Referensi
Juan Iregui-Parra et al., “Standing or Sitting to Void? Comparative Uroflowmetry in Healthy Male Volunteers: A Randomized Crossover Study with Equivalence Analysis,” Neurourology and Urodynamics, diterbitkan daring 13 Oktober 2026, https://doi.org/10.1002/nau.70485.
Ype de Jong et al., “Urinating Standing versus Sitting: Position Is of Influence in Men with Prostate Enlargement. A Systematic Review and Meta-Analysis,” PLOS ONE 9, no. 7 (2014): e101320, https://doi.org/10.1371/journal.pone.0101320.
National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases, “Enlarged Prostate (Benign Prostatic Hyperplasia),” diakses 1 November 2026.
Pria Sebaiknya Kencing Duduk atau Berdiri? Studi Ini Mengujinya

Pada 52 pria sehat, posisi duduk dan berdiri tidak menunjukkan perbedaan bermakna dalam kecepatan puncak aliran urine maupun volume yang keluar.
Posisi duduk membuat peserta sedikit lebih cepat mencapai aliran puncak, tetapi selisih sekitar tiga detik itu dinilai kecil dan mungkin dipengaruhi oleh satu peserta.
Hasil ini belum menjawab posisi terbaik bagi pria dengan gejala berkemih atau pembesaran prostat.
Banyak pria memilih berdiri saat kencing, sementara beberapa lainnya merasa melakukannya sambil duduk lebih nyaman. Nah, sebuah studi baru menguji apakah salah satu posisi membuat aliran urine lebih lancar.
Penelitian yang terbit dalam jurnal Neurourology and Urodynamics ini melibatkan 52 pria sehat. Setiap peserta mencoba buang air kecil sambil duduk dan berdiri, dengan urutan yang diacak dan jeda minimal 24 jam. Peneliti mengukur kecepatan aliran urine tertinggi, volume urine yang keluar, serta waktu untuk mencapai aliran tertinggi.
Dari situ, peneliti tidak menemukan perbedaan bermakna pada kecepatan aliran tertinggi maupun volume urine yang keluar. Peserta mencapai aliran puncak sekitar 3,3 detik lebih cepat saat duduk, tetapi selisih ini dinilai kecil dan mungkin dipengaruhi hasil dari satu peserta.
Studi ini tidak mengukur sisa urine di kandung kemih setelah buang air kecil. Jadi, hasilnya tidak bisa dipakai untuk menyimpulkan bahwa kandung kemih pasti kosong sama baiknya dalam kedua posisi. Peneliti juga belum dapat memastikan secara statistik bahwa kedua posisi benar-benar setara.
Table of Content
Bagaimana dengan pria yang mengalami keluhan?

ilustrasi sering buang air kecil berdiri (magnific.com/jcomp) Studi baru ini hanya melibatkan pria sehat.
Pada tahun 2014, sebuah tinjauan sistematis dan metaanalisis terhadap 11 studi menemukan hasil yang berbeda menurut kondisi peserta. Ditemukan bahwa pada pria sehat, posisi duduk dan berdiri tidak menunjukkan perbedaan berarti pada parameter yang diteliti. Pada pria dengan gejala saluran kemih bawah, duduk dikaitkan dengan rata-rata sisa urine yang lebih sedikit setelah berkemih—sekitar 25 mililiter lebih rendah daripada saat berdiri.
Namun, temuan itu berasal dari kumpulan studi dengan hasil yang beragam dan tidak membuktikan bahwa duduk akan membantu setiap pria yang bergejala.
Kesulitan memulai aliran urine, aliran yang lemah atau terputus-putus, sering terbangun malam untuk berkemih, dan rasa kandung kemih belum kosong bisa berkaitan dengan masalah prostat atau kondisi saluran kemih lainnya. Jika keluhan muncul, mengubah posisi boleh saja dicoba untuk kenyamanan, tetapi jangan mengandalkannya sebagai pengganti pemeriksaan. Segera konsultasikan masalah ini dengan dokter.
Tidak bisa buang air kecil sama sekali, urine berdarah, atau nyeri hebat perlu segera ditangani.
Untuk pria sehat, studi ini belum menunjukkan alasan medis yang kuat untuk memilih duduk atau berdiri. Untuk pria dengan keluhan, posisi duduk mungkin membantu sebagian orang, tetapi penyebab gejalanya tetap perlu dinilai oleh dokter.





















