gambar seorang perempuan yang sedang mengandung (unsplash.com/Suhyeon Choi)
Para ahli sepakat bahwa Autism Spectrum Disorder (ASD) berkembang sebelum bayi dilahirkan. Sayangnya sampai saat ini para ahli belum menemukan penyebab pasti mengapa bayi bisa terlahir dengan kondisi ini. Dilansir Healthline, meski begitu sebagian besar penelitian menunjukkan bahwa beberapa faktor bisa membuat risiko anak terlahir dengan autisme jadi lebih besar. Lantas apakah autisme itu genetik?
Sayangnya, genetik merupakan salah satu faktor yang dapat meningkatkan risiko autisme pada anak. Jika seseorang memiliki saudara kandung, kembar, pasangan, atau orangtua yang autis, maka risiko mereka untuk memiliki anak dengan kondisi serupa juga jadi lebih tinggi. Bahkan jika kedua orang tuanya tidak autis, kemungkinan akan selalu ada. Selain genetik, faktor lingkungan seperti infeksi virus, obat-obatan, komplikasi selama kehamilan, hingga polusi udara, dan paparan logam juga meningkatkan risiko autisme.
Salah satu tantangan bagi orang autisme adalah terbatasnya akses ke pendidikan dan pekerjaan. Bahkan gak sedikit yang beranggapan bahwa orang autisme tidak kompeten. Kenyataannya tingkat intelektualitas di antara orang autis sangat beragam. Memang dalam banyak kasus, orang dengan autisme seringkali membutuhkan orang lain. Namun, ada juga di antara mereka yang memiliki tingkat intelektualitas tinggi dan dapat hidup secara mandiri.
Referensi
“Autism Spectrum Disorders.” World Health Organization (WHO). Diakses pada April 2026.
“Is Autism Genetic?” UCLA Health. Diakses pada April 2026.
“Autism (Autism Spectrum Disorder).” Cleveland Clinic. Diakses pada April 2026.
“Signs and Symptoms of Autism Spectrum Disorder.” Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Diakses pada April 2026.
“Autism: Symptoms, Causes, Diagnosis, and Treatment.” Healthline. Diakses pada April 2026.
“Autism Risk Factors.” Healthline. Diakses pada April 2026.
“What Causes Autism?” Autism Speaks. Diakses pada April 2026.