Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Benarkah Kopi Menyebabkan Batu Ginjal? Ini Fakta Ilmiahnya

Benarkah Kopi Menyebabkan Batu Ginjal? Ini Fakta Ilmiahnya
ilustrasi kopi (unsplash.com/Nathan Dumlao)
Intinya Sih
  • Penelitian menunjukkan konsumsi kopi dalam jumlah wajar tidak selalu meningkatkan risiko batu ginjal, bahkan bisa menurunkannya jika disertai gaya hidup sehat dan hidrasi cukup.
  • Kafein bersifat diuretik yang membantu pembuangan zat sisa tubuh, namun efeknya bisa negatif bila tidak diimbangi dengan asupan air putih yang memadai.
  • Faktor seperti gula, krimer berlebih, serta pola makan tinggi garam dan protein lebih berpengaruh terhadap risiko batu ginjal dibanding kopi itu sendiri.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Bagi banyak orang, kopi sudah jadi bagian dari rutinitas harian yang sulit dilewatkan, entah itu untuk memulai pagi atau menemani kerja. Rasanya, tanpa secangkir kopi, hari terasa kurang lengkap dan energi pun seperti belum terkumpul sepenuhnya. Namun di balik kebiasaan ini, muncul kekhawatiran yang cukup sering dibahas, yaitu apakah minum kopi bisa memicu batu ginjal

Apalagi, informasi yang beredar sering kali tidak konsisten dan membuat orang sulit membedakan mana yang benar dan mana yang sekadar mitos. Hal ini akhirnya membuat sebagian orang merasa bimbang untuk tetap mengonsumsi kopi seperti biasanya. Supaya tidak keliru dalam memahami, yuk simak penjelasan ilmiahnya di artikel ini!


1. Kopi sering dituduh jadi penyebab, tapi benarkah?

ilustrasi menikmati kopi
ilustrasi menikmati kopi (freepik.com/jcomp)

Banyak orang cenderung langsung menghubungkan konsumsi kopi dengan risiko batu ginjal karena adanya kandungan tertentu di dalamnya. Ditambah lagi, beredar anggapan bahwa kopi dapat meningkatkan kadar zat yang berperan dalam pembentukan batu. Padahal, jika dilihat dari sisi ilmiah, kaitan antara kopi dan batu ginjal sebenarnya tidak sesederhana yang sering dipahami.

Beberapa penelitian justru menunjukkan bahwa konsumsi kopi dalam jumlah wajar tidak selalu meningkatkan risiko, bahkan bisa berkaitan dengan penurunan risiko pada beberapa kasus. Kesalahpahaman ini sering membuat orang langsung berhenti minum kopi tanpa memahami konteksnya. Jadi, penting untuk melihat fakta secara menyeluruh sebelum menyimpulkan apakah kopi benar-benar berbahaya.


2. Kandungan kafein dan efeknya pada tubuh

ilustrasi buang air kecil
ilustrasi buang air kecil (magnific.com/jcomp)

Saat mengonsumsi kopi, tubuh akan mendapatkan kafein yang dapat merangsang peningkatan produksi urine atau bersifat diuretik. Sekilas, kondisi ini sering dianggap negatif karena dikaitkan dengan risiko dehidrasi. Namun, jika dikonsumsi dalam jumlah yang wajar, efek tersebut justru membantu tubuh mengeluarkan zat sisa melalui urine dengan lebih optimal.

Jika tubuh terhidrasi dengan baik, risiko pembentukan kristal yang menjadi batu ginjal bisa berkurang. Masalahnya muncul ketika konsumsi kopi tidak diimbangi dengan asupan air putih yang cukup. Karena itu, kunci utamanya bukan menghindari kopi sepenuhnya, tapi menjaga keseimbangan cairan tubuh.


3. Gula dan krimer, faktor yang sering terlupakan

ilustrasi gula dengan tampilan putih cerah dan tidak kusam
ilustrasi gula dengan tampilan putih cerah dan tidak kusam (unsplash.com/Immo Wegmann)

Banyak orang minum kopi bukan dalam bentuk hitam, melainkan dengan tambahan gula, susu, atau krimer. Tanpa disadari, justru tambahan inilah yang bisa berdampak pada kesehatan jika dikonsumsi berlebihan. Asupan gula tinggi dapat memengaruhi metabolisme tubuh dan berkontribusi pada berbagai masalah kesehatan, termasuk yang berkaitan dengan ginjal. 

Jika kebiasaan ini berlangsung terus-menerus, potensi munculnya gangguan kesehatan dapat meningkat secara bertahap tanpa disadari. Kondisi ini sering membuat kopi terlihat sebagai penyebab utama, padahal yang lebih berpengaruh justru bahan tambahan di dalamnya. Karena itu, memilih kopi dengan sedikit atau tanpa tambahan bisa menjadi pilihan yang lebih bijak.


4. Kurang minum air jadi kebiasaan yang sering terjadi

ilustrasi minum air putih
ilustrasi minum air putih (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Sering kali orang merasa sudah cukup minum karena mengonsumsi kopi beberapa kali sehari. Padahal, kopi tidak bisa sepenuhnya menggantikan kebutuhan cairan dari air putih. Ketika tubuh kekurangan cairan, urine menjadi lebih pekat dan berisiko membentuk kristal yang bisa berkembang menjadi batu ginjal. 

Kebiasaan ini cukup sering terjadi, terutama pada orang dengan aktivitas padat yang jarang minum air putih. Dalam jangka panjang, kondisi ini bisa meningkatkan risiko gangguan pada ginjal. Untuk menghindarinya, pastikan kamu tetap mencukupi kebutuhan air putih meski rutin minum kopi. 


5. Pola makan lebih berpengaruh dari yang dikira

ilustrasi seorang wanita yang sedang makan siang
ilustrasi seorang wanita yang sedang makan siang (freepik.com/lifeforstock)

Banyak yang fokus pada kopi, tapi lupa bahwa pola makan secara keseluruhan punya peran besar terhadap kesehatan ginjal. Konsumsi makanan tinggi garam, protein berlebih, atau rendah serat bisa meningkatkan risiko terbentuknya batu ginjal. Jika kebiasaan makan tidak dijaga, efeknya bisa lebih signifikan dibanding sekadar minum kopi. 

Sayangnya, hal ini kerap terlewat karena kopi sering dijadikan kambing hitam yang paling mudah disorot. Padahal, kesehatan ginjal dipengaruhi oleh banyak faktor yang saling berkaitan, bukan hanya dari satu jenis minuman saja. Karena itu, membenahi pola makan secara keseluruhan justru menjadi langkah yang lebih efektif dan berdampak jangka panjang.


6. Kunci utamanya ada pada pola dan batas konsumsi

ilustrasi kopi susu
ilustrasi kopi susu (pexels.com/Muhammad Renaldi)

Pada akhirnya, hampir semua hal bisa menimbulkan dampak jika dikonsumsi tanpa batas, termasuk kopi. Mengonsumsi beberapa cangkir kopi per hari umumnya masih tergolong aman bagi kebanyakan orang yang sehat. Namun, jika jumlahnya berlebihan dan tidak diimbangi dengan pola hidup yang baik, potensi risikonya tentu akan meningkat.

Setiap orang juga punya kondisi tubuh yang berbeda, sehingga toleransinya tidak selalu sama. Karena itu, penting untuk memahami batas konsumsi yang sesuai dengan kondisi masing-masing. Dengan pola yang seimbang, kopi tetap bisa dinikmati tanpa perlu rasa khawatir berlebihan.

Kunci utama bukan menghindari kopi sepenuhnya, melainkan memahami batas dan cara konsumsinya dengan bijak. Dengan keseimbangan antara pola makan, hidrasi, dan gaya hidup sehat, risiko masalah pada ginjal bisa ditekan tanpa harus meninggalkan kebiasaan minum kopi. Jadi, nikmati kopimu secukupnya, sambil tetap menjaga kesehatan tubuh secara menyeluruh.

Referensi

“Peran Kafein Sebagai Faktor Risiko Atau Agen Protektif dalam Pembentukan Batu Ginjal: Tinjauan Sistematis.” Jurnal Keperawatan Muhammadiyah. Diakses Mei 2026.

“Efek Seduhan Kopi (Coffea Canephora) dan Teh Hitam terhadap Gambaran Histopatologis Ginjal Tikus Putih.” Jurnal Analis Kesehatan. Diakses Mei 2026.

“Pengaruh Frekuensi Konsumsi Kopi Robusta terhadap Gambaran Histopatologi dan Biokimia Ginjal pada Tikus Putih.” Jurnal Ilmu Kesehatan Bhakti Husada. Diakses Mei 2026.

“Edukasi Tentang Bahaya Konsumsi Kopi yang Mengandung Kafein pada Kesehatan Ginjal.” Jurnal Abdimas Mutiara. Diakses Mei 2026.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Izza Namira
EditorIzza Namira

Related Articles

See More