Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Cara Masak Daging Sapi Kurban agar Kolesterol Tidak Ikut Melonjak

Cara Masak Daging Sapi Kurban agar Kolesterol Tidak Ikut Melonjak
ilustrasi cara masak daging sapi kurban (pexels.com/RDNE Stock project)
Intinya Sih
  • Artikel menyoroti pentingnya teknik memasak daging sapi kurban yang tepat agar kadar kolesterol tidak meningkat, termasuk perebusan dua tahap dan penggunaan api sedang untuk menjaga kualitas lemak.
  • Pemilihan potongan daging rendah lemak, cara memanggang tanpa minyak berlebih, serta marinasi alami disarankan agar hidangan tetap gurih namun lebih ringan bagi tubuh.
  • Penambahan sayur dan buah berserat, pembatasan pemanasan ulang masakan, serta pengelolaan sisa lemak dianjurkan untuk menjaga keseimbangan nutrisi setelah konsumsi daging kurban.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Daging sapi sering menjadi menu utama setelah pembagian kurban, tetapi banyak orang mulai lebih berhati-hati karena khawatir kadar kolesterol ikut naik saat konsumsi berlebihan. Kekhawatiran itu sebenarnya bukan hanya soal jumlah daging yang dimakan, melainkan juga cara mengolahnya sejak awal hingga matang.

Banyak masakan rumahan terasa berat di tubuh bukan karena daging sapi itu sendiri, melainkan kombinasi santan pekat, minyak berulang pakai, hingga proses memasak terlalu lama pada suhu tinggi. Karena itu, mengolah daging dengan teknik yang lebih tepat bisa membantu tubuh tetap nyaman tanpa harus mengurangi kenikmatan makan saat Idul Adha. Berikut beberapa cara yang bisa diterapkan supaya olahan daging sapi terasa lebih ringan tanpa kehilangan rasa gurihnya.

1. Rebus daging sapi dengan dua tahap perebusan

ilustrasi merebus daging
ilustrasi merebus daging (vecteezy.com/Muhammad Yahya)

Banyak orang langsung menggunakan air rebusan pertama untuk kuah, padahal lapisan lemak dan sisa kotoran justru paling banyak keluar pada tahap awal perebusan. Cara sederhana yang sering dipakai di dapur rumah sakit adalah membuang air rebusan pertama setelah lima sampai tujuh menit mendidih, lalu menggantinya dengan air baru untuk melanjutkan proses memasak. Teknik ini membantu mengurangi endapan lemak yang larut di permukaan kuah tanpa membuat tekstur daging berubah alot. Selain itu, aroma khas daging sapi yang terlalu kuat biasanya juga akan ikut berkurang sehingga rasa masakan menjadi lebih bersih.

Kesalahan yang cukup sering terjadi ialah merebus daging terlalu lama menggunakan api besar karena dianggap bisa mempercepat empuk. Padahal suhu tinggi terus-menerus membuat lemak lebih mudah pecah ke kuah dan memberi sensasi enek saat dimakan. Api sedang justru membantu daging matang lebih merata tanpa membuat seratnya keras. Jika ingin kuah tetap gurih, tambahkan bawang putih, lada, daun salam, atau jahe daripada menambahkan kaldu instan berlebihan yang tinggi sodium.

2. Pilih bagian daging sapi yang lemaknya tidak menumpuk

ilustrasi has dalam
ilustrasi has dalam (commons.wikimedia.org/stu_spivack)

Tidak semua potongan daging sapi memiliki kandungan lemak yang sama, tetapi banyak orang memilih berdasarkan tekstur empuk tanpa memperhatikan bagian tubuh sapi asal daging tersebut. Potongan daging seperti has dalam, gandik, atau sengkel cenderung memiliki lapisan lemak lebih tipis dibanding sandung lamur atau iga. Bagian berlemak memang terasa lebih juicy, tetapi kandungan lemak jenuhnya juga lebih tinggi ketika dimasak dengan santan atau minyak banyak. Karena itu, pemilihan potongan daging sebenarnya sudah menjadi langkah awal supaya masakan terasa lebih aman bagi tubuh.

Cara memotong daging juga berpengaruh pada jumlah lemak yang ikut termakan. Lapisan putih di pinggir daging sering dibiarkan karena dianggap memberi rasa gurih alami, padahal bagian itulah yang paling banyak menyimpan lemak jenuh. Memisahkan sebagian lemak sebelum dimasak bisa membantu kuah tidak terlalu berminyak saat dingin. Jika tetap ingin tekstur lembut, daging dapat dimarinasi menggunakan nanas, kiwi, atau yogurt plain dalam waktu singkat supaya seratnya lebih lunak tanpa perlu tambahan lemak.

3. Pilih memanggang agar tidak menggunakan banyak minyak

ilustrasi memanggang daging
ilustrasi memanggang daging (pexels.com/Mihaela Claudia Puscas)

Olahan daging sapi yang digoreng setelah direbus biasanya menyerap lebih banyak minyak dibanding teknik panggang atau air fryer. Proses memanggang membuat lemak alami dari daging menetes keluar selama pemanasan sehingga hasil akhirnya terasa lebih ringan saat dimakan. Teknik ini juga membantu permukaan daging menghasilkan rasa gurih alami tanpa harus memakai margarin berlebihan. Karena itu, sate atau daging panggang sebenarnya bisa menjadi pilihan lebih baik dibanding balado daging yang dimasak lama dengan minyak banyak.

Bumbu oles juga perlu diperhatikan karena banyak saus instan mengandung gula dan sodium cukup tinggi. Supaya rasa tetap kuat tanpa membuat masakan terasa berat, gunakan campuran bawang putih, ketumbar, sedikit kecap, dan jeruk nipis sebagai marinasi dasar. Hindari membakar daging sampai terlalu hitam karena bagian gosong dapat menghasilkan senyawa yang kurang baik bagi tubuh jika dikonsumsi terus-menerus. Memanggang perlahan sambil membolak-balik daging secara rutin jauh lebih aman dibanding membiarkannya terkena bara terlalu lama.

4. Tambahkan serat pendamping saat menyajikan daging

ilustrasi olahan daging kurban
ilustrasi olahan daging kurban (pexels.com/Luis Becerra Fotógrafo)

Masalah setelah makan daging sapi sering kali bukan hanya kolesterol, tetapi rasa penuh dan begah karena porsi protein jauh lebih besar dibanding sayur. Banyak menu Idul Adha berisi daging, kuah santan, kerupuk, lalu nasi dalam jumlah besar tanpa pendamping tinggi serat. Padahal sayuran segar membantu memperlambat penyerapan lemak dan membuat tubuh terasa lebih nyaman setelah makan. Timun, tomat, daun selada, atau tumis buncis sederhana bisa membantu menyeimbangkan isi piring tanpa mengurangi kenikmatan hidangan utama.

Buah tertentu juga bisa membantu tubuh terasa lebih ringan setelah mengonsumsi makanan tinggi lemak. Nanas dan pepaya misalnya, mengandung enzim yang sering dikaitkan dengan proses pencernaan protein lebih nyaman. Karena itu, menyajikan buah setelah makan daging bukan hanya soal pencuci mulut, melainkan membantu tubuh tidak terasa terlalu berat. Kebiasaan sederhana seperti memperbanyak air putih juga sering dilupakan padahal penting untuk membantu metabolisme setelah konsumsi makanan tinggi garam dan lemak.

5. Hindari memanaskan ulang gulai berkali-kali

ilustrasi memanaskan gulai
ilustrasi memanaskan gulai (pexels.com/Muhammad Khawar Nazir)

Satu kebiasaan yang sering terjadi setelah Idul Adha ialah memanaskan gulai atau semur berulang kali selama beberapa hari supaya tidak cepat basi. Semakin sering dipanaskan, lapisan minyak biasanya makin terlihat menggenang di permukaan karena lemak terus terpisah dari kuah. Kondisi ini membuat masakan terasa lebih berat meski porsinya sedikit. Selain memengaruhi rasa, proses pemanasan berulang juga dapat menurunkan kualitas beberapa kandungan gizi dalam makanan.

Cara yang lebih aman ialah membagi masakan ke beberapa wadah kecil sebelum disimpan di kulkas. Dengan begitu, makanan cukup dipanaskan sesuai kebutuhan tanpa memanaskan seluruh panci berkali-kali. Jika kuah terlihat terlalu berminyak setelah didinginkan, ambil lapisan lemak yang membeku di bagian atas sebelum dipanaskan kembali. Langkah sederhana seperti ini sering dianggap sepele, padahal cukup membantu mengurangi asupan lemak tambahan yang tidak disadari.

Mengolah daging sapi dengan cara yang lebih tepat bukan berarti harus menghilangkan cita rasa khas masakan Idul Adha. Perubahan kecil sejak memilih potongan daging hingga teknik memasak justru membuat tubuh terasa lebih nyaman setelah makan. Jadi, dari berbagai cara tadi, kebiasaan mana yang paling sering terlewat saat memasak daging sapi di rumah?

Referensi

"How Should Sacrificial Meat Be Cooked? Healthy Tips from Dietitian Cemile Gül." EGEKENT Hospital. Diakses pada Mei 2026

"How to consume sacrificial meat."NP Istanbul. Diakses pada Mei 2026

"Eating Qurbani Meat Without Worrying About Cholesterol, IPB University Nutrition Professor Shares Tips." IPB. Diakses pada Mei 2026

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Topics
Editorial Team
Izza Namira
EditorIzza Namira

Related Articles

See More