yang sudah parah pada pasien yang berusia muda. Dengan begitu, sumsum tulang belakang dapat memproduksi sel darah baru dalam jangka panjang.

Prosedur dimulai dengan meresepkan obat kemoterapi untuk menyingkirkan sel-sel sumsum tulang belakang abnormal. Kemudian, dokter akan memulai suntik transplantasi pada pasien anemia aplastik. Transplantasi dapat berasal dari:

  • Donasi sumsum tulang belakang
  • Stem cell perifer
  • Darah dari tali pusat

Biasanya, donasi untuk transplantasi sumsum tulang belakang harus memiliki golongan darah dan pengaturan genetik yang sama. Umumnya, donasi datang dari anggota keluarga. Namun, tidak jarang donasi dapat datang dari orang lain yang ternyata cocok dengan pasien.

7. Komplikasi anemia aplastik

Anemia Aplastik, Gangguan pada Sumsum Tulang Belakangilustrasi sel darah putih di antara sel darah merah (healthline.com)

Itulah beberapa opsi pengobatan untuk pasien anemia aplastik. Namun, jika pasien bersikeras tak mau diobati, maka anemia aplastik dapat menyebabkan komplikasi parah. Beberapa komplikasi klinis yang bisa terjadi antara lain:

  • Pendarahan
  • Infeksi virus, bakteri dan jamur kronis
  • Komplikasi jantung kronis (aritmia, gagal jantung)
  • Anemia aplastik berkembang jadi sindrom myelodysplastic atau leukemia akut
Anemia Aplastik, Gangguan pada Sumsum Tulang Belakangkulit melepuh, salah satu tanda GVHD (verywellhealth.com)

Selain penyakit, perawatan anemia aplastik pun dapat memiliki efek samping. Salah satunya adalah penyakit graft versus host atau GVHD. Gejala-gejala umum GVHD adalah:

  • Kulit melepuh
  • Mual dan muntah
  • Diare dan tinja berdarah
  • Kehilangan nafsu makan
  • Kelelahan kronis
  • Kram perut
  • Kerusakan pada organ hati

Menurut sebuah penelitian gabungan Amerika Serikat dan Jepang yang dimuat dalam New England Journal of Medicine tahun 2015, sebanyak 15 persen pasien anemia aplastik yang menerima terapi imunosupresan mengalami sindrom myelodysplastic dan leukemia myeloid akut.

8. Hidup dengan anemia aplastik

Anemia Aplastik, Gangguan pada Sumsum Tulang Belakangilustrasi beristirahat karena anemia (unsplash.com/Kinga Cichewicz)

Sementara menunggu harapan untuk pengobatan yang pasti, pasien anemia aplastik dapat melakukan beberapa hal agar terhindar dari komplikasi serius. Pasien disarankan untuk:

  • Lebih sering beristirahat dan mencegah kelelahan dari kurangnya eritrosit
  • Menghindari olahraga yang melibatkan kontak fisik agar tidak terluka dan pendarahan karena kurangnya platelet
  • Menjaga kebersihan diri dan menghindari kerumunan agar tidak terinfeksi virus dan bakteri dari lingkungan dan orang sekitar karena kurangnya limfosit

Pasien juga direkomendasikan untuk konsultasi dengan dokter jika ingin bepergian dengan pesawat atau terpapar dengan lingkungan oksigen rendah. Dengan begitu, pasien bisa melakukan transfusi darah terlebih dulu.

Itulah beberapa fakta mengenai anemia aplastik. Jika kamu mengalami gejala-gejala yang mengarah ke kondisi ini, segera temui dokter untuk menjalani pemeriksaan dan mendapatkan penanganan yang tepat.

Baca Juga: Obati Penyakit Anemia dengan 12 Makanan Penambah Darah Seperti Ini

Topic:

  • Nurulia R. Fitri
  • Bayu Aditya Suryanto

Berita Terkini Lainnya