- Tinggi badannya ikut bertambah, bukan berat saja yang naik.
- Anak tetap aktif, tidak mudah lelah, dan tumbuh sesuai usianya.
- Grafik pertumbuhannya tetap mengikuti jalur kurva, tidak tiba-tiba melonjak jauh.
- Berat badan dinilai sesuai usia, jenis kelamin, dan tinggi badan, bukan dibandingkan dengan anak lain.
Anak Makin Gemuk, Kapan Orang Tua Perlu Waspada?

- Kenaikan berat badan anak masih wajar jika tinggi badan ikut bertambah, anak tetap aktif, dan grafik pertumbuhan sesuai jalur tanpa lonjakan ekstrem.
- Orang tua perlu waspada bila berat naik cepat tanpa pertambahan tinggi, muncul kelelahan, mendengkur keras, tekanan darah tinggi, atau tanda resistensi insulin.
- Penanganan obesitas anak sebaiknya fokus pada perubahan pola makan sehat, aktivitas fisik rutin minimal 60 menit per hari, tidur cukup, dan konsultasi dokter bila ada gejala mengkhawatirkan.
Berat badan anak naik tidak salalu buruk karena pada dasarnya anak sedang dalam masa pertumbuhan. Ada masa tubuhnya tampak lebih berisi sebelum tinggi badannya menyusul. Ada juga fase ketika nafsu makan meningkat karena aktivitas, pubertas, atau pemulihan setelah sakit.
Sebagai orang tua, mungkin ada sedikit kekhawatiran saat anak mengalami kelebihan berat badan, tetapi di sisi lain khawatir komentar soal tubuh justru membuat anak minder, takut makan, atau membuat anak merasa bersalah. Karena itu, orang tua perlu tahu tanda-tanda pertumbuhan anak masih sehat atau tidak.
Secara global, kelebihan berat badan pada anak memang menjadi masalah global. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat pada 2024 ada 35 juta anak di bawah usia 5 tahun yang mengalami kelebihan berat badan, dan lebih dari 390 juta anak serta remaja usia 5–19 tahun mengalami overweight.
Table of Content
1. Kapan kenaikan berat badan anak masih dianggap wajar?
Kenaikan berat badan anak masih dianggap wajar kalau:
Orang tua atau pengasuh tidak perlu langsung panik kalau anak tampak lebih berisi.
Pada beberapa fase, anak bisa terlihat lebih gempal dulu, lalu tinggi badannya menyusul. Yang perlu dikhawatirkan adalah kalau berat badan naik cepat dalam beberapa bulan, tetapi tinggi badan tidak ikut naik, atau hasil pengukuran masuk kategori gizi lebih/obesitas di kurva pertumbuhan.
2. Kapan orang tua perlu mulai khawatir?

Waspadalah jika:
- Berat badan anak naik cepat dalam beberapa bulan.
- Pakaian sering terasa sempit tanpa pertambahan tinggi yang seimbang.
- Anak mudah lelah saat aktivitas ringan.
- Mendengkur keras.
- Sering mengantuk siang hari.
- Nyeri lutut atau pinggul.
- Tekanan darah mulai tinggi.
- Ada area kulit menggelap seperti beludru di leher dan lipatan tubuh, yang bisa berkaitan dengan resistensi insulin.
Tanda lain yang penting adalah berat badan naik, tetapi tinggi badan justru melambat.
Obesitas pada anak umumnya tidak perlu pemeriksaan hormonal rutin, kecuali tinggi badan atau kecepatan pertumbuhan anak lebih rendah dari yang diharapkan. Dengan kata lain, berat naik cepat disertai pertumbuhan tinggi yang melambat perlu dievaluasi karena bisa mengarah ke masalah endokrin tertentu.
Kondisi juga perlu lebih diperhatikan jika anak memiliki riwayat keluarga diabetes tipe 2, kolesterol tinggi, hipertensi, penyakit jantung dini, atau jika kenaikan berat badan terjadi setelah konsumsi obat tertentu.
Beberapa obat, kondisi tidur, stres, pola makan keluarga, akses makanan, dan lingkungan yang kurang mendukung aktivitas fisik juga bisa ikut berperan.
Penting bagi orang tua atau pengasuh untuk tidak menjadikan anak sebagai satu-satunya masalah. Obesitas anak adalah kondisi kronis yang kompleks. Penanganannya perlu komprehensif, berbasis keluarga, dan tidak menunda intervensi jika anak sudah memenuhi kriteria overweight atau obesitas.
3. Apa yang sebaiknya dilakukan orang tua?
Hindari langsung menyuruh atau membuat anak diet ketat. Diet terlalu restriktif bisa membuat anak lapar, mudah marah, sembunyi-sembunyi makan, atau punya hubungan buruk dengan makanan.
Lebih aman mulai dari perubahan kecil di rumah, seperti membuat jadwal makan lebih teratur, tambah sayur dan buah, cukup protein, kurangi minuman manis, batasi camilan tinggi gula dan lemak, serta biasakan makan tanpa distraksi layar.
Aktivitas fisik juga penting. Rekomendasinya, anak dan remaja usia 5–17 tahun melakukan rata-rata setidaknya 60 menit aktivitas fisik intensitas sedang hingga berat per hari, terutama aktivitas aerobik. Bermain sepeda, jalan cepat, berenang, menari, main bola, atau aktivitas fisik yang anak suka bisa menjadi awal yang lebih realistis.
Beri perhatian juga pada pola tidur anak. Kurang tidur dapat memengaruhi rasa lapar, pilihan makanan, energi untuk bergerak, dan regulasi metabolik. Tinjauan ilmiah tahun 2024 menyebut durasi tidur pendek pada anak dan remaja berkaitan dengan peningkatan adipositas dan penanda risiko kardiovaskular.
Orang tua sebaiknya membawa anak ke dokter anak jika berat badan naik cepat, BMI berada di kategori overweight atau obesitas, muncul keluhan fisik, ada riwayat keluarga penyakit metabolik, atau anak mulai terganggu secara emosional karena tubuhnya. Dokter dapat menilai grafik pertumbuhan, tekanan darah, tanda resistensi insulin, pola makan, aktivitas, tidur, serta bila perlu pemeriksaan laboratorium.
Referensi
World Health Organization. “Obesity and Overweight.” Diakses Juli 2026.
Centers for Disease Control and Prevention (CDC). “Child and Teen BMI Categories.” Diakses Juli 2026.
Hampl, Sarah E., Sandra G. Hassink, Renee M. Skinner, et al. “Clinical Practice Guideline for the Evaluation and Treatment of Children and Adolescents With Obesity.” Pediatrics 151, no. 2 (2023): e2022060640. https://doi.org/10.1542/peds.2022-060640.
CDC. “Evidence-Based Guidelines for Child Obesity.” May 7, 2024. https://www.cdc.gov/obesity/child-obesity-strategies/evidence-based-guidelines.html.
Styne, Dennis M., Silva A. Arslanian, Ellen L. Connor, et al. “Pediatric Obesity—Assessment, Treatment, and Prevention: An Endocrine Society Clinical Practice Guideline.” The Journal of Clinical Endocrinology & Metabolism 102, no. 3 (2017): 709–757. https://doi.org/10.1210/jc.2016-2573.
Chaput, Jean-Philippe, Fiona C. Bull, Willibald Ruch, et al. “2020 WHO Guidelines on Physical Activity and Sedentary Behaviour for Children and Adolescents Aged 5–17 Years: Summary of the Evidence.” International Journal of Behavioral Nutrition and Physical Activity 17 (2020): 141. https://doi.org/10.1186/s12966-020-01037-z.
Porri, Daniel, Chiara Tonini, Alessandra Iannello, et al. “Preventing and Treating Childhood Obesity by Sleeping Better.” Frontiers in Endocrinology 15 (2024): 1426021. https://doi.org/10.3389/fendo.2024.1426021.
Ikatan Dokter Anak Indonesia. “Kurva Pertumbuhan WHO.” Diakses Juli 2026.
Kementerian Kesehatan RI. "Permenkes Nomor 2 Tahun 2020 tentang Standar Antropometri Anak." Diakses Juli 2026.














![[QUIZ] Cek Risiko Tech Neck dari Cara Kamu Pegang HP](https://image.idntimes.com/post/20260612/pexels-cottonbro-7341879_4da27a07-3486-4d66-b572-3408ee6366e9.jpg)



![[QUIZ] Seberapa Siap Kamu Ikut Race Lari Pertamamu?](https://image.idntimes.com/post/20250917/pexels-olly-3764538_deef61cd-03cb-4fa4-b8c3-7902219ff32d.jpg)


