Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Apakah Daging Kucing Bisa Dimakan? Ada Regulasinya!
ilustrasi kucing (pexels.com/Pixabay)
  • Konsumsi daging kucing masih terjadi di beberapa negara, terutama di Asia.

  • Daging kucing berisiko menularkan berbagai penyakit karena tidak memiliki standar penyembelihan yang aman.

  • Di Indonesia, konsumsi daging kucing tidak diperuntukkan bagi manusia dan berkaitan dengan aturan dalam Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2014 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Kucing merupakan hewan peliharaan favorit banyak orang. Tak hanya menggemaskan, kucing bisa jadi teman bagi manusia. Sayangnya, tak sedikit negara di dunia yang mengonsumsi daging kucing layaknya daging ayam atau sapi yang dimasak untuk santapan sehari-hari. 

Bahkan, ada juga pemakan daging kucing yang berdalih bahwa kucing bisa menyembuhkan beberapa penyakit, seperti diabetes hingga meningkatkan libido. Dari fenomena tersebut, mungkin kamu bertanya-tanya apakah daging kucing bisa dimakan? Simak terus artikel ini untuk menemukan jawabannya.

1. Fenomena daging kucing

ilustrasi daging (pexels.com/Lukas)

Khususnya di Asia, daging kucing masih diperjualbelikan di beberapa negara. Di Vietnam, misalnya, daging kucing dimasak menjadi sebuah hidangan. Bahkan, hidangan ini punya sebutan Little Tiger. Adapun, daging kucing hitam dianggap sebagai daging premium.

Hal ini menimbulkan kekhawatiran karena daging kucing memiliki potensi bahaya kesehatan bagi yang memakan. Oleh karena itu, banyak organisasi dunia mengecam tindakan tersebut. Selain itu, makan daging kucing merupakan bentuk tindakan tidak etis karena kucing bukanlah hewan ternak.

2. Bahaya untuk kesehatan

ilustrasi kucing (pexels.com/Pixabay)

Dalam kebijakan pemerintah, setiap rumah potong hewan (RPH) memiliki standarisasi penyembelihan. Tujuannya agar hasil potongan sehat, aman, dan halal (jika hewan halal). Namun, untuk daging kucing, tidak ada standarisasi penyembelihan.

Standarisasi penyembelihan ini sangat penting. Jika tidak ada standarisasi, hewan yang disembelih memiliki risiko tinggi menyebarkan meat borne diseases (MBDs), penyakit-penyakit yang ditularkan lewat daging. Alhasil, penyebaran penyakit lebih besar karena tak ada jaminan kesehatan dan keamanan. Contoh penyakit yang berpotensi menular antara lain tuberkulosis dan rabies.

Selain tuberkulosis dan rabies, tak adanya standarisasi penyembelihan dapat menyebabkan penyakit yang disebabkan bakteri atau parasit, misalnya bakteri Clostridium, Staphylococcal, dan Brucella. Ada pula parasit, seperti cacing gelang Trichinella dan cacing pita Taenia. Akibat dari bakteri dan parasit tersebut ialah gangguan pencernaan hingga diare.

3. Mitos daging kucing

ilustrasi kesehatan (unsplash.com/Patty Brito)

Pada Agustus 2024, ada peristiwa heboh yang melibatkan daging kucing. Seorang pemilik kos di Semarang memakan daging kucing dengan dalih ingin menyembuhkan diabetes. Hal ini membuat warga Semarang heboh sehingga pelaku ditangkap dan dihukum wajib lapor.

Dari kejadian tersebut, timbul pertanyaan apakah daging kucing menyembuhkan diabetes? Hal ini dibantah langsung oleh dinas kesehatan setempat yang menyebutkan bahwa daging kucing tidak bisa menyembuhkan gula darah atau diabetes. Sebaliknya, daging kucing lebih berisiko menularkan penyakit, termasuk penyakit rabies.

4. Regulasi dan larangan

ilustrasi hukum (pexels.com/KATRIN BOLOVTSOVA)

Dari kasus yang telah disebutkan sebelumnya, memakan daging kucing bisa dilaporkan polisi. Di Indonesia, aturan tentang konsumsi daging kucing berkaitan dengan Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2014 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan. Dalam aturan tersebut, daging kucing bukan diperuntukkan untuk pangan manusia, melainkan untuk hewan peliharaan. 

Karena itu, segala bentuk konsumsi daging kucing adalah penyalahgunaan. Hukumannya mulai dari wajib lapor hingga penjara 2 tahun. Tak hanya Indonesia, negara-negara lain juga memiliki aturan terkait undang-undang perlindungan hewan.

5. Negara dengan praktik makan daging kucing

ilustrasi kucing (pexels.com/Serena Koi)

Walau sudah diketahui bahaya kesehatan dan regulasi terkait memakan daging kucing, beberapa negara masih mengonsumsi daging kucing. Kamu bisa melihat contohnya seperti di China, Vietnam, Korea Selatan, Filipina, dan Thailand. Bahkan, masyarakat di sana percaya bahwa daging kucing baik untuk kesehatan.

Di China, diperkirakan ada 4 juta kucing yang disembelih dan dikonsumsi. Bahkan, pada Juni, di China selatan terdapat festival daging anjing yang memperjualbelikan kucing dan anjing untuk disembelih. Di sana, ada kepercayaan bahwa daging kucing dapat meningkatkan metabolisme, menyejukkan tubuh saat musim panas, dan menghangatkan tubuh saat musim dingin.

Sementara, di Vietnam terkenal dengan perdagangan ilegal kucing dan anjing. Kucing dimasak sup, semur, dan sate sebagai menu harian di Ho Chi Minh. Untuk itu, setiap tahunnya ada ribuan kucing yang diculik untuk dimasak.

Pertanyaan apakah daging kucing bisa dimakan sudah terjawab. Selain tidak baik untuk kesehatan, ada aturan undang-undang yang mengatur tentang memakan daging kucing. Bisa masuk penjara, lho!

Referensi
“Bukan Ternak Pangan, Bahaya Konsumsi Daging Kucing”. Universitas Airlangga. Diakses Desember 2025.
“Special Dish ‘Little Tiger’: The Rampant Cat Meat Trade in Vietnam”. FOUR PAWS in US. Diakses Desember 2025.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

EditorYudha ‎