- Fluoride profesional dan perawatan remineralisasi dapat membantu menghentikan atau memperlambat awal kerusakan enamel.
- Untuk lubang yang lebih besar, dokter gigi dapat melakukan penambalan untuk mengisi area yang rusak.
- Bila karies telah mencapai pulpa gigi (saraf gigi), perawatan saluran akar atau bahkan pencabutan gigi mungkin diperlukan.
7 Penyebab Karies Gigi yang Sering Tak Disadari

- Karies gigi sangat umum di Indonesia dan dunia, dengan prevalensi tinggi terutama pada anak usia sekolah.
- Penyebab karies melibatkan kombinasi bakteri, pola makan tinggi gula, kebersihan mulut yang buruk, serta faktor lain seperti aliran saliva dan fluoride.
- Pencegahan fokus pada kebiasaan hidup, penggunaan fluoride, serta pemeriksaan rutin ke dokter gigi.
Karies gigi, atau dikenal sebagai gigi berlubang, adalah kondisi kerusakan jaringan keras gigi akibat proses biologis kompleks. Karies adalah salah satu penyakit paling umum di seluruh dunia, dimulai sejak gigi pertama tumbuh dan berlanjut sepanjang hidup jika tidak ditangani.
Di Indonesia, karies gigi merupakan masalah kesehatan mulut yang sangat luas. Berdasarkan studi Survei Kesehatan Indonesia (SKI) terbaru, sekitar 57 persen orang dewasa di atas usia 3 tahun mengalami masalah gigi, dengan karies dan gigi berlubang termasuk penyebab dominan, meski hanya sekitar 11 persen yang mencari pengobatan.
Prevalensi karies pada anak juga tinggi. Sejumlah penelitian lokal melaporkan angka prevalensi lebih dari 80 persen pada anak usia sekolah, mencerminkan kebutuhan mendesak untuk intervensi pencegahan dari tingkat keluarga hingga layanan kesehatan.
Berikut ini penyebab paling umum yang berkontribusi pada terbentuknya karies gigi.
1. Bakteri mulut yang menghasilkan asam
Proses karies dimulai ketika bakteri yang hidup di mulut, terutama Streptococcus mutans dan Lactobacillus, memetabolisme sisa makanan, khususnya gula dan karbohidrat, menjadi asam. Asam ini kemudian menyerang enamel (lapisan terluar gigi), menyebabkan demineralisasi.
Enamel yang terdiri dari mineral keras dapat rusak jika terpapar asam secara berulang. Ketika enamel melemah, permukaan gigi menjadi rentan terhadap lubang dan retakan. Reaksi ini berlangsung bertahap; karies sering tidak langsung terasa sampai mencapai lapisan lebih dalam seperti dentin atau bahkan pulp gigi.
Jika tidak dibersihkan secara efektif lewat menyikat gigi, bakteri ini akan terus membentuk plak, yaitu lapisan lengket yang menjadi ladang subur bagi bakteri pembusuk, mempercepat kerusakan gigi.
2. Pola makan tinggi gula dan karbohidrat

Makanan dan minuman manis adalah favoritmu? Ini juga makanan favorit bagi bakteri penyebab karies, lho! Konsumsi gula bebas merupakan faktor risiko utama perkembangan karies gigi di seluruh dunia.
Setiap kali gula dikonsumsi, bakteri mulut memproduksi asam sebagai produk sampingan. Paparan asam yang sering, misalnya melalui minuman manis, permen, dan camilan tinggi gula, memberikan paparan asam yang terus-menerus, sehingga enamel sulit mengalami remineralisasi alami oleh air liur.
Ini juga berlaku pada makanan bertepung yang lengket di gigi (seperti roti putih atau kraker) karena partikel makanan yang tersisa menjadi makanan bagi bakteri.
3. Kebersihan mulut yang kurang
Tidak rutin menyikat gigi atau tidak efektif memungkinkan plak menumpuk. Plak adalah lapisan bakteri lengket yang terus menghasilkan asam ketika bersentuhan dengan sisa makanan.
Tanpa flossing, partikel makanan antara gigi tidak terangkat dan menjadi tempat berkembangnya bakteri. Menggosok gigi dua kali sehari dengan pasta gigi ber-fluoride sangat direkomendasikan untuk mengurangi akumulasi plak dan risiko karies.
Peran kebersihan mulut bukan cuma sikat gigi. Penggunaan benang gigi dan janji temu rutin dengan dokter gigi membantu mendeteksi masalah sejak awal.
4. Tidak mendapat cukup fluoride

Fluoride adalah mineral yang membantu menguatkan enamel dan meningkatkan resistansi terhadap serangan asam. Di banyak komunitas, fluoridasi air minum dan penggunaan pasta gigi ber-fluoride secara luas dikaitkan dengan penurunan prevalensi karies.
Ketika asupan fluoride rendah, misalnya air minum tanpa fluoridasi atau tidak menggunakan pasta gigi ber-fluoride, enamel gigi menjadi lebih mudah rusak oleh bakteri.
Strategi pencegahan seperti varnish fluoride oleh dokter gigi terbukti efektif menurunkan risiko karies pada anak.
5. Kondisi mulut kering
Air liur memainkan peran esensial dalam membersihkan sisa makanan dan asam, serta menyediakan mineral yang membantu remineralisasi enamel.
Kondisi medis, konsumsi obat tertentu, atau dehidrasi dapat menurunkan produksi air liur (xerostomia), sehingga plak dan asam menumpuk lebih cepat di permukaan gigi.
Kurangnya perlindungan alami ini secara signifikan meningkatkan risiko karies, terutama pada orang tua atau pasien dengan kondisi medis kronis.
6. Struktur gigi yang rentan

Beberapa orang memiliki gigi dengan alur dan celah yang lebih dalam pada permukaan kunyah (misalnya gigi geraham belakang), yang secara alami lebih sulit dibersihkan.
Partikel makanan dan bakteri dapat tersangkut di dalam alur tersebut, sehingga plak terbentuk dan sulit dihilangkan hanya dengan sikat biasa.
Dalam kasus ini, dokter gigi sering merekomendasikan sealant gigi, yaitu lapisan pelindung yang menutup alur dan membantu mencegah karies.
7. Faktor biologis dan sosial-ekonomi
Faktor lain yang memperbesar risiko karies termasuk usia (anak dan lansia), kondisi kekebalan, status sosial–ekonomi yang rendah (akses terbatas ke perawatan gigi), serta pola makan yang kurang sehat.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat bahwa penyakit mulut, termasuk karies, lebih sering tidak tertangani di negara berpenghasilan rendah dan menengah.
Kebiasaan kesehatan keluarga, pendidikan tentang kebersihan mulut, dan ketersediaan layanan kesehatan gigi memainkan peran penting dalam deteksi dan pencegahan dini.
Cara mengatasi karies

Penanganan karies tergantung pada stadium kerusakannya.
Pencegahan tetap kunci utama:
- Sikat gigi dua kali sehari dengan pasta gigi ber-fluoride.
- Flossing setiap hari untuk menghilangkan sisa makanan antar gigi.
- Batasi konsumsi gula dan minuman manis.
- Periksa gigi secara rutin (setidaknya setahun sekali).
Karies gigi adalah proses biologis yang dipengaruhi oleh bakteri, pola makan, kebersihan mulut, dan faktor lingkungan. Dengan memahami penyebabnya, kamu dapat membuat keputusan gaya hidup yang lebih sehat untuk mencegahnya sejak dini. Perubahan sederhana dalam kebiasaan makan dan perawatan gigi dapat mengurangi risiko kerusakan yang dapat bertahan seumur hidup.
Referensi
"Sugars and dental caries." World Health Organization. Diakses Februari 2026.
"57% Warga Alami Masalah Gigi, Kemenkes Imbau Segera Ditangani di Puskesmas." Kementerian Kesehatan RI. Diakses Februari 2026.
Lisa May Nanda, Rita Endriani, Dewi Anggraini, Agung Tri Prakoso, dan Elita Rafni. “Hubungan karies gigi dengan kualitas hidup pada anak usia Sekolah Dasar: studi cross-sectional.” Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran 37, no. 3 (December 2025): 319–325. https://doi.org/10.24198/jkg.v37i3.60135.
Institute for Quality and Efficiency in Health Care (IQWiG), “Overview: Tooth Decay,” InformedHealth.org - NCBI Bookshelf, September 5, 2023, https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK279514/.
"About Cavities (Tooth Decay)." CDC. Diakses Februari 2026.
"About Oral Health." CDC. Diakses Februari 2026.
"Preventing Oral Diseases and Conditions in Communities." CDC. Diakses Februari 2026.
Us Preventive Services Task Force et al., “Screening and Interventions to Prevent Dental Caries in Children Younger Than 5 Years,” JAMA 326, no. 21 (December 7, 2021): 2172, https://doi.org/10.1001/jama.2021.20007.



















