Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Kenapa Perut Kembung di Minggu Awal Puasa? Ini Penyebabnya

Kenapa Perut Kembung di Minggu Awal Puasa? Ini Penyebabnya
ilustrasi perut kembung (vecteezy.com/kitsanaphong burarat)
Intinya Sih
  • Perut kembung di minggu awal puasa terjadi karena tubuh beradaptasi terhadap perubahan pola makan dan ritme biologis, metabolisme, dan pencernaan.

  • Kebiasaan makan terlalu cepat saat berbuka dan konsumsi makanan tinggi lemak, gorengan, atau minuman bersoda dapat memperlambat pengosongan lambung dan meningkatkan produksi gas.

  • Fenomena “balas dendam” saat berbuka membuat lambung teregang mendadak; disarankan berbuka bertahap, mengatur porsi sahur, serta menjaga asupan serat agar adaptasi berjalan lancar.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Selama minggu pertama Ramadan, tidak sedikit orang mengeluhkan perut terasa penuh, begah, atau kencang meski porsi makan sebenarnya tidak berlebihan. Sensasi ini dikenal sebagai bloating atau perut kembung, yaitu kondisi ketika saluran cerna dipenuhi gas atau terjadi gangguan motilitas sehingga muncul rasa tidak nyaman. Keluhan ini umum terjadi saat tubuh beradaptasi dari pola makan reguler menjadi pola puasa harian.

Perut kembung pada awal puasa bukan fenomena tunggal, melainkan kombinasi perubahan fisiologis, pola makan, dan ritme biologis tubuh. Yuk, simak penjelasannya lebih lanjut!

1. Tubuh sedang beradaptasi

Puasa memicu perubahan metabolik dan hormonal, termasuk pergeseran penggunaan sumber energi dari glukosa ke lemak serta perubahan sekresi hormon pencernaan. Adaptasi ini juga memengaruhi:

  • Kecepatan pengosongan lambung.
  • Produksi asam lambung.
  • Pergerakan usus.

Saat ritme makan berubah drastis, dari tiga kali atau lebih sehari menjadi dua kali (sahur dan berbuka), saluran cerna perlu waktu untuk menyesuaikan diri. Pada fase adaptasi inilah gas lebih mudah terperangkap dan menimbulkan kembung.

2. Pola makan saat berbuka

Ilustrasi buka puasa bersama keluarga.
ilustrasi berbuka puasa (freepik.com/freepik)

Makan terlalu cepat setelah berjam-jam puasa dapat menyebabkan udara ikut tertelan (aerofagia). Akibatnya, gas menumpuk di lambung dan usus.

Selain itu, individu yang berpuasa juga kerap mengonsumsi:

  • Makanan tinggi lemak.
  • Gorengan.
  • Minuman berkarbonasi.
  • Makanan tinggi gula.

Makan makanan dan minuman di atas dapat memperlambat pengosongan lambung serta meningkatkan produksi gas. Perubahan komposisi makanan selama Ramadan, terutama peningkatan konsumsi makanan manis dan berlemak—berkontribusi pada gangguan pencernaan, termasuk kembung.

3. Fenomena "balas dendam" saat berbuka

Penelitian tentang volume lambung saat puasa menunjukkan bahwa kondisi puasa memengaruhi volume isi lambung dan respons terhadap makanan. Ketika berbuka dengan porsi besar sekaligus, lambung yang kosong lama tiba-tiba teregang signifikan, menimbulkan sensasi penuh dan kembung.

Fenomena yang sering terjadi di awal Ramadan adalah “balas dendam” saat berbuka, yang justru memperberat kerja sistem cerna.

Ada beberapa strategi untuk mengurangi kejadian ini:

  • Berbuka secara bertahap mulai dengan kurma dan air, beri jeda sebelum makan besar.
  • Hindari makan terlalu cepat untuk mencegah menelan udara.
  • Batasi gorengan, makanan tinggi lemak, dan minuman bersoda.
  • Cukupi asupan serat secara bertahap, bukan sekaligus banyak.
  • Perhatikan porsi sahur, jangan terlalu berat namun cukup protein dan serat.
  • Tetap bergerak ringan setelah berbuka untuk membantu pergerakan usus.

Perut kembung di minggu awal puasa merupakan respons adaptif tubuh terhadap perubahan pola makan dan ritme biologis. Faktor utamanya meliputi perubahan fisiologi pencernaan, pola makan berbuka yang kurang tepat, modulasi mikrobiota usus, serta kondisi lambung yang kosong dalam waktu lama lalu diisi secara mendadak.

Kabar baiknya, keluhan ini umumnya bersifat sementara dan akan membaik seiring tubuh menyesuaikan diri, asalkan pola makan saat sahur dan berbuka dikelola dengan baik.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
EditorNuruliar F
Follow Us

Latest in Health

See More