- Kontaminasi lingkungan dan polutan
Traveling ke Tempat Bersalju, Amankah Makan Salju?

- Makan salju dalam jumlah kecil dari sumber yang bersih biasanya tidak berbahaya, tetapi ini bukan sumber air yang ideal.
- Salju dapat mengandung polutan, bakteri, dan kontaminan udara/lingkungan yang berisiko bagi kesehatan.
- Makan salju dalam konteks darurat (misalnya bertahan hidup) malah bisa membawa risiko seperti penurunan suhu tubuh dan dehidrasi.
Orang-orang yang tinggal di negara tropis seperti Indonesia jarang melihat salju, apalagi mencicipinya. Namun saat berwisata ke negara beriklim dingin, pertanyaan yang muncul sering kali sama: apakah makan salju aman?
Persepsi umum menyamakan salju dengan “air beku” yang bersih, sementara sebagian lainnya justru khawatir tentang polusi, bakteri, atau kontaminasi yang mungkin terkandung di dalamnya.
Artikel ini mengulas apakah boleh makan salju, risiko yang perlu diperhatikan, situasi aman versus tidak aman, siapa yang sebaiknya menghindarinya, serta apakah ada manfaatnya bagi kesehatan.
Table of Content
1. Apakah makan salju aman?
Secara umum, makan salju dalam jumlah kecil tidak dianggap berbahaya bagi kebanyakan orang, asal salju tersebut segar, putih, dan belum menyentuh permukaan tanah atau kontaminan lain.
Jika salju yang kamu makan adalah salju putih dari permukaan yang belum terkontaminasi, peluang besar itu aman selama dilakukan dalam jumlah sedikit.
Namun, penting dipahami bahwa salju bukanlah air minum siap konsumsi seperti dari keran atau botol. Saat terbentuk di atmosfer, salju menangkap partikel debu, polusi udara, dan unsur lain di udara, sehingga meskipun terlihat bersih secara visual, tetapi bisa membawa kontaminan yang tidak terlihat.
2. Risiko kesehatan makan salju

Berikut ini beberapa potensi risiko makan salju:
Salju aktif menyaring udara saat turun dari langit ke permukaan bumi. Ini berarti salju bisa membawa serta polutan udara, partikulat, dan bahkan pestisida yang terikat dalam kristal es tersebut.
Para ilmuwan menyebut salju sebagai salah satu cara atmosfer “membersihkan” udara dari partikel-partikel tersebut, tetapi ketika berakhir di tanah atau pada salju yang kamu makan, partikel tersebut tetap ada. Paparan ini biasanya sangat rendah, tetapi tetap ada kemungkinan masuk ke tubuh jika dimakan dalam jumlah banyak atau di area berpolusi tinggi.
- Kontaminasi fisik dan biologis
Setelah jatuh ke tanah, salju bisa bercampur dengan debu, bakteri, urine hewan, garam jalan, atau bahan kimia lain yang ada di lingkungan. Bahkan salju yang tampak putih pun bisa saja mengandung kontaminan ini jika pengaruh angin atau manusia sudah bercampur dengannya.
Mengonsumsi salju yang sudah terkontaminasi dapat menyebabkan gangguan gastrointestinal seperti sakit perut, diare, atau mual, terutama jika mengandung bakteri atau patogen.
- Risiko dehidrasi dan penurunan suhu tubuh
Meskipun salju terdiri dari air beku, tetapi menelan salju untuk memenuhi kebutuhan cairan tidak disarankan. Saat tubuh harus mengeluarkan energi untuk mencairkan salju menjadi air, ini memerlukan suhu tubuh melewati energi metabolik, yang justru bisa menurunkan suhu tubuhmu secara keseluruhan.
Ini bisa berdampak pada hipotermia, kondisi ketika suhu inti tubuh turun ke tingkat berbahaya, terutama jika kamu sudah berada di lingkungan dingin tanpa sumber panas lain.
3. Adakah waktu/lokasi aman makan salju dan kapan tidak aman?
Waktu dan lokasi sangat berpengaruh.
- Relatif aman: salju segar, putih, belum menyentuh tanah atau area yang sering dilewati orang/hewan, dan berada jauh dari sumber polusi udara industri atau jalan raya.
- Tidak aman: salju di dekat jalan yang dipenuhi kendaraan (mengandung partikel knalpot, garam, dan zat berbahaya lainnya), salju di permukaan tanah yang bercampur tanah atau kotoran, atau salju yang sudah lama terbentuk.
Selain itu, salju yang baru turun pada jam-jam pertama dari badai bisa mengandung lebih banyak partikel polutan dari atmosfer, karena salju itu menangkap kontaminan udara saat terbentuk dan turun.
4. Siapa yang harus menghindari makan salju?

Walaupun sesekali makan sedikit salju mungkin tidak berbahaya, tetapi ada kelompok yang lebih rentan terhadap potensi risiko:
- Anak kecil, karena sistem imun mereka masih berkembang dan mereka cenderung memakan salju dalam jumlah lebih besar.
- Orang dengan kondisi kesehatan lemah atau sistem kekebalan terganggu, karena kontaminan seperti bakteri bisa menyebabkan infeksi yang lebih serius.
- Orang yang tinggal di daerah dengan polusi tinggi, karena salju di area tersebut cenderung mengandung lebih banyak partikel berbahaya.
5. Di luar risikonya, adakah manfaat makan salju?
Jika dilihat dari segi nutrisi atau hidrasi, makan salju bukan sumber yang baik. Salju hanyalah air beku yang perlu dicairkan dulu agar layak dikonsumsi sebagai air minum, dan proses ini justru bisa berdampak negatif bagi suhu inti tubuh.
Satu-satunya “manfaat” adalah rasa nostalgia atau kesenangan bermain salju, yang memberi kenangan musim dingin yang menyenangkan. Namun, ini lebih bersifat psikologis atau pengalaman sosial daripada manfaat biologis langsung.
Makan salju dalam jumlah kecil dari salju yang belum terkontaminasi, misalnya menangkap kepingan yang baru turun di udara bersih, biasanya tidak berbahaya bagi orang dewasa sehat. Asalkan salju itu putih bersih dan jauh dari permukaan tanah atau area berpolusi, risikonya relatif rendah.
Meski begitu, salju bukanlah sumber air yang layak dikonsumsi secara rutin atau dalam jumlah besar karena kemungkinan polutan udara, kontaminasi lingkungan, dan risiko penurunan suhu tubuh. Kelompok rentan seperti anak, orang tua, atau yang memiliki gangguan kekebalan tubuh atau berada di area polusi tinggi sebaiknya menghindarinya.
Referensi
"Is it safe to eat snow? Scientists say yes — with these caveats." KPBS. Diakses Februari 2026.
“Be Careful When Eating Snow: Health Risks Revealed.” Institut Der Gesundheit. Diakses Februari 2026.
"Don’t Eat the White Stuff: The Hidden Dangers of Consuming Snow." Kitchen Journal. Diakses Februari 2026.
"Is It Safe To Eat Snow?" Cleveland Clinic. Diakses Februari 2026.


















