ilustrasi periksa ke dokter (pexels.com/Los Muertos Crew)
Penanganan azoospermia tergantung pada penyebabnya. Tidak semua kasus azoospermia mendapatkan penanganan yang sama. Karena itu, dokter perlu mencari tahu terlebih dahulu apa yang menyebabkan kondisi tersebut.
Jika azoospermia disebabkan oleh penyumbatan, dokter dapat mempertimbangkan prosedur operasi. Operasi tersebut bertujuan untuk memperbaiki atau menyambungkan kembali saluran reproduksi.
Sementara itu, jika penyebabnya berkaitan dengan gangguan hormon, terapi hormonal dapat menjadi salah satu pilihan. Penanganannya tentu disesuaikan dengan jenis gangguan dan hasil pemeriksaan pasien.
Bagaimana jika produksi sperma di dalam testis sangat rendah? Pada beberapa pria dengan non-obstructive azoospermia, dokter dapat mempertimbangkan surgical sperm retrieval.
Surgical sperm retrieval juga termasuk metode microTESE untuk mencari sperma yang masih diproduksi di bagian tertentu dari testis. Sperma yang berhasil ditemukan kemudian dapat digunakan dalam bayi tabung.
Jadi, diagnosis azoospermia bukan berarti kesempatan memiliki anak biologis otomatis tertutup. Pilihan penanganan tetap bergantung pada penyebab, kondisi reproduksi pria, hasil pemeriksaan, serta faktor lain yang berkaitan dengan pasangan.
Pemeriksaan dan konsultasi dengan dokter spesialis yang menangani infertilitas pria penting dilakukan untuk menentukan langkah berikutnya. Jadi, jika kamu atau pasangan sedang menghadapi masalah kesuburan, jangan ragu untuk berkonsultasi dan melakukan pemeriksaan lebih lanjut.
Referensi :
Cleveland Clinic. (2023, September 27). Azoospermia.
Cocuzza, M., Alvarenga, C., & Pagani, R. (2013). The epidemiology and etiology of azoospermia. Clinics, 68, 15–26.
Huyghe, E., & Chiu, P. K. (2025). Health risks associated with infertility and non-obstructive azoospermia. Asian Journal of Andrology, 27(3), 428–432.
Johns Hopkins University. (n.d.). Azoospermia: What is “azoospermia”?
Raza, N., Grammatis, A., Sangster, P., & Kirkman‐Brown, J. (2026). Management of Azoospermia: A Systematic approach. The Obstetrician & Gynaecologist, 28(3), 155–167.
Stanford Health Care. (n.d.). Azoospermia.
Wosnitzer, M., Goldstein, M., & Hardy, M. P. (2014). Review of azoospermia. Spermatogenesis, 4(1), e28218.