ilustrasi kulit gatal (pexels.com/Towfiqu barbhuiya)
Asap karhutla merupakan campuran berbagai polutan, termasuk gas, senyawa organik, dan particulate matter (PM). Salah satu yang paling diperhatikan adalah PM2.5, partikel dengan diameter 2,5 mikrometer atau lebih kecil.
Kulit sebenarnya memiliki lapisan pelindung yang membantu mempertahankan kelembapan sekaligus menghalangi iritan dari lingkungan. Pada dermatitis atopik, fungsi lapisan tersebut sudah terganggu.
Tinjauan ilmiah dalam jurnal Science of the Total Environment menemukan bahwa paparan particulate matter dikaitkan dengan gangguan fungsi pelindung kulit, stres oksidatif, dan proses peradangan. Ketiganya diperkirakan berperan dalam hubungan antara polusi udara dan penyakit kulit inflamasi.
Sederhananya, kulit dengan eksim sudah memiliki pertahanan yang kurang optimal. Paparan polutan dari lingkungan berpotensi memberi beban tambahan sehingga kulit lebih mudah meradang dan terasa gatal.
Meski demikian, mekanismenya belum sepenuhnya dipahami dan komposisi asap dari satu kebakaran dapat berbeda dengan kebakaran lainnya.