Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
ilustrasi anak mengalami batuk akibat paparan karhutla (vecteezy.com/Puwadon Sang-ngern)
  • Asap karhutla dapat mengiritasi saluran napas, memicu asma, dan berkaitan dengan peningkatan kasus pneumonia.

  • Waktu munculnya gejala, demam, dan mengi bisa menjadi petunjuk bagi dokter, tetapi tidak cukup untuk memastikan diagnosis.

  • Antibiotik tidak otomatis diperlukan untuk batuk akibat iritasi atau asma. Penggunaannya bergantung pada hasil pemeriksaan dan dugaan penyebab penyakit.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Batuk pada anak yang muncul saat kabut asap menyelimuti rumah bisa membuat orang tua ataupun pengasuh khawatir dan bertanya-tanya apakah anak hanya mengalami iritasi, asmanya kambuh, atau terkena pneumonia?

Ketiganya dapat menimbulkan batuk dan sesak. Asap juga bisa memicu peradangan saluran napas tanpa infeksi, sementara infeksi yang menyebabkan pneumonia dapat terjadi bersamaan.

Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Dr. dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp.Kardio(K), dokter spesialis anak konsultan jantung anak,mengingatkan bahwa penanganan gejala tidak menggantikan upaya menghentikan sumber asap.

“Penggunaan masker, diam di rumah, itu bukan solusi utama. Itu hanya sementara. Solusi utamanya adalah pemadaman kebakaran hutan dan lahan sesegera mungkin, karena negara wajib menyediakan udara bersih sebagai hak asasi setiap warga negara,” ujar Dr. Piprim dalam seminar media IDAI pada Selasa (3/11).

Tiga kemungkinan penyebab batuk setelah terpapar asap

Dokter anak konsultan respirologi dari Unit Kerja Koordinasi (UKK) Respirologi IDAI, dr. Khairiyadi, M.Kes, Sp.A, Subsp.Respi(K), menjelaskan bahwa waktu munculnya keluhan dan gejala lain dapat memberi petunjuk.

Kemungkinan penyebab

Kapan gejala bisa muncul

Petunjuk yang dinilai dokter

Pneumonitis akibat iritan

Sering segera setelah paparan asap berat

Batuk, napas cepat atau sesak. Demam biasanya tidak dominan, meski mengi dapat terjadi.

Eksaserbasi asma

Menit hingga beberapa jam setelah terpapar pemicu

Mengi sering lebih menonjol, disertai batuk atau sesak. Demam biasanya bukan ciri utama, kecuali ada infeksi bersamaan.

Pneumonia akibat infeksi

Umumnya berkembang dalam hitungan jam hingga hari

Batuk dan napas cepat atau sulit; demam sering muncul, tetapi tidak selalu. Mengi juga bisa terjadi, terutama pada infeksi virus.

Pneumonitis akibat iritan adalah peradangan pada paru-paru atau saluran napas setelah menghirup zat pemicu, seperti partikel dan gas dalam asap. Kondisi ini berbeda dari pneumonia yang disebabkan infeksi. Sementara itu, asap dapat memicu penyempitan saluran napas pada anak dengan asma.

“Petunjuknya bukan berarti diagnosis, hanya sebagai petunjuk. Pneumonitis iritan sering muncul segera setelah paparan berat, dan demam biasanya tidak dominan. Pada eksaserbasi asma, mengi sering lebih menonjol dan muncul dalam hitungan menit sampai jam. Sementara pneumonia infeksius biasanya berkembang dalam hitungan hari; demam sering ada, tetapi tidak selalu,” jelas dr. Khairiyadi.

Kenapa gejalanya tidak cukup untuk memastikan penyebab?

Dokter Khairiyadi, M.Kes, Sp.A, Subsp.Respi(K) - Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Respirologi IDAI.

Dijelaskan oleh dr. Khairiyadi, anak dengan pneumonia tidak selalu mengalami demam, dan mengi bukan cuma ditemukan pada asma. Pada pneumonia, pemeriksaan foto toraks juga dapat terlihat normal pada fase awal.

Karena itu, dokter akan menilai kondisi anak secara menyeluruh, termasuk pola napas, ada tidaknya tarikan dinding dada, kadar oksigen, dan hasil pemeriksaan lain jika diperlukan.

Pada anak usia di bawah 5 tahun, napas cepat atau tarikan dinding dada bagian bawah merupakan tanda penting dalam penilaian pneumonia pada anak yang batuk atau sulit bernapas. Tanda-tanda ini tetap perlu dinilai oleh dokter.

Antibiotik tidak otomatis diberikan

Batuk setelah terpapar asap tidak selalu berarti ada infeksi bakteri. Iritasi akibat asap dan kekambuhan asma bukan kondisi yang otomatis membutuhkan antibiotik. Sebaliknya, jika dokter mencurigai pneumonia bakteri, antibiotik dapat menjadi bagian dari pengobatan. Keputusan bergantung pada penilaian klinis dan dugaan penyebabnya.

“Paparan polutan bisa menimbulkan bronkitis akibat iritan. Karena itu, kita harus memilah mana yang perlu antibiotik dan mana yang tidak,” ujar dr. Khairiyadi. Antibiotik sebaiknya tidak diberikan tanpa arahan tenaga kesehatan.

Penelitian membantu menjelaskan mengapa asap perlu diwaspadai, tetapi tidak dapat menentukan penyebab batuk seorang anak. Studi lintas delapan negara dan wilayah menemukan bahwa kenaikan PM2.5 yang berasal dari kebakaran berkaitan dengan peningkatan rawat inap akibat asma dan pneumonia. Studi di Palembang juga menemukan hubungan antara PM2.5 dan jumlah kasus pneumonia anak.

Jika anak tampak sulit bernapas, napasnya cepat atau ada tarikan dinding dada, segera bawa untuk diperiksa oleh dokter. Pemeriksaan membantu dokter menentukan apakah keluhan lebih mengarah pada iritasi, asma, infeksi, atau kombinasi beberapa kondisi.

Referensi

Mary E. Crocker and Jonathan D. Cogen, “Wildfire Smoke and Pediatric Lung Health: What the Clinician Needs to Know,” Pediatric Pulmonology 61, no. 2 (2026): e71484, https://doi.org/10.1002/ppul.71484.

World Health Organization, "Pneumonia in Children," fact sheet, diakses 3 November 2026.

Yiwen Zhang et al., “Respiratory Risks from Wildfire-Specific PM2.5 across Multiple Countries and Territories,” Nature Sustainability 8, no. 5 (2025): 474–84, https://doi.org/10.1038/s41893-025-01533-9.

Budi Haryanto et al., “Climate Change Adaptation to Smoke Haze for Improved Child Health in Southeast Asia: Analysis Situation in Palembang, Indonesia,” Annals of Global Health 92, no. 1 (2026): 52, https://doi.org/10.5334/aogh.5211.

Curated For You

Editorial Team

Related Article