Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Obesitas Konsisten Masuk 5 Besar Masalah Kesehatan di Indonesia

Obesitas Konsisten Masuk 5 Besar Masalah Kesehatan di Indonesia
ilustrasi obesitas (pexels.com/Towfiqu barbhuiya)
Intinya Sih
  • Obesitas masih menjadi lima besar masalah kesehatan di Indonesia dan berperan besar terhadap meningkatnya risiko diabetes, hipertensi, serta penyakit jantung menurut Wamenkes Dante Saksono Harbuwono.

  • Hasil studi menunjukkan hampir seluruh masyarakat Indonesia memiliki gen diabetes, namun gaya hidup sehat dapat mencegah gen tersebut aktif meski risiko meningkat bila kedua orang tua mengidap diabetes.

  • Inovasi obat tirzepatide disebut memberi harapan baru karena mampu menurunkan gula darah, tekanan darah, kolesterol, dan berat badan sekaligus, melengkapi upaya pengendalian melalui pola hidup sehat.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Bukan cuma soal penampilan maupun kenyamanan, kelebihan berat badan hingga obesitas merupakan pintu masuk utama berbagai komplikasi serius, terutama diabetes tipe 2.

Wakil Menteri Kesehatan Republik Indonesia (Wamenkes) Prof. Dante Saksono Harbuwono, menegaskan bahwa obesitas harus dikelola melalui tata laksana medis yang tepat.

Berdasarkan data Program Cek Kesehatan Gratis (CKG), obesitas secara konsisten masuk dalam lima besar masalah kesehatan yang paling banyak ditemukan di Indonesia.

"Berbicara tentang obesitas berarti berbicara tentang perubahan metabolisme tubuh. Dengan mengendalikan dan menurunkan angka obesitas, kita secara langsung dapat mencegah komplikasi lanjutan, seperti menurunkan angka kasus diabetes, hipertensi, hingga penyakit jantung," ujarnya, dikutip dalam situs resmi.

Table of Content

Diabates bisa diturunkan?

Diabates bisa diturunkan?

Prof. Dante mengungkap, hasil studi genetik dalam negeri menunjukkan bahwa hampir seluruh masyarakat Indonesia memiliki bakat atau gen diabetes. Namun, aktif atau tidaknya gen tersebut sangat bergantung pada gaya hidup sehari-hari. Risiko penurunan penyakit ini juga makin meningkat akibat faktor keturunan yang makin kuat.

"Jika hanya salah satu orang tua yang mengidap diabetes, risiko anak terkena diabetes masih di bawah 10 persen. Namun, jika kedua orang tua menyandang diabetes, risiko anak meningkat drastis menjadi 20 hingga 30 persen pada usia yang jauh lebih muda. Kurva risikonya naik tajam," lanjutnya.

Kondisi tersebut tercermin dari hasil survei kesehatan di Jakarta yang menunjukkan prevalensi diabetes telah mencapai 12,8 persen, atau setara dengan 1 dari 8 penduduk Jakarta. Ironisnya, dari angka tersebut, baru sekitar 3 persen yang terdiagnosis.

Sementara itu, sekitar 9,8 persen lainnya baru mengetahui dirinya mengidap diabetes saat mengikuti survei karena sebelumnya tidak merasakan gejala apa pun.

Perlunya inovasi obat-obatan

Menjaga berat badan melalui modifikasi gaya hidup, seperti pengaturan pola makan dan olahraga, memang bisa menantang. Data klinis menunjukkan tingkat keberhasilan diet mandiri dalam jangka panjang hanya sekitar 5 persen.

Di sisi lain, operasi bariatrik masih terkendala biaya yang tinggi dan hanya diperuntukkan bagi kondisi medis tertentu.

"Di antara diet mandiri dan operasi bariatrik terdapat celah yang perlu diisi. Di sinilah pentingnya kehadiran inovasi obat-obatan medis terbaru untuk menjembatani kebutuhan tersebut," lanjut Prof. Dante.

Harapan baru dari obat tirzepatide

Ilustrasi seorang pasien perempuan menyuntikkan obat ke area perut dengan latar belakang oranye dan logo IDN Times di pojok.
ilustrasi pasien menyuntikkan obat (IDN Times/Novaya Siantita)

Prevalensi diabetes di Indonesia saat ini berkisar antara 11,5 hingga 11,7 persen. Hal ini dikatakan oleh spesialis endokrinologi dari Persatuan Endokrinologi Indonesia (PERKENI), Prof. dr. Em Yunir, Sp.PD, KEMD.

Menurutnya, tantangan terbesar dalam penanganan diabetes adalah penyakit ini jarang berdiri sendiri. Diabetes umumnya disertai berbagai penyakit penyerta (komorbid), seperti dislipidemia dan hipertensi, yang dapat memicu kerusakan organ, termasuk gagal ginjal.

Hadirnya inovasi pengobatan baru, seperti zat tirzepatide, diharapkan menjadi angin segar karena mampu bekerja secara menyeluruh dengan meniru dua hormon alami tubuh yang mengatur pusat rasa lapar di otak. Dengan mekanisme tersebut, pasien akan merasa kenyang lebih cepat dan lebih lama sehingga asupan kalori berkurang secara alami.

"Cukup dengan satu jenis pengobatan, berbagai masalah dapat ikut terkendali. Tidak hanya menurunkan kadar gula darah dengan sangat baik, tetapi juga menurunkan tekanan darah, memperbaiki profil kolesterol, hingga membantu menurunkan berat badan secara signifikan," Prof. Em Yunir mengatakan.

Meskipun inovasi medis terus berkembang, tetapi fondasi utama tetap dari gaya hidup, seperti rutin berolahraga, pengaturan pola makan, serta rencana pengobatan dari dokter dan cek kesehatan rutin.

Share Article
Curated For You
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
EditorNuruliar F

Related Articles

See More