Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Apakah Jus Buah Aman untuk Penyakit Asam Urat?
ilustrasi membuat jus (unsplash.com/Matea Brajdić)
  • Jus buah tidak otomatis dilarang untuk orang dengan penyakit asam urat atau gout, tetapi porsinya perlu dibatasi, terutama jika diminum sering, banyak, atau diberi gula tambahan.

  • Fruktosa dalam minuman manis dan jus buah dapat meningkatkan produksi asam urat pada sebagian orang, terutama jika total asupannya tinggi.

  • Pilihan yang lebih aman adalah makan buah utuh, minum air putih lebih banyak, dan menjadikan jus sebagai minuman sesekali, bukan kebiasaan harian.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jus buah bisa menjadi bagian dari pola makan sehati seimbang. Namun, buat orang yang punya penyakit asam urat, apakah rutin minum jus buah aman atau justru bisa memicu kekambuhan?

Penyakit asam urat atau gout terjadi ketika kadar urat dalam tubuh tinggi dalam waktu lama, lalu membentuk kristal seperti jarum di sendi. Kristal ini bisa memicu nyeri, bengkak, kemerahan, dan serangan mendadak yang sering terasa sangat menyakitkan. Gout biasanya menyerang satu sendi pada satu waktu dan sering menyerang jempol kaki.

1. Kenapa jus buah bisa jadi masalah untuk asam urat?

Buah tak bisa dipisahkan dari fruktosa. Ini merupakan jenis gula alami yang banyak terkandung dalam buah, madu, gula meja, sirop, dan minuman manis. Saat fruktosa diproses tubuh, metabolisme ini dapat meningkatkan pembentukan asam urat. Menurut studi, ada hubungan langsung antara asupan fruktosa dan kadar asam urat serum.

Jus buah bisa dengan mudah dikonsumsi dalam jumlah banyak. Satu gelas jus jeruk bisa berisi beberapa buah jeruk. Kalau dimakan utuh, mungkin kamu berhenti setelah makan satu atau dua buah karena kenyang. Namun, dalam bentuk jus, semuanya bisa habis dalam beberapa tegukan.

Sebuah penelitian prospektif terhadap laki-laki menemukan bahwa konsumsi minuman manis dan fruktosa berkaitan kuat dengan peningkatan risiko gout, begitu pula buah dan jus buah tinggi fruktosa.

Studi lain terhadap perempuan juga melaporkan bahwa minuman tinggi fruktosa, termasuk soda manis dan jus jeruk, dapat meningkatkan kadar asam urat dan risiko gout.

Namun, bukan berarti buah itu musuh. Dalam bentuk utuh, buah memberikan serat, vitamin, mineral, air, dan fitonutrien. Sebuah ulasan ilmiah tentang buah pada pasien hiperurisemia (kadar asam urat di dalam tubuh melebihi batas normal) dan gout menekankan bahwa buah tidak bisa dilihat hanya sebagai sumber fruktosa, karena nutrisi lain seperti vitamin C, flavonoid, kalium, dan serat dapat memengaruhi efeknya terhadap urat.

2. Jus apa yang sebaiknya dibatasi konsumsinya?

ilustrasi membuat jus (pexels.comYaroslav Shuraev)

Orang dengan penyakit asam urat sebaiknya lebih berhati-hati dengan jus buah yang sangat manis, jumlah banyak, jus kemasan, jus konsentrat, dan jus yang ditambah gula.

Contohnya jus jeruk manis dalam porsi besar, jus apel, jus anggur, jus mangga, jus sirsak dengan gula, atau jus campuran yang memakai sirop dan kental manis.

Selain itu, label “100 persen buah” tidak otomatis berarti bebas risiko. Jus 100 persen buah memang tidak selalu sama dengan minuman bergula tambahan, tetapi tetap mengandung gula alami dalam bentuk cair. Karena tidak banyak serat dan tidak perlu dikunyah, tubuh bisa menerima beban gula lebih cepat daripada saat makan buah utuh.

Pasien gout direkomendasikan untuk untuk membatasi asupan sirop jagung tinggi fruktosa. Juga, batasi atau hindari alkohol dan makanan tinggi purin, serta menurunkan berat badan pada pasien gout yang kelebihan berat badan.

3. Bagaimana cara minum jus yang lebih aman?

Kalau punya asam urat tinggi atau riwayat gout, pilihan terbaik tetap makan buah utuh alih-alih dibuat jus. Pilih buah dalam porsi wajar, misalnya potongan buah segar, bukan satu blender besar berisi banyak jenis buah sekaligus.

Jika tetap ingin minum jus, menikmatinya sesekali umumnya bukan masalah. Gunakan satu porsi buah, tidak perlu menambahkan gula, jangan menambahkan sirop, dan jangan menjadikannya pengganti air putih.

Lebih aman juga jika jus diminum bersama makanan, bukan saat perut kosong dalam porsi besar, agar lonjakan gula tidak terlalu cepat.

Untuk sehari-hari, tetap prioritaskan minum air putih. Hidrasi penting karena membantu ginjal membuang asam urat lewat urine. Orang dengan gout juga perlu memperhatikan pemicu lain seperti alkohol, jeroan, daging merah, seafood tertentu, berat badan berlebih, dan obat tertentu seperti diuretik.

Jika gout sering kambuh, benjolan tofi muncul, atau kadar asam urat tetap tinggi, perubahan pola makan saja biasanya tidak cukup dan perlu evaluasi dokter.

Kesimpulannya, minum jus buah tidak dilarang, tetapi ini perlu dibatasi bagi orang dengan penyakit asam urat. Kalau diminum sedikit dan sesekali mungkin tidak masalah. Namun, jika diminum setiap hari, dalam porsi besar, dan manis, jus buah bisa menjadi faktor risiko yang membuat penyakit asam urat lebih sulit dikendalikan.

Referensi

Centers for Disease Control and Prevention. “Gout.” Diakses Juli 2026.

FitzGerald, John D., Nicola Dalbeth, Ted Mikuls, et al. “2020 American College of Rheumatology Guideline for the Management of Gout.” Arthritis Care & Research 72, no. 6 (2020): 744–760. https://doi.org/10.1002/acr.24180.

Choi, Hyon K., and Gary Curhan. “Soft Drinks, Fructose Consumption, and the Risk of Gout in Men: Prospective Cohort Study.” BMJ 336, no. 7639 (2008): 309–312. https://doi.org/10.1136/bmj.39449.819271.BE.

Choi, Hyon K., Walter Willett, and Gary Curhan. “Fructose-Rich Beverages and Risk of Gout in Women.” JAMA 304, no. 20 (2010): 2270–2278. https://doi.org/10.1001/jama.2010.1638.

Jamnik, Jovana, et al. “Fructose Intake and Risk of Gout and Hyperuricemia: A Systematic Review and Meta-Analysis of Prospective Cohort Studies.” BMJ Open 6, no. 10 (2016): e013191. https://doi.org/10.1136/bmjopen-2016-013191.

Ayoub-Charette, Stephanie, et al. “Important Food Sources of Fructose-Containing Sugars and Incident Gout: A Systematic Review and Meta-Analysis of Prospective Cohort Studies.” BMJ Open 9, no. 5 (2019): e024171. https://doi.org/10.1136/bmjopen-2018-024171.

Caliceti, Cristian, Davide Calabria, Alessandro Roda, and Aldo Cicero. “Fructose Intake, Serum Uric Acid, and Cardiometabolic Disorders: A Critical Review.” Nutrients 9, no. 4 (2017): 395. https://doi.org/10.3390/nu9040395.

Nakagawa, Takahiko, et al. “The Effects of Fruit Consumption in Patients with Hyperuricaemia or Gout.” Rheumatology 58, no. 7 (2019): 1133–1141. https://doi.org/10.1093/rheumatology/kez128.

Editorial Team

Related Article