Batuk setelah terpapar asap tidak selalu berarti ada infeksi bakteri. Iritasi akibat asap dan kekambuhan asma bukan kondisi yang otomatis membutuhkan antibiotik. Sebaliknya, jika dokter mencurigai pneumonia bakteri, antibiotik dapat menjadi bagian dari pengobatan. Keputusan bergantung pada penilaian klinis dan dugaan penyebabnya.
“Paparan polutan bisa menimbulkan bronkitis akibat iritan. Karena itu, kita harus memilah mana yang perlu antibiotik dan mana yang tidak,” ujar dr. Khairiyadi. Antibiotik sebaiknya tidak diberikan tanpa arahan tenaga kesehatan.
Penelitian membantu menjelaskan mengapa asap perlu diwaspadai, tetapi tidak dapat menentukan penyebab batuk seorang anak. Studi lintas delapan negara dan wilayah menemukan bahwa kenaikan PM2.5 yang berasal dari kebakaran berkaitan dengan peningkatan rawat inap akibat asma dan pneumonia. Studi di Palembang juga menemukan hubungan antara PM2.5 dan jumlah kasus pneumonia anak.
Jika anak tampak sulit bernapas, napasnya cepat atau ada tarikan dinding dada, segera bawa untuk diperiksa oleh dokter. Pemeriksaan membantu dokter menentukan apakah keluhan lebih mengarah pada iritasi, asma, infeksi, atau kombinasi beberapa kondisi.
Referensi
Mary E. Crocker and Jonathan D. Cogen, “Wildfire Smoke and Pediatric Lung Health: What the Clinician Needs to Know,” Pediatric Pulmonology 61, no. 2 (2026): e71484, https://doi.org/10.1002/ppul.71484.
World Health Organization, "Pneumonia in Children," fact sheet, diakses 3 November 2026.
Yiwen Zhang et al., “Respiratory Risks from Wildfire-Specific PM2.5 across Multiple Countries and Territories,” Nature Sustainability 8, no. 5 (2025): 474–84, https://doi.org/10.1038/s41893-025-01533-9.
Budi Haryanto et al., “Climate Change Adaptation to Smoke Haze for Improved Child Health in Southeast Asia: Analysis Situation in Palembang, Indonesia,” Annals of Global Health 92, no. 1 (2026): 52, https://doi.org/10.5334/aogh.5211.