Comscore Tracker

Ibu Hamil Berisiko Mengalami Aritmia? Ini Penjelasannya!

Mengenal gejala aritmia amat penting bagi ibu dan janinnya

Pepatah mengatakan, "Surga berada di bawah telapak kaki ibu". Bukan tanpa alasan, seorang ibu menunjukkan pengorbanan besar, terutama saat mengandung selama 9 bulan. Nyawa merekalah taruhannya karena selain harus bersusah payah, tubuh mereka pun menjadi rentan pada masa-masa tersebut.

Di sisi lain, gangguan irama jantung atau aritmia bisa terjadi di segala golongan usia dan gender, bahkan tanpa harus memiliki riwayat penyakit jantung. Pertanyaannya, apakah perempuan hamil bisa mengalami aritmia? Mari simak pembahasannya!

1. Proses aritmia pada ibu hamil

Ibu Hamil Berisiko Mengalami Aritmia? Ini Penjelasannya!ilustrasi kesehatan jantung (freepik.com/pressfoto)

Dilansir Cleveland Clinic, fenomena jantung berdebar-debar (palpitasi jantung) pada ibu hamil adalah hal yang lumrah terjadi. Hal ini umumnya terjadi saat memasuki trimester ketiga karena janin makin berkembang dan butuh asupan darah.

Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah sekaligus Konsultan Kardiologi Intervensi serta Konsultan Aritmia Elektrofisiologi di Eka Hospital BSD dan Bekasi, dr. Ignatius Yansen NG, SpJP(K), FIHA., menjelaskan bahwa terjadi perubahan fisiologi kardiovaskular sehingga volume plasma darah meningkat 40 persen.

Ia menjelaskan lewat sebuah rilis bahwa denyut jantung meningkat 30 persen karena aktivitas otonom dan adregenik pada tubuh ibu hamil, sehingga aktivitas dan pompa jantung pun meningkat. Hal ini menyebabkan peregangan otot jantung sehingga memicu aritmia pada ibu hamil.

2. Gejala aritmia pada ibu hamil

Mengenal gejala yang menuju aritmia amat penting untuk menjaga keselamatan ibu dan janin hingga waktunya persalinan. Medical News Today, melansir gejala-gejala kardiovaskular yang patut diwaspadai pada ibu hamil meliputi:

  • Pusing.
  • Perasaan tidak nyaman.
  • Perasaan jantung berdebar kencang.
  • Detak jantung abnormal (detak jantung normal menurut American Heart Association adalah 60–100 beat per minute/bpm).
  • Berkeringat.
  • Perasaan seperti jantung seakan "jatuh".

“Pasien aritmia pada ibu hamil kadang mengalami beberapa keluhan, seperti berdebar akibat denyut jantung tambahan atau denyut jantung yang tinggi, pandangan gelap, pingsan hingga membutuhkan evaluasi lebih lanjut,” ujar dr. Yansen.

3. Penyebab aritmia pada ibu hamil

Ibu Hamil Berisiko Mengalami Aritmia? Ini Penjelasannya!ilustrasi ibu hamil (unsplash.com/Alicia Petresc)

Cleveland Clinic menambahkan bahwa ada beberapa faktor yang bisa menyebabkan fenomena palpitasi jantung pada ibu hamil, seperti:

  • Anemia.
  • Gangguan kecemasan dan depresi.
  • Konsumsi kafein berlebihan.
  • Dehidrasi dan ketidakseimbangan kadar elektrolit.
  • Obesitas.
  • Perubahan hormon.
  • Gula darah rendah (hipoglikemia).
  • Tekanan darah rendah (hipotensi).
  • Gangguan medis seperti aritmia, miokarditis, gangguan kelenjar tiroid, dan kelainan struktur jantung.

Baca Juga: 16 Infeksi saat Kehamilan yang Berisiko Fatal pada Janin

4. Diagnosis aritmia pada ibu hamil

Jika gejala-gejala sebelumnya dihadapi oleh para ibu hamil, dr. Yansen menyarankan untuk segera berkonsultasi. Setelah anamnesis, pemeriksaan lebih detail dilakukan dengan rekam jantung via elektrokardiogram (EKG), tes darah rutin, hingga pemeriksaan Holter 24 jam atau lebih.

“Penting dalam pemeriksaan ini untuk menyingkirkan kondisi sistemik lainnya seperti anemia, hipertiroid dan infeksi. Pemeriksaan ekokardiografi untuk menyingkirkan adanya kelainan struktur jantung,” imbuh dr. Yansen.

Selain itu, dr. Yansen menegaskan bahwa sebagian besar insiden aritmia pada ibu hamil adalah kelainan ringan. Meski begitu, jika tidak segera ditangani, aritmia bisa memengaruhi keselamatan ibu dan jabang bayi.

“Terapi aritmia pada pasien ibu hamil perlu dipertimbangkan secara saksama, apakah akan memengaruhi keselamatan janin? Sebagian obat anti aritmia dapat melewati plasenta dan bisa berbahaya untuk janin."

5. Terapi kateter ablasi lebih aman untuk aritmia pada ibu hamil

Ibu Hamil Berisiko Mengalami Aritmia? Ini Penjelasannya!ilustrasi jantung manusia (pixabay.com/StockSnap)

Dengan pertimbangan tersebut, dr. Yansen menekankan bahwa kateter ablasi (cardiac ablation) adalah metode terapi yang sangat efektif untuk ibu hamil dengan aritmia. Bersifat minimal invasif, terapi ini dilakukan dengan memasukkan kateter yang memiliki elektrode dari lipat paha untuk mendapatkan fokus kelainan aritmia.

“Terapi ini dapat menjadi pilihan bila pasien sangat bergejala dan tidak berhasil diterapi dengan obat atau pasien menolak minum obat dengan pertimbangan keselamatan janin," tambah dr. Yansen.

Fluoroskopi digunakan untuk mengarahkan kateter ke jantung. Setelah ditemukan, maka dokter bisa memberikan energi berupa gelombang radio untuk mengablasi bagian yang menyebabkan aritmia pada jantung sehingga aritmia tidak terjadi lagi.

"Dengan bantuan teknologi 3 dimensi kateter ablasi dapat dilakukan pada pasien ibu hamil dengan aritmia tanpa menggunakan radiasi sama sekali sehingga aman untuk ibu dan janin,” ucap dr. Yansen dalam pernyataan tertulis.

6. Pencegahan aritmia pada ibu hamil

Fenomena jantung berdebar adalah hal normal dan tidak bisa dicegah saat kehamilan. Meski begitu, ibu hamil dengan kondisi jantung penyerta perlu mewaspadai gejala-gejala yang mengarah ke aritmia. Jadi, menurut Cleveland Clinic, ada beberapa hal yang bisa dilakukan oleh para ibu hamil, yaitu:

  • Konsumsi makanan bergizi seimbang dan menghindari lemak, karbohidrat, garam, dan gula berlebihan.
  • Jika mengalami gangguan kecemasan atau depresi, segera berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater.
  • Batasi konsumsi kafein dan tidak mengonsumsi alkohol apalagi merokok.
  • Menjaga berat badan tetap seimbang.
  • Mencoba meditasi dan yoga.
  • Mencoba teknik relaksasi atau pernapasan lainnya untuk menekan stres.

Selain cek kesehatan janin, jangan lupa untuk berkonsultasi dengan spesialis jantung dan pembuluh darah untuk memeriksa kesehatan jantung. Jika gejala jantung berdebar makin terasa tak tertahankan, jangan ragu untuk segera mencari pertolongan.

Baca Juga: Ibu Hamil Wariskan Antibodi dari Vaksin COVID-19 kepada Bayinya

Topic:

  • Nurulia

Berita Terkini Lainnya