Beaudry, Gabrielle et al. "Bacterial sexually transmitted infections in incarcerated populations: a systematic review and meta-analysis." The Lancet Public Health, Volume 11, Issue 1, e44 - e60.
"High prevalence of sexually transmitted infections found in prisons globally." CIDRAP. Diakses Januari 2026.
Tingkat Infeksi Menular Seksual Tinggi di Penjara secara Global

- Tinjauan global menemukan prevalensi infeksi menular seksual (IMS) bakteri yang tetap tinggi di penjara.
- Remaja dan perempuan yang dipenjara menunjukkan angka IMS yang lebih tinggi dibanding kelompok lain.
- Keterbatasan akses tes dan pengobatan membuat penjara menjadi titik krusial dalam upaya eliminasi IMS global.
Penjara kerap luput dari perhatian dalam diskusi kesehatan masyarakat, padahal temuan terbaru menunjukkan beban infeksi menular seksual (IMS) bakteri di lingkungan ini secara konsisten masih tinggi.
Sebuah tinjauan sistematis dan metaanalisis terhadap lebih dari 200 studi melaporkan prevalensi klamidia, gonore, dan sifilis yang “tetap tinggi” di penjara di berbagai belahan dunia.
Studi yang dipimpin peneliti dari McGill University ini menganalisis data dari 206 penelitian yang mencakup sekitar 1,4 juta orang yang dipenjara di 43 negara. Sebagian besar studi berasal dari Amerika Utara serta Amerika Tengah dan Selatan, dan mayoritas dilakukan di negara berpendapatan tinggi dan menengah. Populasi yang diteliti mencakup remaja usia 10–19 tahun hingga orang dewasa.
Para penulis menggarisbawahi bahwa Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah lama mengategorikan orang yang berada di penjara dan lingkungan tertutup lainnya sebagai kelompok kunci dalam respons global terhadap IMS dan infeksi yang ditularkan melalui darah. Namun, bukti sebelumnya sering kali terfragmentasi dan sulit digeneralisasi. Tinjauan besar ini membantu menutup celah tersebut dengan gambaran yang lebih menyeluruh.
Siapa yang paling rentan dan apa artinya?

Hasil analisis menunjukkan perbedaan mencolok antarkelompok. Di antara perempuan dewasa yang dipenjara, prevalensi gabungan klamidia mencapai 6,5 persen, gonore 1,5 persen, dan sifilis 5,9 persen.
Pada laki-laki dewasa, angkanya sedikit lebih rendah. Namun, situasi paling mengkhawatirkan terlihat pada remaja, terutama perempuan: prevalensi klamidia mencapai 16,8 persen dan gonore 6,0 persen.
Para peneliti menilai angka-angka ini mencerminkan kombinasi perilaku seksual berisiko serta akses yang buruk terhadap layanan tes dan pengobatan IMS, baik di dalam penjara maupun di komunitas sebelum dan sesudah masa penahanan. Dengan kata lain, penjara bukan hanya tempat di mana risiko terkonsentrasi, tetapi juga cermin dari kegagalan sistem kesehatan yang lebih luas.
Kesimpulan studi ini menekankan perlunya investasi serius untuk memperkuat layanan kesehatan seksual, terutama bagi populasi yang mengalami pemenjaraan.
Penyediaan tes dan pengobatan dengan skema opt-out—yang mana semua orang ditawari pemeriksaan kecuali menolak—di penjara dan lingkungan tertutup dinilai krusial untuk mencapai target eliminasi IMS dan infeksi menular melalui darah pada 2030 yang ditetapkan WHO. Upaya ini bukan hanya melindungi mereka yang berada di balik jeruji, tetapi juga berdampak langsung pada kesehatan masyarakat di luar penjara.
Referensi















.jpg)



