- Usia
Seiring bertambahnya usia, kondisi kesehatan dan gaya hidup seseorang akan berubah. Orang lanjut usia cenderung lebih sering mengalami sembelit, terutama karena mengonsumsi obat-obatan. - Asupan makanan
Jika seseorang kurang mengonsumsi makanan yang mengandung serat yang cukup, kemungkinan frekuensi BAB menjadi tidak teratur. - Asupan air
Mengonsumsi air yang cukup merupakan hal yang penting. Ketika kekurangan cairan, tinja akan keras dan sulit keluar. - Aktivitas
Sistem pencernaan melakukan gerakan peristaltik untuk mencerna makanan. Dengan berolahraga, kamu membantu proses tersebut berjalan lebih teratur. - Riwayat medis
Seseorang yang memiliki riwayat penyakit tertentu akan lebih mudah mengalami sembelit dan diare, misalnya penyakit radang usus, penyakit seliak, intoleransi laktosa, hingga diabetes melitus.
BAB Normal Berapa Kali Seminggu? Ini Penjelasan Medisnya

- Frekuensi BAB normal berbeda-beda pada setiap orang, umumnya berkisar antara 3 kali sehari hingga 3 kali seminggu.
- Pola BAB dipengaruhi oleh usia, asupan serat dan air, aktivitas fisik, serta kondisi kesehatan.
- Kesehatan pencernaan tidak hanya dilihat dari frekuensi BAB, tetapi juga dari bentuk dan konsistensi feses.
Pernahkah kamu membandingkan frekuensi BAB (buang air besar) kamu dengan orang lain? Mungkin kamu akan bertanya-tanya terkait berapa frekuensi BAB yang normal? Banyak orang yang menganggap bahwa BAB setiap hari itu sehat.
Faktanya, setiap tubuh manusia memiliki ritme yang berbeda. Namun, terlalu lama tidak BAB atau terlalu sering juga bisa menyebabkan masalah kesehatan. Simak pembahasan lebih lengkap mengenai berapa kali BAB yang normal dalam seminggu berikut ini.
1. Berapa frekuensi BAB yang normal?

Waktu yang dibutuhkan oleh setiap orang untuk mencerna makanan sangat bervariasi. Dibutuhkan waktu sekitar 6–8 jam makanan dicerna di lambung dan melewati usus kecil. Kemudian, makanan akan diubah menjadi tinja di usus besar.
Namun, tidak ada frekuensi pasti buang air besar yang bisa dikatakan normal. Sebab, setiap orang memiliki pola BAB yang berbeda sesuai dengan organ pencernaan masing-masing. Biasanya, seseorang yang BAB sekitar 3 kali sehari hingga 3 kali seminggu dianggap normal.
Menurut survei yang dilakukan Healthline dengan lebih dari 2 ribu koresponden menunjukkan sebanyak hampir 50 persen orang BAB setiap hari. Sekitar 28 persen orang BAB 2 kali sehari, sisanya BAB 1 atau 2 kali dalam seminggu. Sementara, untuk waktunya sangat bervariasi. Ada yang pagi, siang, hingga larut malam.
2. Apa yang memengaruhi frekuensi BAB?

Frekuensi BAB ditentukan oleh beberapa faktor. Selain makanan yang dikonsumsi, usia dan riwayat medis juga memengaruhi frekuensi BAB, lho. Berikut fakta yang menentukan frekuensi BAB.
3. Bentuk-bentuk feses

Bentuk tinja atau feses juga bisa dijadikan indikator kesehatan pencernaan. Feses yang encer atau berair dapat mengindikasikan adanya iritasi pencernaan karena feses melewati usus terlalu cepat sehingga tidak menjadi padat. Sebaliknya, feses yang keras dapat menyebabkan wasir.
Umumnya, bentuk tinja mencerminkan bagian dalam usus, yakni menyerupai ular atau sosis. Skala Tinja Bristol (Bristol Stool Form Scale) membantu mengklasifikasikan tinja ke dalam tujuh kelompok. Alat diagnostik ini dikembangkan oleh Dr. Kenneth Heaton pada 1997. Berikut bentuk-bentuk tinja.
- Tipe 1
Feses berbentuk seperti gumpalan kecil padat yang terpisah. Bentuk feses seperti ini menandakan tubuh mengalami sembelit parah. - Tipe 2
Feses berbentuk sosis yang menggumpal, menandai sedang mengalami sembelit ringan. - Tipe 3
Feses mirip dengan sosis dengan retakan di permukaannya, menandai tubuh sehat dan normal. - Tipe 4
Feses mirip dengan sosis, tapi permukaannya yang halus dan lembut. Bentuk ini menandai tubuh sedang sehat. - Tipe 5
Feses berbentuk gumpalan lunak dengan tepi berwarna cerah yang menandakan tubuh kekurangan serat. - Tipe 6
Feses lembek yang tampak seperti potongan-potongan lembut dengan tepi bergerigi, menandai tubuh mengalami diare ringan. - Tipe 7
Feses cair tanpa potongan padat yang menandai tubuh mengalami diare parah.
4. Tanda-tanda gangguan BAB yang perlu diperiksakan ke dokter

Perubahan pada kondisi tubuh, aktivitas, dan pola makan dapat membuat frekuensi BAB berubah. Perubahan tersebut bisa menjadi hal wajar karena dapat kembali normal. Namun, kamu perlu waspada dan berkonsultasi pada dokter jika perubahan berlangsung lebih dari seminggu yang disertai beberapa gejala. Adapun, gejala-gejalanya:
- diare berdarah,
- feses berwarna hitam,
- pendarahan terus-menerus dari anus,
- nyeri perut hebat,
- muntah darah seperti ampas kopi,
- tidak buang air besar selama lebih dari 3 hari.
Dapat disimpulkan bahwa frekuensi BAB setiap orang berbeda-beda. Jika, kamu BAB 3 kali sehari atau 3 kali dalam seminggu, itu bisa dianggap normal. Sebab, indikator kesehatan usus bukan hanya diukur dari frekuensi BAB. hal tersebut juga bisa dilihat dari tampilan tinja itu sendiri.
Referensi
“How Often and How Long Should It Take You to Poop?”. Cleveland Clinic Health Essentials. Diakses Februari 2026.
“How Many Times Should You Poop a Day?”. Healthline. Diakses Februari 2026.
“How often should someone poop each day?”. Medical News Today. Diakses Februari 2026.
“What to know about the Bristol Stool Form Scale”. Medical News Today. Diakses Februari 2026.

















